WEALTH

When wealth is lost, nothing is lost; when health is lost, something is lost; when character is lost, all is lost.

SEEKING

The real voyage of discovery consists not in seeking new landscapes, but in having new eyes.

SMOKE

One may have a blazing hearth in one's soul and yet no one ever came to sit by it. Passers-by see only a wisp of smoke from the chimney and continue on their way.

WEAPON

The most valuable possession you can own is an open heart. The most powerful weapon you can be is an instrument of peace.

SORENESS

Holding on to anger, resentment and hurt only gives you tense muscles, a headache and a sore jaw from clenching your teeth. Forgiveness gives you back the laughter and the lightness in your life.

Kamis, 22 Desember 2011

GELAP ‘NYA


GELAP ‘NYA
Sebuah Cerita Pendek Oleh : DENY JOE

Mereka tarik menarik… Mereka saling adu kuat!!
“Bruk…!”
Seketika ‘Nya membantingkan bokongnya kelantai, dan menyandarkan punggungnya ketembok. Sepatu merah maroon tanpa tali perlahan dilepasnya dengan jari-jari yang kaku. Tersingkap warna biru keunguan dibetis ‘Nya yang bersih. Pantas saja tadi ketika turun dari angkot warna biru langit kemudian ‘Nya jalan menelusuri gang menuju kamarnya agak sedikit ngilu dan terlihat pincang. ‘Nya Cuma tersenyum getir melihatnya. ‘Nya berfikir kalau itu tak seberapa dibanding dengan lebam yang ada di lengan juga pelipisnya yang jelas terlihat dan jelas terasa sangat sakit.
Tak banyak bayang-bayang yang bisa ditangkap oleh mata maupun pikiran ‘Nya. Hening seakan menikmati desiran angin dari rotasi baling-baling kipas kecil yang bersuara kasar. Gemeretak tikus mondok yang menggerogoti makannya di bak sampah depan kamar menjadi irama, bersinergi dengan detak detik jam dinding kotak bermotif bunga yang menunjukkan angka malam. Cicak-cicak pun mulai genit, bersahutan berdecakan mencoba mengambil bagian dalam orkestrasi irama malam ini. Mata ‘Nya yang kosong semakin mengabut, entah kabut dari mana? Gunung Bromo, Pangrango, atau Papandayan mungkin? Perlahan dan sedikit demi sedikit mata ‘Nya mulai mengatup, dan binarnya mulai padam.
Sesekali ‘Nya mengerjapkan matanya, sepertinya dia memastikan kalau dirinya sadar kalau saat ini dia sedang berbaring ditengah ruangan seperti kubus yang sempit. Bagian kulitnya yang terbuka terasa dingin karena bersentuhan dengan lantai tanpa alas. Tetapi dalam lepas dan mengendornya kerutan didahi ‘Nya seperti ada perasaan lega dan nyaman melingkupinya.
Tiba-tiba ada tangan yang menyentuh pipinya. Terasa hangat, desir aliran darah seperti menjalar kesetiap sendinya. ‘Nya diam, dan menikmati belaian tangan itu. Kemudian ‘Nya mulai merasakan hal yang aneh, ketika belaian tangan yang hangat tadi berganti hembusan nafas yang semakin mendekat ke wajahnya. Dekat dan semakin dekat! Sampai akhirnya tak bisa dihindari ketika bibir ‘Nya terpagut dengan nafas yang kini sudah mendekap.
“Heyy!!!! Kenapa kamu ada disini????”
‘Nya menoleh dan terkejut setengah mati ketika mendapati seorang laki-laki dengan mata yang tajam memperhatikannya. Wajah ‘Nya terlihat cantik tetapi kaku dan membeku seperti air yang disimpan dalam frezer membentuk batu es.
“Kenapa kamu bisa ada disini?” ‘Nya mengulagi pertanyaannya.
Laki-laki itu diam tak menjawab. Matanya yang tajam masih saja memandangi wajah ‘Nya yang dingin. Perlahan matanya mulai memutar dan berputar meneliti tiap inci ruang kubus dengan lekat dan teliti walau terlihat bingung.
“Entahlah…. Aku tidak ingat apa-apa. Yang aku tau aku hanya berlari dan berhenti ketika aku terhalang tembok. Kemudian aku berteriak sekencang-kencangnya, beseru kepada alam semesta. Dan entah bagaimana caranya, tiba-tiba semuanya berubah, segalanya menjadi ringan dan mudah. Dan aku bisa lakukan dan dapatkan apa yang aku inginkan.”
‘Nya mengerutkan keningnya membentuk guratan bingung. semakin berkerut bingung semakin ‘Nya meringis ketika kulit dahinya terkondensasi dan menarik lebam di pelipisnya. Dalam bingungnya ‘Nya kembali terkejut ketika indera penciumnya mengendus asap hangat yang menguap dari kepulan teh panas beraroma melati. Sedap sekali!
“Ini teh panas buat kamu cantik!” Laki-laki itu menyodorkan cangkir yang masih mengepulkan wangi yang menyeruak kesetiap sudut ruang kubus itu.
Kebingungan ‘Nya semakin menjadi, dia yakin matanya belum sempat berkedip menatap laki-laki itu, darimana laki-laki itu mendapatkan secangkir teh panas? Kenapa tiba-tiba saja dia menyodorkannya kepada ‘Nya? Mungkinkah laki-laki itu telah menjadi seorang illusionis seperti yang sering muncul dalam acara magic di televisi?
“Ini minumlah!” laki-laki itu mengembangkan senyumnya.
“Terima Kasih.”
Di raihnya cangkir dengan kedua tangan ‘Nya, tanpa mengurut waktu panas dari cangkir teh menjalar ke ari tangan ‘Nya menembus kedalam jaringan epidermis kulit ‘Nya. Bibirnya yang merah perlahan menempel dengan bibir cangkir berisi teh dan meniupnya sesekali. Aroma melati dari seduhan teh dalam cangkir beradu dengan wangi nafas ‘Nya.
Mata ‘Nya kembali berbinar, aliran darah semakin terasa berdesir mengalir dalam jaringan urat ‘Nya. Roh ‘Nya seakan utuh kembali.
“Maaf aku tadi benar-benar gelap, aku mencari cahaya dan meninggalkanmu dengan membanting pintu tanpa sepatah kata.” ‘Nya berkata lirih.
“Tak apa.. aku ada disini sekarang, kan? Mungkin tadi kamu terkoptasi oleh persepsi, pikiran, pembayang, dan pengingat subyektif yang akhirnya membentuk emosi. Dan seketika emosi itu aktif, emosi dan kognisi akan saling mempengaruhi satu sama lain dan pada akhirnya memuncak seperti tadi, aku tidak menyalahkan kamu, karena mungkin aku juga begitu.” Laki-laki itu menegaskan.
Laki-laki itu kemudian tersenyum, matanya masih belum lepas memandang wajah ‘Nya. Dan kemudian tanganya meraih tangan ‘Nya yang menggenggam cangkir teh. Laki-laki itu terpejam seolah merasakan kehangatan dari Konduksi perpindahan panas dari air teh ke cangkir, cangkir ke tangan ‘Nya, dan tangan ‘Nya ke tangan laki-laki itu.
Sekali lagi wajah ‘Nya dan wajah laki-laki itu berdekatan semakin dekat, mata mereka saling menatap, hidung mereka pun akhirnya ber besekan, Bibir mereka saling berpagut, lidah dengan lidah, tak ada lagi jarak diantara mereka, mereka seakan satu.
‘Nya tersenyum kemudian menundukan kepalanya. Matanya yang jernih terlihat berkaca-kaca. Laki laki itu kemudian mengambil cangkir teh dari tangan ‘Nya dan meletakannya. ‘Nya masih menuntuk dan mematung, kaca-kaca air dimatanya masih belum pecah. Sampai ketika laki-laki iru meraih tubuh dan memeluk ‘Nya, tanpa sadar air mata ‘Nya tertumpah, mengalir menganak sungai membelah pipi, membasahi lesung pipit ‘Nya. Hanya suara isak yang keluar dari mulut ‘Nya. Laki-laki itu memeluk ‘Nya erat, dan ‘Nya membalasnya lebih erat lagi.
“Sudahlah… setiap kejadian pasti ada tujuannya. Terlalu cetek otak kita untuk bias menerka kuasa khalik.”
Getaran suara laki-laki itu seakan menggema di telinga ‘Nya, ‘Nya merasakan nafasnya tersenggal-senggal, seakan dadanya terhimpit bukit, panas bergolak seperti akan segera meletus. Tapi dekapan laki-laki itu seolah membendung segalanya. Ruang kubus menjadi semakin panas, dan membuat gerah, bulir-bulir keringat dari keduanya terus menetes. Kipas kecil yang berusaha meniupi kesejukan pun tak terasa dan semakin tak berarti.
“Kamu pasti cape, sekarang tidur ya sayang… istirahat!” Laki-laki itu sembari mengecup dua kelopak mata ‘Nya.
“Iya… Aku sayang kamu…”
Gelap… tak ada segaris bias cahayapun yang bisa di tangkap oleh pupil mata ‘Nya. Bukan gelap seperti siang tadi, tapi gelap ini membuat tiba-tiba saja ‘Nya seperti merasakan kantuk yang luar biasa, rasanya seperti sudah berhari-hari tidak tidur. Seketika ruang kubus berubah menjadi istana lagit dengan tumpukan awan-awan membentuk tempat tidur. Dan ‘Nya pun tertidur.
****
“Saya tidak tahu apa-apa pak! Kemaren saya haya melihat mba Kanya datang sendirian ke kostannya mas Denis pak!”
****
“Saya sih sempat mendengar mereka teriak-teriakan, ah… saya pikir paling juga mereka lagi becanda pak!”
****
“Bunuh aja gue sekalian!!! Saya cuma mendengar mba Kanya teriak itu pak!”
****
“Mas Denis dan mba Kanya baik kok pak orangnya!”
****
“Waaahhh… kalau ditanya masalahnya apa? Mana saya tau pak?”
****
SEORANG LAKI-LAKI BERNAMA DENIS DITEMUKAN MENINGGAL DI KAMAR KOSTNYA, DENGAN LUKA AKIBAT PUKULAN BENDA KERAS DI BAGIAN KEPALA. DIDUGA DENIS MENINGGAL AKIBAT PERKELAHIAN DENGAN PACARNYA YANG DISEBUT BERNAMA KANYA. SAMPAI SAAT INI BELUM DIKETAHUI MODUS PERKELAHIAN DENIS DENGAN KANYA. POLISI MASIH MENCARI KETERANGAN DARI PARA SAKSI DAN WARGA SEKITAR RUMAH KOST DENIS.
****
Mereka tarik menarik… Mereka saling adu kuat!!

(Untuk Yangku : Gudang Kubus, 21 Desember 2011 2:39 am.)

Rabu, 14 September 2011

TENTANG CERITA


TENTANG CERITA
Sebuah cerpen oleh: DENYJOE

“Yangku… tolong sambungin kabel modem ke komputer aku dong! Aku mau browsing… yangku udahan kan nulisnya?”
“Iya… Tuh udah aku sambungin…!!! Belum nih tanggung bentar lagi selesai!”

****

#kulihat, kudengar, kurasa, kutulis!#
#Ini adalah blog pribadiku :: DJINARAKHITA ABDI DENIKA#

Jakarta, 20 Februari 2011

“Tahu apa kau? Sudahlah kau jangan sok mengaturku! Lagian kan ini cuma selembar kertas usang.. dan tak mungkin membuat banjir!kau juga harus tahu kalau kertas ujian ini aku bawa pulang kerumah, ibuku akan marah besar, lihatlah! Nilaiku sama seperti warna celanaku dan rokmu. Merah!”

Terdengar suara mamah membacakan sesuatu kepada Ratu. Begitu menghayati, intonasi juga artikulasi nya terdengar sangat pas, sampai Ratu pun menatap mamah yang sedang membaca dengan pandangan tak berkedip. Papah yang sedari tadi sedang menyelesaikan tugas kantor pun jadi penasaran dibuatnya.

“Hey..hey.. seru banget kayaknya, lagi baca cerita apa sih?” Papah menghampiri keduanya.

Ruang keluarga yang besar dengan perabotan rumah serba lux bermerek membuat suasana malam itu menjadi lebih mewah. Sofa Ohmashab dengan pola garis hijau strine membongkah empuk, di meja pojok menyala lampu Ryslampa dari kertas mentah, serta meja kopi berbentuk yin-yang di belakang partisi ukir antik yang didapat pada saat papah tugas kerja ke italia.

“Ini pah,, tadi mamah lagi baca Koran, si Ratu mau di bacain cerita, kebetulan di koran ada cerpen bagus, ya sudaaahh.. akhirnya mamah bacain aja kan jadi efektif dan efisien pah.. mamah ga ketinggalan baca koran, si ratu juga seneng dibacain cerita.” Mamah mencoba menjelaskan

“Oooh… tapi tadi kedengeran kesana kayaknya seru banget, Cerpen apa sih? Siapa Penulisnya?”
Tanya papah penasaran.

“Tau nih,, kayaknya sih penulis baru pah, orang aku aja baru denger kok namanya. Tapi cerpenya bagus ko, temanya menarik, kemasannya unik, bahasanya juga sastra banget pah.”

“Mana coba Papah lihat?” Kata papah sambil meminta lembaran Koran yang tadi di baca mamah.

“KARENA AKU ADALAH SEEKOR LALAT! Judul cerpen yang aneh! Penulisnya DENY JOE, orangnya pasti aneh juga!”

“Aneh sama kaya papah!!! Nama depannya juga sama kan? DENY!” kata Ratu menimpali

“Iya sayang…. Tapi nama papah lebih keren dong : DENY PRIATNA.. hehehehe”

Ratu Manunggalia Denika dia adalah adikku, umurnya sekitar enam tahun dia sangat pintar melukis. Lihat saja kamarnya penuh dengan pajangan lukisan-lukisanya, dari mulai lukisan cat minyak, cat air, pastel, pensil warna, bahkan pensil hitam saja pun ada dan tersusun rapi. Mungkin ketularan dari papah yang memang punya apresiasi seni yang tinggi, Papah sangat suka mengoleksi barang-barang seni yang antik dari berbagai negara, setiap papah tugas ke luar negeri pasti papah menyempatkan diri untuk menyambangi toko seni dan barang-barang antik untuk di koleksi.

Sementara mereka asyik bercengkrama, aku hanya bisa tertegun haru melihatnya. Aku memang dilahirkan kurang beruntung, aku terlahir cacat! Kaki ku lumpuh tak bisa berpungsi, untuk berjalan aku menggunakan kursi roda. Aku juga bukan anak kandung mereka, aku di adopsi mereka sejak umur 2 tahun. Sebelumya aku tinggal di Panti Asuhan, aku tak tahu siapa ayah dan ibuku sejak lahir. Aku Tanya kesana-kemari pun tak membuahkan hasil, Meski aku sangat membenci orang tua kandungku, tapi aku sangat penasaran bagai manakah muka orang-orang tak bertanggung jawab seperti mereka.

“Beribu syukur tak pernah luput aku ucap, meski aku bukan keluarga asli disini, Mamah, Papah, Ratu sangat menyayangiku. Mereka tulus mencintaiku apa adanya dan tanpa membeda-bedakan aku, apalagi mengungkit-ungkit siapa aku sebenarnya.”

****

“Hey.. yangku kenapa?? Kok nangis??” Lelaki itu mendekati istrinya dan menyodorkan tanganya seraya mengusap pipi istrinya yang mulai basah.
“Aku ga apa-apa ko yang…” Perempuan itu tersenyum getir.
“ Ya ampun.. baca blog aja ko lebay banget sampe nagis begitu?”
“Biarin!!! Yangku ga tau sih, sedih tau yang!!”
“ Sedih kenapa sayangku…. Cerita dong!! Masa iya gara-gara baca blog doang mpe segitunya?”
“Nieh baca aja sendiri, kalo ga percaya!!” Seketika tanyannya meraih monitor dan mengarahkannya ke muka suaminya..
Cukup lama lelaki itu tertegun, bola matanya berputar-putar menelusuri rangkaian hurup yang membentuk serupa barisan semut. Mencoba mencari makna, menelaah, ada apa sebenarnya? sampai-sampai istrinya dibuat menangis oleh tulisan di blog itu!


****

“Djinarakhita Abdi Denika….Gila… up to date banget nieh anak, cerpenku baru muat tadi pagi udah di masukkin kedalam cerita di blognya.. hahahaha…” Lelaki itu kaget dan bangga.
“Jangan ketawa dulu.. lanjutin terus bacanya..”
“Heheheh… iya yang…. Waahhh ini anak cacat ya??”
Seketika suasana menjadi hening, diam, kosong!!! Detak dari detik jam bergerak membunyikan ketikan tak berhenti. Sampai akhirnya perempuan itu membuka suara, memecah kebekuan, melelehkan diam sampai menetes serupa kaca-kaca dalam retina matanya yang mulai membuat aliran membelah pipinya yang memerah.
“Aku jadi inget anak kita yang… Anak kita kalau hidup pasti sudah sebesar dia.. Anak kita juga pasti pinter nulis kaya bapaknya…” terdengar suaranya menjdi sengal.
“Yangku…. Udah ya… ini sudah kehendak yang di atas!”
“ Anak kita sama seperti dia yang…cacat!!! Tapi sayangnya…anak kita selain cacat juga terkena komplikasi jantung.. sampai akhirnya anak kita ninggalin kita yang…. huhuuuhhhuuuhhuuu” tangisnya semakin menjadi, isak haru kali ini tak bisa tertahankan.
“ iya sayang… ini semua juga bukan kemauan kita, kita sudah berusaha sekuat tenaga untuk coba ikhtiar buat nyelametin dia, yangku lihat? Tabungan, rumah, mobil, semuanya habis yang… Yangku sayang sama dia, Aku juga sayang sama dia, tapi mungkin tuhan lebih sayang sama dia.. Biarkan dia tenang di alam sana ya….” Lelaki itu berusaha menenangkan istrinya, yang padahal dia juga tahu hatinya pun begitu sangat pedih.
“ iya yangku… tapi aku.. aku sedih yang….”
“Yang terpenting untuk sekarang, kita harus tetap semangat, jangan menyerah, jangan putus asa! Yakin kalau nanti akan kita temukan terang setelah kita lewati gelap ini, Selalu ada rencana dibalik setiap kejadian.. Bersyukur dan ikhlas ya sayang…”
****

“TANTE TIKAAA……
ANGKEL JOE…….
CEPETAN DONG !!!!
DITUNGGUIN MAMIH SAMA ABI TUH DI MOBIL….
JADI BALENG GA KITA PELGINYA??
****


“IYA DEDE SEBENTAR!!!!!!...... ayo sayang cepetan yu Abigail sudah nyamper tuh!”
****

Denyjoe @gudang kubus 180811 // 03:49am

Kamis, 18 Agustus 2011

ta[NYA]ta ; Mimpi!


ta[NYA]ta ; Mimpi!
Sebuah Cerpen Oleh : DENYJOE

Saya tak bisa tidur.
Saya tak bisa tidur.
Saya mau tidur!!!

Sungguh, ini adalah dunia nyata tapi tak ada hal yang nyata jika menderita insomnia. Segalanya terasa jauh, jauh sekali bahkan lebih jauh dari beberapa rasi dan gugusan bintang yang saya pelajari dalam ilmu tata surya. Segalanya terasa berulang-ulang, berulang dan berulang, lihatlah arlojimu! Jarumnya terus saja berputar, dari angka satu ke angka dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, sebelas, dan dua belas lalu kembali ke satu. Selalu saja begitu! Membosankan!!

Mungkinkah saya harus membuat angka tiga belas dan seterusnya saat jarum arlojimu ada di angka dua belas dan hendak kembali ke angka satu dan berulang??
Mungkinkah saya harus membuat hari baru setelah hari sabtu agar tak kembali lagi kehari minggu dan berulang??
Mungkinkah saya harus membuat bulan baru setelah bulan desember agar tak kembali lagi ke bulan januari??
Tapi anehnya tahun tak pernah berulang, selalu bertambah, terus terakumulasi, terus dan terus sampai akhirnya tanpa saya sadari umurku telah bertambah tua. saya yakin kau juga! Dia juga! Kalian Juga! Mereka Juga! Semuanya juga!!!

Saya kadang iri melihat kalian terlelap tidur dan terbuai dalam mimpi kalian, meski pada akhirnya saya puas tertawa ketika melihat beberapa diantara kalian yang dengan susah payah mengingat mimpi indahnya ketika baru saja terjaga.
“ Sumpah,, tadi mimpi gue indah banget!!! Tapi apa ya???”
“ Gila,, tadi perempuan dimimpi gue cantik banget!! Tapi siapa ya??”
“Hmm… tadi makanan di mimpi gue enak banget!!! Tapi makanan apa ya??”
“Aduuuhhhh… apa ya tadi?”
“ Iya nih.. itu siapa ya???”
“ Dimana ya makanan itu?”
“KAMI TAK BISA MENGINGATNYA!”

Haha…haha…haha….

Saya tak bisa tidur.
Saya tak bisa tidur.
Saya mau tidur!!!

Saya lebih merasa diuntungkan, ini kelebihan buat saya, ini anugrah, ini menyenangkan. Saya bisa terjaga lebih lama, artinya saya punya porsi lebih untuk menikmati dunia nyata ini ketika kalian di tipu dunia dengan buai mimpi-mimpi semu kalian dalam tidur.

“ gue menghabiskannya dengan pornografi!!!”
“ gue menghabiskannya dengan nongkrong!!”
“ gue menghabiskannya dengan main game!!”
“ gue menghabiskannya dengan diam saja!!”
“GOBLOK!!!! KENAPA DI HABISKAN!!!”

Terus terang saya sangat jengah denagan jawaban mereka, sebuah keterpurukan yang dibentuk sosialita modern yang apatis!! Tidak adakah diantara kalian yang menghabiskan terjaganya dengan berfikir?? berfikir maju!! berfikir cerdas!! berfikir kritis dan solusioner!!
Lihatlah!! seluruh generasi memompa gas, mengerami pabrik, menunggu meja. Atau parahnya jadi budak berdasi. Iklan membuat kita mengejar handphone, gadget, mobil dan pakaian bahkan makanan. Mengerjakan pekerjaan yang sama sekali tidak kita sukai bahkan benci, agar kita bisa beli barang dan dapatkan apa yang sebenarnya tak kita butuhkan hanya sebatas gengsi, bukan fungsi.

“ Hey!!!! Kita adalah anak-anak sejarah, tanpa tujuan atau tempat. Tak ada perang besar. Tak ada depresi ekonomi. Perang besar kita adalah perang rohani. Depresi terbesar kita adalah
hidup kita sendiri. Kita dibesarkan oleh televisi untuk percaya...
...___bahwa suatu hari bisa menjadi jutawan dan bintang film dan bintang rock____
Tapi sebenarnya tidak!!! Dan ketika kita perlahan mempelajari fakta itu. kita menjadi sangat marah.!!!”

Saya tak bisa tidur.
Saya tak bisa tidur.
Saya mau tidur!!!

Mimpi mereka yang selalu terdengar mengasyikan membuat saya merasa kalau insomniaku ini adalah sebuah kutukan, saya ingin bermimpi seperti mereka!! Tapi sesaat mata saya hendak memejam, kafein dalam perut saya berontak, dan akhirnya kembali terbelabak. Dewasa ini memang bukannya zaman pelayaran si KAPAL API, bukan pula zaman buta huruf yang setia mengeja ABC, ini zaman bintang!!!! Ini PLANET STARBUCK!! Mungkin tepatnya ada di antara kerlip bintang yang sedang saya pandangi malam ini. Saya melihatnya nyata, tapi kenapa saya selalu bertanya? Apakah bintang itu nyata ada? Apakah tanya ini bisa membuat bintang itu nyata? Mata saya memang bisa menangkap kilaunya, tapi tangan saya kenapa tak dapat meraihnya?

“Bukankah kau pernah belajar ilmu tata surya?”
“Iya”
“Bukankah kau pernah melihatnya nyata?”
“iya”
“Bukankah kau pernah mendengarnya nyata?”
“iya”
“Bukankah kau peraih nilai tertinggi ilmu pengetahuan alam disekolah?”
“iya”
“Lalu kenapa kau mempertanyakan yang nyata ada?”

Saya memulai eksplorasi untuk menyatakan apa yang saya tanyakan, bintang memang selalu ada dan terlihat dalam malam cerah, agak samar dalam malam pekat, dan hilang dalam siang, padahal bintang tetap ada!! Kafein yang aku minum melalui bercangkir-cangkir kopi sebelumnya semakin mengusik mata untuk semakin membuka fikir apakah yang dapat saya simpulkan dalam insomnia kali ini, saya tak ingin kesimpulan saya tentang pornografi, tentang nongkrong, tentang maen game, atau bahkan tentang diam! Saya juga tak ingin menyimpulkan sesuatu yang spektakuler tapi sesaat nanti saya lupa apa yang telah saya simpulkan seperti mereka lupa akan mimpinya setelah terjaga!

Saya tak bisa tidur.
Saya tak bisa tidur.
Saya mau tidur!!!

Ini pasti hari Jumat, orang kantor itu memakai baju batik, anak sekolah itu memakai baju pramuka, sama seperti jumat minggu lalu, jumat bulan lalu, atau mungkin jumat tahun lalu. Bosan!!!!!! Semua seperi gasing, semua seperti roda becak, semua seperti kipas angin, semua seperti baling-baling helikopter, semua seperti rotor mesin diesel, semuanya sama! Terus saja berputar dan berulang.
Sepertinya saya butuh pergi ke luar kota untuk sekedar berlibur, mendinginkan kepala dari rotasi pertanyaan yang tak pernah berhenti mempertanyakan hal yang tak nyata. Pergi kepantai mungkin sebuah solusi, ada air seluas mata memandang, debur ombak yang bising tak bernotasi namun menenangkan, ada perempauan-perempuan berjemur dengan busung dada dan ngilu bokong berbikini.

Akhir minggu ini mungkin saya akan menyatakan, khayal saya untuk ke pantai. Relaksasi dari superpolusi kota, bising deru mesin kota, bau apek sampah kota. Berharap dapatkan Udara segar pantai, merdu debur ombak, dan wangi air laut.

“celana kolor?”
“ada!”
“ Kaos oblong?”
“ada!”
“Sunblock?”
“ada!”
“Kamera?”
“ada!”
“BERANGKATTTT!!!”

Saya tak bisa tidur.
Saya tak bisa tidur.
Saya mau tidur!!!

Sebentar lagi matahari mulai mengintip disela pagi, dan saya masih saja belum bisa tidur. Sebelum matahari perlahan lahan merangkak membelah angkasa, saya rasa saya harus sesegera mungkin berangkat menuju pantai impian, pantai dengan segala keindahannya, pantai dengan segala hiruk pikuknya.

“Wooowww… pantaiiiii…… ahahayyy…. Akhirnya saya bisa bebas juga dari belenggu penat saya, keinginan tidur saya, mimpi saya, pertanyaan saya, dan kenyataan saya!!!”
BYYUUUURRRRR!!!!!!!

Telapak kaki saya basah, betis saya basah, celana saya basah, baju saya basah, tangan saya basah, leher saya basah, kepala saya juga basah…. Semuanya basah!

“DENYYYYY…… BANGUNN!!!!!!!! KAMU ITU KALAU TIDUR GA TAU WAKTU!! MAU BANGUN JAM BERAPA KAMU?? BUKANNYA HARI INI ADA KULIAH PAGI?? MAU BERANGKAT JAM BERAPA?? INI UDAH SIANG!!! KAMU ITU KEBIASAAN, MALAM-MALAM BUKANYA TIDUR MALAH BEGADANG!! GILIRAN SURUH BANGUN AJA SUSAH, HARUS DI GUYUR DULU PAKE AIR BARU BANGUN!! AYOOO CEPETAN BANGUN!!!!!!!!!!”

Damn!!! Suara itu sangat saya tahu, saya sangat hapal suara itu, Mmm..Aaa...Mmm.Iiii…Hhh… mamiiihhhh!!!!!!!! waduhhhh… kacau nih..saya dan tempat tidurk saya jadi basah kuyup begini…

“IYA MIH….. INI JUGA BANGUN!!!!”
……….
Saya tak bisa tidur.
Saya tak bisa tidur.
Saya mau tidur!!!..........
……….
Saya tak bisa bangun.
Saya tak bisa bangun.
Saya mau tidur lagi!!!..........

Denyjoe@Gudang Kubus Minggu ke 3 Agustus 2011

Kamis, 09 Juni 2011

SEMOGA


SEMOGA
(Denyjoe/2011)

Memulai hari ini dengan sebuah kata ‘Semoga’
Tak pernah nalar menau syaratkah akan makna
Bimbang arah megalir,
seiring desing kereta butut distasiun yang kumuh..
Aku merangkul dada sesak, memulai tuk tak mengeluh..

Sesaat matahari merangkak, kembali terucap kata ‘Semoga’
Mengerut dahi yang bergaris,
tapi logika kenapa tak tercerna
Telapak kaki yang bergerak terbawa arus sesak manusia
Aku angkatkan tangan, mungkinkah kan menyerah?

SEMOGA TIDAK!!!!

Selasa, 07 Juni 2011

KEMBALI BERDIRI


KEMBALI BERDIRI
(Denyjoe/231210/03:23pm)

Memang tak ada kuasa menjulang dalam lengan..
Meski terus mengepal tak juga dapat merangkul..
Satu kekuatan tercipta diantara celah kesempatan..
Aku mencoba,
buat ringan yang terjinjing dengan kupikul..

Tak selalu kemenangan menghinggap setia..
Bersiaplah kita jika mungkin kala ini gagal..
Satu kekuatan tercipta diantara riak gerak kepala.
Aku mencoba terus memulai tinggikan akal..

Kaki pun tak selalu kuat menahan kuasa menopang..
Merapuh tergerus galau dalam lelah lalu terjatuh..
Secercah kemilau mengkilat diantara luka meradang..
Aku mencoba kembali berdiri,
kuat tak terlintas keluh.. (*denyjoe)

Sabtu, 04 Juni 2011

INI ADALAH RAHASIA


INI ADALAH RAHASIA
(Denyjoe/2010)

Sesaat kembali ku urai lagi..
Lembaran kisah usang yang lama terkotak rapi,
Beberapa waktu telah terlalui,
banyak kisah telah bergulir seiring renungan atas kesalahan yang terlalui.

Mungkinkah aku sadar? Aku sadar!
Tapi mungkinkah kau pun juga menyadarinya? Aku tak yakin!

Keagungan memujamu sepenuhnya..
Lewati secercah kuasaku terhadapnya..
Menghasut kepekaan mengundang inginku milikimu kembali..

Kau tahu? Inilah rahasiaku..
Tak seorang dekatpun tahu akan ini..
Kecuali Tuhan, yang memang ada dalam jiwaku.. (*denyjoe)

Kamis, 26 Mei 2011

DALAM HENING ALAM


DALAM HENING ALAM
(Denyjoe/231210/03:35am)

Lihatlah..
Malam gelap ini telah menengah..
Sentuhan angin tak lagi menyejuk..
Hening alam bak lelap dalam semedi..

Lihatlah..
Sukma jiwa ini terbentur jengah..
Serakan emosi tak lagi berbentuk..
Membuai lelahku dalam lelap yang menjadi.. (*denyjoe)

Sabtu, 14 Mei 2011

DIMANAKAH (AKU) KAU??


DIMANAKAH (AKU) KAU??
Sebuah Cerita Pendek Oleh : DENYJOE


DIMANAKAH AKU? TANGAN INI, JARI INI TERASA BERBEDA DENGAN TANGAN DAN JARI YANG BIASANYA. AKU BINGUNG! TANGAN SIAPAKAH INI? JARI SIAPAKAH INI?

Aku tak begitu ingat dengan jelas kenapa aku saat ini berada disini, aku merasakan hawa berbeda, hawa panaskah? Hawa dinginkah? Atau mungkin hawa sejuk? Mungkinkah aku tersesat? Entahlah… yang aku ingat hanyalah ketika tangan dan jari yang sekarang menjamahku membawaku secara paksa, dari tempat tangan dan jari yang aku sangat kenal dan selalu memperlakukanku secara lembut penuh perasaan, aku selalu ditempatkan ditempat yang nyaman, sehingga aku setia menemani tangan dan jari yang aku kenal itu dimanapun tangan dan jari yang aku kenal ini berada, dan kemanapun tangan dan jari yang aku kenal ini membawaku.

Aku terperangah kaget luar biasa ketika tangan dan jari yang saat ini menggenggamku perlahan, sedikit demi sedikit, menerawang isi dalam diriku dan membuang semua kenanganku bersama tangan dan jari yang aku kenal dari yang terkecil sampai yang terbesar. Aku mencoba menahannya, tapi aku tak bisa! aku mencoba tuk berontak tapi aku tetap tak kuasa! Aku lemah, aku tak bisa berbuat papun untuk melindungi setiap titik kenanganku, jangankan menjaga kenangan, menjaga diri sendiri saja saya tidak bisa. Maafkan aku atas ketidak berdayaanku ini, Maafku yang tak terhingga teruntuk tangan dan jari yang aku sangat kenal dan aku suka. Maaf!!

Aku menyesali keadaan ini, sungguh sangat menyesal! Belum lama setelah semua isi kenangan yang terpatri dalam tubuhku termusnahkan, aku kembali dikagetkan ketika beberapa tangan dan jari yang berbeda menjamahku secara bergantian.

“Sebentar, gue harus liat dulu masih bagus ga barangnya?” tiba-tiba aku dikagetkan oleh suara tangan dan jari pertama.
“Iya bener, kan sayang kalau kita sudah bayar mahal tapi barangnya sudah rusak! Apanya yang bisa kita pake?” Tangan dan jari yang kedua menyeletuk.
“Dijamin masih bagus, nie barang mahal coy!”Tangan dan jari yang membawaku membela diri.
“Mahal sih mahal tapi kan ga lucu kalo ga dicoba dulu!” tangan dan jari ketiga yang dari tadi diam saja mulai angkat bicara.
“Oke,, kalian boleh buka, lihat dalamnya! Masih orisinil semua, ga ada yang cacat!” Tangan dan jari yang membawaku kembali berkata.

Aku berfikir sejenak, apa yang hendak meraka lakukan padaku?belum sempat aku berfikir lebih lanjut tiba-tiba tangan dan jari pertama membukaku, membongkar semua pelindung luarku dan mencermati bagian dalamku, di pandanginya tak berkesip, disentuhnya, di ciumnya! Kembali aku terpojok dalam ketidak berdayaanku dan membiarkan tangan-tangan dan jari-jari yang tak aku kenal itu menjelalah isi dari diriku.

“Oke deal!!!”

Hanya itu yang terdengar setelah tangan-tangan dan jari-jari yang tak aku kenal menjamahiku, aku bingung! Sesaat tangan dan jari pertama memberikan beberapa lembaran merah mata uang terbesar dalam satuan rupiah. Aku tak tahu berapa nominalnya, yang aku tahu hanya tangan dan jari yang membawaku tersenyum lebar tanda kepuasan.

“Sekarang kau menjadi miliku!!!” Tangan dan jari pertama berkata dengan lantang, mungkin itu ditujukan kepadaku.
“Hahahahahahahaha…….” Disusul tawa membahana diantara tangan-tangan dan jari-jari yang tak aku kenal itu.

Ingin rasanya aku menyangkal dan berteriak, tapi aku tak sanggup! Mulut terkunci, lidahku pun kelu. Tapi untuk kesekian kalinya aku tak punya daya dan upaya yang menuntunku untuk berontak melawan ketertekanan ini. Aku bingung, untuk menangis tak bisa, untuk teriak tak bisa, apalagi berlari melesat kencang kembali kepada tangan dan jari yang aku sangat kenal dan selalu memperlakukanku secara lembut penuh perasaan, aku selalu ditempatkan ditempat yang nyaman.

Dimanakah aku? Tangan ini, jari ini terasa berbeda dengan tangan dan jari yang biasanya. Aku bingung! Tangan siapakah ini? Jari siapakah ini?


*****
Pagi sekitar pukul 07:45 Aku sudah berada di stasiun 5 menit sebelumnya.
Pagi itu seperti biasanya… ya.. ketika mahasiswa-mahasiswa lain mencoba untuk saling menonjolkan diri dalam hal penampilan agar di bilang keren, berbanding terbalik dengan aku pagi itu.. Lihat saja! Kaos putih kucel menjadi atasan yang dipadukan dengan celana jeans belel robek sebagai bawahannya, dan tas rangsel butut menggantung dipunggung. Cuek sekali, tapi tentunya tak menghilangkan aura keren yang memang telah memiliki aura itu sejak lahir.
Lama menunggu kereta di peron, lama sekali terompetnya tak kunjung ku dengar. Aku tersiksa bosan, sementara bosan terus saja menyiksaku. Untuk melawanya kemudia aku menulis :

Ketika ada petang diantara siang dan malam.
Ketika ada remang diantara terang dan gelap.
Ketika ada abu-abu diantara hitam dan putih.
Ketika ada arti diantara tertawa dan menangis.
Apakah itu benar atau salah? Entahlah!

Barisan kata itu! Barisan kata yang pernah aku baca dibuku tapi aku lupa siapa pengarangnya yang terakhir aku tulis di status (salah satu jejaring sosial paling penomenal abad ini) pagi ini. Tak berbeda, masih sama seperti hari-hari biasanya. Yang berbeda, Hari ini aku seperti diselimuti kegelisahan yang melingkari badanku seperti mantel tebal dari kulit beruang, pengap, berat, dan sangat mengganggu.

Stasiun pagi itu sangat ramai, aku mulai risih melihat kondisi ini, aku benci suasana ramai, aku benci kebisingan, aku benci suara gaduh, AKU INGIN TENANG! didalam tengkorakku seolah berjibaku pikiran-pikiran yang seharusnya tak aku pikirkan dalam waktu sepagi ini. Lihatlah! Bapak berjanggut tipis berkemeja putih garis terlihat bersemangat, menenteng kopi hangat dan membawa lipatan surat kabar kemudian duduk disebelahku.

“Punya korek api de?” Bapak berjanggut itu ramah.
“Ada pak.” Jawabku sambil merogoh korek api dari kantong celanaku dan memberikan korek api kepadanya.
“Terimakasih de, Rokok?” Ucapnya menawarkan rokoknya.
“Iya pak, terimakasih! Baru saja saya matiin rokok saya.”

Lelaki berjanggut tipis itu mulai membolak-balik lembaran surat kabar yang dibawanya dia terlihat tenang sekali, menyeruput kopinya yang mengepul, menyedot kepulan tapi dari batang yang terjepit dijarinya. Tenang sekali dan aku iri!

Keretaku datang, kali ini padat sekali, tak ada celah yang ada gerah, tak ada tukang kue, tak ada tukang koran, tak ada tukang buah, tak ada tukang mainan, tak ada tukang hiasan, tak ada juga penjual kroket yang ada aku yakin adalah copet!

Stasiun kesatu… Berdesakan!

Stasiun kedua… Masih berdesakan!

Stasiun ketiga… Tambah berdesakan!

Stasiun keempat... Sedikit bisa bergerak!

Setasiun kelima… Bisa bergerak! Kakiku sedikit kugerakan karena pegal, Tas rangselku sedikit ku benarkan posisinya, Kepalaku sedikit kuputarkan ke kiki dan ke kanan, mataku sedikit kupicingkan meneliti sudut pandang.

Stasiun keenam… Aku turun dan DAMMMNNNNN!!!!!!!!

Aku lupa memeriksa kantong celanaku, aku lupa akan barang dalam kantong celanaku, aku lupa kalau dari rumah sudah memakai celana jeans dan mengantongi barang di kantong celanaku, Aku lupa!!!

“Kenapa de, Ko bengong???” Sapa Bapak berjanggut yang tadi ternyata turun di stasiun yang sama denganku.
“Ngga apa-apa ko pak!” Jawabku dengan senyum getir.
“Beneran ngga apa-apa??” Tanyanya menegaskan.
“Kayaknya Handphone saya ada yang nyopet pak tadi dikereta!” Aku menjawab dengan menunduk.

*****

Aku menggerutu, aku mengutuk, aku menyumpah serapah!
Lalu mereka bilang : “SABAAARRRR”
Aku kembali menggerutu, aku kembali mengutuk, aku kembali menyumpah serapah!
Lalu mereka bilang : “TAKDIRRRR”
Aku masih menggerutu, aku masih mengutuk, aku masih menyumpah serapah!
Lalu mereka bilang : “CEROBOHHHHH”
Aku berhenti menggerutu, aku berhenti mengutuk, aku berhenti menyumpah serapah!
Lalu mereka bilang : “MAKANYA LAIN KALI HATI-HATI, KURANG BERAMAL SIH!”
Dan aku mulai bertanya, dimanakah kau? Siapa yang telah berani-beraninya memisahkan kau dariku? Mungkinkah kau akan kembali? Aku pasti kehilanganmu! Aku pasti akan sangat merindukanmu!
……….Ketika ada petang diantara siang dan malam.
Ketika ada remang diantara terang dan gelap.
Ketika ada abu-abu diantara hitam dan putih.
Ketika ada arti diantara tertawa dan menangis.
Apakah itu benar atau salah? Entahlah!...........
Ternyata aku telah terlebih dahulu menasehati keadaanku saat ini melalui tulisan di statusku tadi.
Lalu mereka bilang : “Pasti Handphonenya sekarang lagi ngomong __DIMANAKAH AKU? Tangan ini, jari ini terasa berbeda dengan tangan dan jari yang biasanya. Aku bingung! Tangan siapakah ini? Jari siapakah ini?___ ”


Lalu aku menulis di papan pengumuman:
PENGOEMOEMAN.
SOEDAH TERJADI KEHILANGAN HANDPHONE MASIH BAGOES.
DI DALAM KERETA API JOEROESAN TIMOER KE KOTA.
PADA TANGGAL 12 BOELAN 1 TAHOEN 2011.
SEKITAR POEKOEL 9 PAGI SAMPAI DENGAN 10 PAGI.
DI DOEGA DI LAKOEKAN OLEH COPET SIALAN!

Lalu copet menjawab :
AKOE TIDAK JAHAT. INI PEKERJAANKOE.
SELAYAKNYA KAU MENGKLIRKAN PEKERJAANMOE.
KAMOE JANG CEROBOH. KAMOE JANG KURANG HATI-HATI.
ENAK AJA MENGATA-NGATAIKOE SIALAN!

Dan kemudian….Handphone berteriak :
DIMANAKAH AKOE? TANGAN INI, JARI INI TERASA BERBEDA DENGAN TANGAN DAN JARI JANG BIASANYA. AKOE BINGOENG! TANGAN SIAPAKAH INI? JARI SIAPAKAH INI? (*denyjoe 2011)

Rabu, 11 Mei 2011

SAHABAT PENA


SAHABAT PENA
(Oleh : Denyjoe/231210/18:24pm)

Hey… apakabar?
Sahabat penaku, lama sudah kita tak berkirim surat.
Apakah kau kehabisan perangko?
Atau tinta penamu tumpah tertabrak kucing persiamu yang lucu?

Ku dengar.. kau sudah banyak berubah?
Kuharap perubahan menuju kebaikan..
Ku dengar.. kau sudah mulai menutup?
Kuharap menutup untuk membuka celah aurat..

Aku masih menyimpan lembaran-lembaran surat darimu..
Aku masih menyimpan potongan-potongan perangko dari amplopmu..
Dan aku masih mengingat nasehat bijak dalam kepalaku..
Memang tak semua..
Banjir kemarin telah menghanyutkan separuhnya..

Aku sudah siapkan suratku yang ke seratus buatmu..
Mari kita ulangi kembali..
Kita berkirim dan berbalas surat..
seperti kemarin yang terlewat..(*DENYJOE)

Selasa, 10 Mei 2011

AAH…..


AAH…..
(Denyjoe/2009)

Petakan ruang lembab tempatku berteduh kini kotor ..
sampah tiga hari lalu terbumgkus tak sempat waktu membuangnya..
bungkusan itu?
Aah …pantas saja lalu lalang kecoa semakin terlihat .

Radio digital kecilku masih terus membisikan dendangan..
melalui earphoneku yang pecah terbalut lakban ..
tak apalah asal bersuara ..
Sedikit mengurangi sepi yang menari ..

Bantal lebar kulipat .. mencari posisi ..
mencari posisi sesuaikan tuk menyangga batok kepalaku ..
miring kanan, miring kiri..
Aah ..
tetap saja takkan mengalahkan kamar hotel mereka .. aku tak peduli..

Bagian kulitku yang terbuka ..
tersentuh ujung mulut yang tajam masuk dan menghisap ..
terus sampai ku rasakan sedikit gatalku ayunkan telapak tangan mengusirnya ..
Aah .. dasar nyamuk sialan.. (*denyjoe)

Rabu, 27 April 2011

BERGELANTUNG


BERGELANTUNG
Deny Joe 2:54am 030910

Memulai lagi… Masih sama ..
Tak berubah.. dan memang untuk saat ini hanya ini…
Bagian yang lain masih terkemas rapi..
Bagian yang lain masih menutup diri..
Bagian yang lain masih sudi memberikan sunggingan senyum walau tak manis..
Bagian yang lain? nanti setelah ini..

Sebuah perenungan yang menggelayuti pikir…saat ini..
Mencemooh keadaan… sikap, waktu juga pergerakan dalam perjuangan..
Mungkinkah akan tertulis THE END seperti di akhir film India yang sering aku tonton ketika kecil, dan serupa dengan film-film dewasa ini juga..

Happy Ending?

Sad Ending?

Or.....

Never Ending?

Mungkin saja benar akan berakhir malam ini… atau malam berikutnya malah lebih mengerikan atau parahnya berbalik lebih menyenangkan??

(Aaaaah.... Entahlah????)

Terjerembab?

Terperosok?

Terjatuh?

Tersungkur?

Aku pikir tidak! ini jalan yang lama ku cari..
yang tak bisa kutemui selama bertahun-tahun sebelumnya...
Tahun-tahun yang kelabu..
tahun-tahun yang lebih meresahkan dari pada tahun ini...

(Aaaaah.... Entahlah????)

Terputus bukan berarti tak bisa kembali terpatri..
Justru sisi sebelah kiriku berbangga dengan kejadian tepat satu tahun lalu...
Sebuah titik balik yang merubah langkahku..
Ketika aku keluar dari penjara penjajahan..
Dari penjara dengan ruang ber-AC tapi aku tak pernah merasakan kesejukan didalamnya..
Dari penjara yang mengikatku dari pergerakan-pergerakan yang bisa aku lakukan saat ini..
Dari penjara dengan tuntutan disiplin tinggi tapi yang menuntut tak pernah sekalipun mau untuk disiplin.. mencoba pun tidak!

(Aaaaah.... Entahlah????)

Tepat bulan ini kawan!!!
Bulan yang Orang-orang memuji sebagai bulan penuh berkah...
Ramadhan! ya... Bulan Ramadhan...
Disaat setahun lalu Dua orang berkawan sepergulatan.. sekamar.. seranjang.. sekasur... dan sebantal... tapi tak bersetubuh...
Memperbincangkan kegelisahan!
Mengangankan Pembaikan!
Ditemani hingar-bingar Lagu kesukaan yang di Comot dari situs dengan Jaringan boleh nyolong-nyolong...

Lagu ini Kawan!!!!
Lagu yang Orang-orang akan berteriak kebisingan dan menyuruh untuk mengecilkan Volumenya atau bahkan menyuruh mematikannya....
Lagu-lagu.... ya... Lagu-lagu ini...
Masih sama... Seperti disaat setahun lalu Dua orang berkawan sepergulatan.. sekamar.. seranjang.. sekasur... dan sebantal... tapi tak bersetubuh...

Menyanyikannya kencang!

Menutup-nutupi perasaan!

(Aaaaah.... Entahlah????)

Banyak yang berubah? Aku tak yakin!!!
Yang dulu Tak didapati, dewasa ini terdapati bahkah berlebih...
Yang dulu didapati, dewasa ini malah tak nongol sebatang hidungpun..
Yang dulu hilang, dewasa ini telah kembali bahkan lebih setia...
Yang dulu ada, entahlah sekarang dimana? Dengan siapa? Berbuat apa?

Sampai akhirnya temanku yang bernama Statistik menyimpulkan kalau ternyata Grafiknya tetap sebanding antara tahun lalu dengan dewasa ini!!!

Lalu...

Dimanakah sebuah perubahan???

Dimanakah sebuah Pembaikan???

Dimanakah sebuah kemajuan???

Mungkin semua ini adalah karenaku...
Tapi yang pasti ada satu hal lagi yang tiba-tiba ikut bergelayut..
Seorang bijak pernah bilang:
Langkah Kita hari ini ditentukan Langkah Kita Kemarin!!! Dan Langkah kita Esok Ditentukan Langkah kita Hari ini....
Apakah memang ternyata Risalah akan tetap berulang Kawan???

(Aaaaah.... Entahlah????) (*denyjoe)

LUBANG!


LUBANG!
(Denyjoe / 08 Januari 2010 / 22:21)

Hari ini datang lagi..
Cerita yang terputus terpatri kembali..
Meski jenuh,
Bersama sesal dan kecewa yang memudar..
Sudah terlalu banyak kisah…
Jari tanganku pun tak mampu menghitungnya..
Aku yakin jarimu pun tidak!

Rumit memang..
Tapi aku dan juga kau..
Selalu yakin, lingkaran masalah berputar dalam labirin bisa ditembus..
Kau yang egois..
Dan aku yang pembangkang..
Tak terluluhkan oleh perih lalu..seakan kuat ingin selalu mengalahkan..

Sungguh berbeda…
Tak ada hal yang menyatu sama..
Tapi rasa membuatku jatuh..
Jatuh kembali..dalam lubang yang sama..
Lubang yang kita gali bersama..
Lubang yang telah penuh terisi lembaran kisah..
Lubang yang telah menjebak kita..
Lubang yang telah menyatukan..

Sangat dalam..
Untuk ukuran aku yang serupa debu..
Kau yang terhempas jauh hanya oleh dengus..
Tapi dalam kecil keberadaan..
Membesar jiwa..
Memadatkan isi, menutup lubang agar tak terusik lainya..
Memajang nama dalam lubang..
Lubang Cinta! (*denyjoe)

Rabu, 06 April 2011

SAYA DAN (KELAMIN) TEMAN LAKI-LAKI SAYA


SAYA DAN (KELAMIN) TEMAN LAKI-LAKI SAYA
(Sebuah Cerpen oleh: DENY JOE)

Saya seorang perempuan, ya…perempuan! Saya mengetahuinya karena bentuk kelamin saya berbeda dengan bentuk kelamin teman saya yang bentuknya memanjang, menggantung kantong berisi dua buah biji kelereng.
“Inilah… gue sang pejantan!! Seorang lelaki sejati!!” kata teman laki-laki saya bangga akan dirinya dan kelaminnya yang tegak mencuat.
“Berarti gue adalah perempuan, sang betina!! Dan kelamin gue ini berarti vagina!” Timpal saya polos dengan gerakan seketika melorotkan celana dan celana dalam saya lalu menunjuk kearah kelamin saya.
Sebenarnya saya lebih tertarik untuk memiliki kelamin seperti kelamin teman laki-laki saya, lebih unik, lebih lucu, lebih berbentuk, dan lebih artistik. Saya pernah melihat teman saya ki’ih (baca: buang air kecil sunda) dengan berbagai posisi; jongkok, berdiri, nungging, melompat-lompat, berjalan, bahkan berlari. Saya iri karena tidak bisa melakukan hal yang sama dan hanya bisa berjongkok, sekali waktu rasa penasaran saya memuncak! Rasa keingintahuan saya menggunung, setelah say berusaha menghabiskan air minum dua satu per empat galon kantung kemih saya terasa penuh, sedikit demi sedikit saya merasakan ada tekanan kea rah liang kencing saya.
“Ini dia kesempatan buat gue kali ini mencoba gaya-gaya kencing teman lelaki gue!” saya membatin dengan sunggingan bibir penuh keyakinan.
Jongkok saya sudah bisa karena memang sudah biasa, kemudian saya mulai mencobanya satu persatu, berdiri : saya gagal!, nungging : lumayan! Saya masih bisa melakukannya walau sedikit tercecer, melompat-lompat : saya gagal!, berjalan : saya gagal!, berlari : saya juga gagal!. Saya sangat kecewa dengan kegagalan ini, terlarut tak berujung, menggulung beracak tak teratur. Tapi dengan keteguhan ditangguhkan saya yakin saya yang lebih baik daripada teman laki-laki saya, kelamin saya yang lebih baik daripada kelamin teman laki-laki saya.
Cuplikan masa kecil terlintas, beberapa plot cerita usang kembali tersingkap.. kekalahan, keputusasaan, dan kemaluan. Saya mengurung diri di kamar kecil dengan cermin besar memanjang, setiap jengkal tubuh saya saya perhatikan dengan seksama tanpa terlewat. Dari ujung rambut turun ke mata saya yang jernih, dari mata turun ke hidung saya yang mancung, dari hidung turun ke bibir saya yang tipis merekah merah, dari bibir turun ke dagu saya yang lancip, dari dagu turun ke leher saya yang jenjang, dari leher turun ke dada saya yang?
“Sebentar? Dada gue kenapa nieh? Ko bentuknya jadi aneh?” Saya memicingkan mata mencoba memfokuskan pandangan ke arah dada saya yang berubah bentuk, berubah seperti ada tonjolan entah apa?
Berat langkah kaki memapah saya keluar untuk menemui teman laki-laki saya, berputar sepeti gasing, berlari seperti kuda pacuan, menyelidik dimanakah saya bisa menemukan teman laki-laki saya? dirumahnya tidak ada, disekolahnya tidak ada, ditongkrongannya tidak ada, diwarung kopi tidak ada, diwarteg tidak ada, diwarnet tidak ada juga. Kemana dia teman laki-laki saya? saya ingin meneuinya, saya ingin bercerita tentang perubahan bentuk tubuh saya, dada saya khususnya.
“Hey.. kamu sepertinya sedang mencari seseorang?” Seorang lelaki setengah tua bertopi warna marun tiba-tiba mengagetkan saya yang sedang bingung.
“Iya pak, saya mencari teman laki-laki saya, biasanya dia nongkrong disekitar sini, apakah bapak melihatnya? Atau mengetahui dia berada dimana sekarang?” saya menjawab berharap kalau saja lelaki setengah tua bertopi warna marun itu bisa memberikan petunjuk.
“Kalau mata saya tidak salah lihat dan yang kamu maksud adalah orang saya lihat tadi, sepertinya dia menuju rumah sakit!”
“RUMAH SAKIT?? Bapak tahu kenapa?”
“Tidak!! Coba saja kamu susul dia kesana, tidak jauh kok dari sini..”
“Terima kasih pak! Saya akan kesana sekarang juga!” tanpa basa-basi lagi saya langsung melenggangkan kaki menuju Rumah Sakit. Kecepatan langkah di tingkatkan hingga persneling tertinggi. Rem di kurangi, kopling di lancarkan.
Teman laki-laki saya tergeletak di bangsal, lunglai melemah, matanya terpejam, bibirnya digigit seolah menahan sakit. Melihatnya seperti itu saya jadi ikut meringis, terlihat orang tuanya mendampingi teman laki-laki saya. Seorang dokter berpkaian serba putih dan seorang suster terlihat sibuk diantara kaki teman laki-laki saya yang mengangkang. beberapa alat di keluarkan, ada gunting, pisau, suntikan dll.
Sunat atau khitan atau sirkumsisi (Inggris: circumcision) adalah tindakan memotong atau menghilangkan sebagian atau seluruh kulit penutup depan dari penis. memilih untuk melakukan sunat pada umumnya disebabkan alasan sosial dan budaya juga karena alasan kesehatan.
Melihat teman laki-laki saya menjerit kesakitan saya menjadi bingung, apa yang hendak saya lakukan? menghibanya? atau justru saya akan membangga? Setelah beberapa orang yang mengantar teman laki-laki saya memberitahukan bahwa dia sedang disunat. Ketika saya membayangkan kelamin teman laki-laki saya dipotong ada kengerian dibenak saya, pantas saja teman laki-laki saya tetap meringis menahan sakit meski dokter berjubah putih tadi telah menjalarkan obat bius penahan sakit disekitar kelamin teman laki-laki saya. Satu sisi yang lain saya merasa sangat berbangga, apa pasal? Saya merasa menang hari ini, karena kelamin saya sudah sempurna dan tak perlu dimodifikasi lagi.
“ Hahahahaha…. Rasain luh!! Emang enak jadi pejantan?” Gumam saya dalam hati.
Teman laki-laki saya yang mulai sadar akan kehadiran saya mulai menunjukan tampang aneh, tampang malu, tampang seorang pecundang. Saya hanya menanggapinya dengan sunggingan senyum meledek. Saya sesaat lupa akan perihal perubahan bentuk tubuh saya terutama sekitar wilayah dada. Yang berubah membesar dan menonjol seperti terdapat tumor atau daging tumbuh.
“Heyy… Ngumpetin apan tuh di balik baju lu??” Tiba-tiba saya dikagetkan oleh suara teman laki-laki saya yang sedang berjalan mendekati saya dengan langkah gontai mengegang.
“Bukan apa-apa..!” Jawab saya sambil mendekapkan kedua tangan saya menutupi dada saya.
“Jangan bohong lu, kasih lihat dong? Bawa ole-oleh ya buat gue? Apa? Buah? Kue? Apel? Pepaya? Jeruk? Coklat? Kacang?”
Mendengar berondongan pertanyaan dari teman laki-laki saya, saya pusing, saya malu, tak menunggu waktu lebih lama lagi saya langsung membalikan badan, melesat membelah angin, berlari sekencangnya sambil menutup wajah saya untuk menyembunyikan air muka saya yang merah antara marah dan malu.
Semakin hari dada saya semakin besar membusung, saya masih dilanda kebingungan, sampai akhirnya ibu saya membelikan pakaian dalam berbentuk. Yang belakangan baru saya tahu pakaian itu bernama: Bra atau kutang!
Hari ini, tanggal tiga belas bulan dua belas sejuk pagi masih terasa meski mentari mulai meninggi tanggalkan hangatnya, saya terkapar dalam kamar kubus ini, meringkuk menahan perut saya yang seakan di obok-obok, sekitar panggul menegang pegal, sesaat saya tersadar ada banyak darah mengucur dari alat kelamin saya. Apa lagi ini? Perih! Saya jadi ingat satu hal, satu hal yang pernah saya pelajari di sekolah, BIOLOGI. adalah perubahan fisiologis dalam tubuh wanita yang terjadi secara berkala dan dipengaruhi oleh hormon reproduksi. Periode ini penting dalam hal reproduksi. Pada manusia, hal ini biasanya terjadi setiap bulan antara usia remaja sampai menopause. Selain manusia, periode ini hanya terjadi pada primata-primata besar, sementara binatang-binatang menyusui lainnya mengalami siklus estrus.
Menstruasi ya…. Sakit sekali, mungkin saya kaget karena sebelumnya saya tidak pernah merasakan hal ini, Sakit yang berdarah-darah. Saya sangat takut melihat darah, rasa nyeri akibat kram menstruasi datang, kadang samar-samar kadang sangat nyeri. Kondisi ini sangat menggangu saya. Kondisi yang dalam istilah medisnya disebut dysmenorrhea ini biasanya terjadi di perut bagian bawah. Tapi kembali saya berucap syukur mempunyai ibu sebaik ibu saya, sangat perhatian dan sangat mengerti, sehingga tak perlu banyak birokrasi seperti kaum elit atas negeri ini, ibu sudah dengan sigap membuat ini itu untuk memenangkan saya akan fenomena perempuan normal yang baru saya alami ini. Dari mulai pembalut, aturan dalam kaidah biologis, maupun dalam kaidah agamis.
“Biasanya pada saat menstruasi wanita memakai pembalut untuk menampung darah yang keluar saat beraktivitas terutama saat tidur agar bokong dan celana tidak basah dan tetap nyaman. Pembalut harus diganti minimal dua kali sehari untuk mencegah agar tidak terjadi infeksi pada vagina atau gangguan-gangguan lainnya. Gunakanlah pembalut yang anti-bakteri dan mempunyai siklus udara yang lancar.” Ibu saya dengan tuturnya menjelaskan bak dokter spesialis.

****
Detik yang memacu waktu bergulir tak terukur, cepat sekali! Siang dan malam menipis bergantian dengan gesitnya, Matahari dan bulan saling berkejaran walau kadang matahari dibuat bingung karena ulah bulan yang sering bersembunyi dalam gelap. Musim pun tak teratur, panas kemarau dan dingin penghujan datang seenak jidatnya.
Malam ini bulan kembali bersembunyi, hembus bayu menyeripit membelai dingin, buncahan hujan yang tak tertahan berjatuhan sejak tadi pagi. Kelam membesi tak ada larik pelangi. Saya dan teman laki-laki saya terjebak jauh dipenginapan lima huruf : H-O-T-E-L yang harum seperti bunga putih lima kelopak: MELATI. Begitulah orang-orang sekitar menyebut penginapan ini seperti kemudian saya dan teman laki-laki saya pun menyebutnya dengan istilah yang sama : HOTEL MELATI.
“Baju elu basah… elu ga kedinginan?” tanya teman laki-laki saya.
“Iya nieh gue kedinginan, dingin banget!” saya menjawab dengan nada gemetar dibarengi dengan bunyi gemeretak gigi saya.
“Elu mandi dulu gih, biar ga pusing kan tadi kena air hujan”
“Tapi,, gue takut!”
“Takut apa?”
“Dingin!”
“Hmm.. terus gimana dong?”
Sejenak mulut saya dan mulut teman laki-laki saya terkunci, hening membius hawa kamar Hotel ini menjadi semakin dingin.
“MANDI BARENG!!!” tiba-tiba saja saya dan teman laki-laki saya berkata secara bersamaan seolah-olah sudah paham skenario.
Rintik hujan diluar sana masih saja terus mengguyur seakan tak kenal lelah, saluran-saluran air yang tersumbat mulai memuntahkan arusnya ke luar jalur. Beberapa sungai meluap tak sanggup menampung desakan air yang membuncah. Beberapa kawasan juga sudah mulai digenangi air, tak pandang bulu apakah itu kawasan elit ataupun kumuh. Memang begitulah peliknya ibukota.
Tak terkecuali di dalam kamar mandi kamar hotel ini, peluh membanjir, degup jantung berdebaran membentuk gemuruh kencang, aliran darah berkesiap cepat lewati urat dan syaraf dari kepala sampai kaki kemudian balik lagi ke kepala begitu seterusnya mondar-mandir tak beraturan. Hawa panas mengerubungi badan saya dan badan teman laki-laki saya kontras sekali dengan suhu sebenarnya yang membuat para pngamen lampu merah diluar sana menggigil. Tubuh saya perlahan merasakan kehangatan setelah beberapa saat lalu di selimuti kedinginan, Rikuh membelenggu saya urat-urat nadi seakan mampat tak berlubang, sementara jantung berdetak semakin kencang memompa aliran darah.
Pakaian saya dan teman laki-laki saya yang sedari tadi membungkus tubuh kami kali ini sudah tergeletak menumpuk disudut, begitu juga dengan pakaian dalam saya dan teman laki-laki saya. Sesaat kemudian saya merasakan kulit temn laki-laki saya mulai menempel pada kulit saya, saya merinding bukan karena dingin, mungkin ada setan lewat? Atau memang seta nada disekitar kami, bahkan sudah merasuk kedalam tubuh kami? Tak banyak saya untuk memikirkan hal tersebut sesaat saya kembali dikagetkan dengan suara bisikan teman laki-laki saya.
“Elu cantik sekali… gue suka, elu seksi sekali..gue juga suka!!”
Saya melihat mata teman laki-laki saya mendelik menatap seluruh bagian badan saya tak melewatkannya sejengkalpun, menelusurinya dengan bola mata yang seakan mau keluar, saya juga melihat beberapa kali teman saya seakan menelan ludah. Keringat dinginnya merembes sela pori kulitnya dan membasah.
“TIDAK!!”
Teman laki-laki saya berlari menembus pintu kamar mandi yang penuh oleh setan berotak cabul, mengambil pakaiannya kemudian memakainya. Tersimpuh teman laki-laki saya dengan pandangan yang bercucuran air mata. Saya masih dilanda bingung tentang apa yang harus saya lakukan, saya benar-benar shock dengan situasi ini. Perlahan saya kenakan lagi pakaian saya kemudian duduk di dekatnya.
“Maafin, ini semua salah gue!” Teman laki-laki saya memulai bicaa.
“Tidak ini salah gue!”
“Loe ga salah!! Gue yang salah!!”
“Kita yang salah!!”
“Ya.. loe bener kita yang salah, gue sadar akan semua yang gue lakuin, dan yang tadi itu salah! Itu Dosa! Gue ga mau hanya karena kita menuruti secuil nafsu, kita ngancurin loe juga gue, masa depan loe juga masa depan gue. Mimpi dan cita-cita gue masih jauh dari jangkauan, dan gue yakin loe juga punya cita-cita dan gue sangat memahami itu. Gue sayang sama loe dan ga mungkin gue ngancurin loe.”

Saya tak bisa menahan ketika air mata saya tiba-tiba meleleh di pipi saya. Saya begitu terharu, muka saya memerah seperti rebusan udang. Teman laki-laki saya masih tertegun dengan tatapan kosongnya disudut. Pikiran saya semakin menerawang diantara celah katup mata yang membasah, daun jendela yang berembun tampias, dan derai hujan yang masih saja mengucur tak terhenti.

“Pola budaya telah berubah, norma ketimuran semakin mengabur, modernisasi merajalela menghanguskan pribadi dan akal sehat mengenai dosa, ketuhanan hanya menjadi simbol bintang yang tak lagi dijadikan dasar yang absolut dan hakiki! Seharusnya aku tak disini saat ini, seharusnya aku tak juga begini, seharusnya mereka diluar sana juga segera mengakhiri kegiatan persis setan! Mungkin sekarang setan sedang berpesta, sedang berselebrasi atas kemenangannya memporak porandakan yang tersesat, yang bergumul tanpa tanpa ijab qobul, yang serumah tapi tak nikah, yang berisi tapi belum jadi istri, yang aborsi karena malu dan tak ingin, yang menjajakan tubuh tuk di beli, yang berhidung belang di lokalisasi, yang jadi mami dan mengkordinasi. Lalu sampai kapan? Apakah ini adalah awal? Tengah? Atau akhir dari perubahan?”

___Aaaaaaaaaaarrrrrrrrrrggghhhhhhhhhttttttt……….Setaaaannnn!!!!!! Hentikan segera pesta ini!!!!!!!____ (April 2011)

Kamis, 03 Maret 2011

UNTUKMU (Sepenggal Cerita)


UNTUKMU (Sepenggal Cerita)
Oleh :
KARTIKA FEBRIANI in Colaboration with DENY JOE

Wajahnya yang tampan, gayanya yang mengagumkan,
sangat terlihat diraut mukanya yang mempesona.
Seorang laki-laki paruh baya dengan menggunakan kendaraan mewah berjalan perlahan menyusuri malam mengerling mata mencari sesosok wanita yang entah siapa disana? Bidadari!
Baginya, wanita itu adalah temannya malam ini, teman sehati, sejiwa dan seraga.
Apakah esok malam wanita itu akan menjadi temannya lagi ? Entahlah?
Perempuan itu memang luar biasa, tubuhnya yang molek, rambutnya yang panjang terurai.
Dibelaiannya wanita cantik dengan kelembutan naluri...
Bersatu dengan laki-laki paruh baya itu demi sesuap nasi, demi sejumlah uang untuk mencukupi hidupnya ..
Wanita itu sebenarnya sadar atas kesalahan yang diperbuatnya
''Aku terpaksa, demi ibuku yang terbaring lemah disana yang memerlukan obat untuk kelangsungan hidupnya'' Wanita itu berkata dalam hati ..
''Berat rasanya lakukan itu, membiarkan diri ini terjerumus dosa
Tapi apa daya aku tak kuasa melawan tuntutan hidup yang semakin berat, ampuni dosaku Tuhan''
Wanita itu sendiri termenung, merenungi jalan kelam yang ditempuhnya ''betapa dosanya diri ini, bagaimana caranya aku membersihkan diri dari kotoran ini ??”
“Aaaaarrrrgggghhhh” Wanita itu menjerit membahana di sela derai tangis.

Tapi diantara tangis wanita itu tersirat fikir membatin
" Aku adalah perempuan, demi ibuku yang juga perempuan seperti ibu kalian,
seperti istri kalian, seperti pacar kalian,
seperti adik kalian, seperti anak kalian, atau seperti kalian..
apakah kau tak jauh lebih baik daripadaku? persetan!
tubuhku memang aku lacurkan, tapi bukankah pemikiran dan idealis kalian pun serupa?
ini bukanlah pembelaan,
otakku lemah untuk berontak,kuasa tak dipunya,
teriakku pun menyempit serak!
alasan diantara logika aku menyimpannya untuk tanggungjawabku dihadapan-Nya..
bukan dogma nista seperti kalian punya.
karena kemenangan dan kekalahan takkan pernah terengkuh..
kita hanya berhak mendekatinya!!”

“Penyesalan hanya sebuah kata, tapi aku slalu mengulangi kesalahan yg sama
aku berusaha bangkit dari tangis sedihku, memulai aktifitasku seperti biasa ..
Menghias diri, mendandani diri, berusaha membuat mereka tertarik padaku ..
Laki2 itu mendekat padaku, laki2 yang berbeda dengan malam kemarin ..
Hatiku berdegup kencang, akankah malam ini terulang kembali ??”
Laki2 itu tersenyum padaku,
Wajahnya yang tak setampan laki2 malam kemarin
Membuat hatiku semakin berdegup kencang ..
“Mau dibawa kemana aku ? Apa aku harus melakukan hal yg salah lagi ?”
Pertanyaan klasik mualai menyeruak berjejal dikepalaku.
Aneh? Laki2 ini tak membawa wanita itu ke hotel ataupun penginapan, ia membawaku ke restoran mewah, restoran tempat orang kaya menghamburkan uangnya demi mkanan yang tak lebih enak dari angkringan pinggiran jalan yang sering dilewatinya.
Perempuan itu terkejut dan bertanya:
''Untuk apa kita disini??''
''Aku sayang kamu'' Laki-laki itu menjawab,
Hatiku terkejut, kaget, sekaligus tak percaya ..
''Apa yang ia ucapkan tadi??” Wanita itu kembali dihinggapi tanya dalam hatinya.
“Aku tidak bermaksud untuk mendengarnya, aku hanya tidak sadar, hanya pingsan keletihan dan belum jua siuman. hanya terhipnotis bandul jam yang bergerak kiri kanan dan berdetak dalam keteraturan. Membuat raganku beku. Lidahnku kelu. Hatiku membatu. Imajinasiku buntu. Meski kadang dalam tidur imajinasiku memberontak terbang. Mengepakkan sayap bersama dengan burung-burung dan kupu-kupu. Mengendarai ikan paus di samudera lepas. tapi aku tak pernah mengharapkan cinta darinya.. jangankan berharap, berfikirpun aku tak pernah!”

“Kamu kenapa?” Laki-laki itu mulai menangkap gelagat kurang baik.
“Masihkah ada cinta untukku dari seseorang yg tulus menyayangiku ?
Masih pantaskah aku untuk di cintai ??
Masih pantaskah aku untuk dipuji ??” Wanita itu memberodong pertanyaan.

“Tidak selalu cacian, hujatan, & amarah yg pantas untuk wanita seperti kau ..
Di hati kecilmu, aku yakin kau mendambakan sesosok pria yg mau menerimamu dengan segala kekuranganmu, mungkin kau berfikir kalau itu MUSTAHIL
Sebenarnya apa yang sedang mengkhianati diriku? hingga aku merasa sama sekali tidak bersalah atas debaran di dadaku yang begitu memukau?
Apa salah aku yang sedang memberi pengakuan,
sehingga aku merasa begitu lama membuang-buang waktu?” tegas laki-laki itu


____Apakah hidup diberikan supaya manusia tidak punya pilihan selain berbuat baik?
Dan mengapa pertanyaan-pertanyaan seperti itu baru datang ketika sang algojo waktu sudah mengulurkan tangan??
Gelisah kadang tak harus berujung,,,tapi adalah lebih penting bagaimana caranya untuk bisa menikmati gundah-gulana ini. Karena selalu ada rencana dibalik setiap kejadian_____

******

Edited by : Deny Joe
Original Post : http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150089299687400&refid=21

AYAH YANG PERKASA


AYAH YANG PERKASA
(Denyjoe/2010)

Berapa Banyak?
Tak ada satu bilanganpun yang mampu menghitung..
buliran peluh yang menetes dari setiap gerak perjuanganmu..
Telapak tangan yang mengeras, tulang yang kian merapuh..
Terus, tak berhenti dibantingkan..

Seribu cita yang menggantung..
Memapahmu tak berhenti berkobar..
Jejak-jejak telanjang kaki tertancap dalam..
menopang tinggalkan sejarah menuju era yang selalu termimpikan..

Ayah..
Kau yang perkasa..
Membiarkan lambungmu kering walau menjerit..
Sisakan harapan dalam keajaiban..
Deru setiap hembus nafasnya..
Terselip doa mewangi..
Membuatmu bertahan,
meski bunga yang mekar musim semi kemarin telah gugur berganti..

Minggu, 06 Februari 2011

MENGEJAR LAJU KEMUNGKINAN


MENGEJAR LAJU KEMUNGKINAN
(Denyjoe/2009)

Membangun,,
mengawali dengan tetesan keinginan..
Diguyurkan seluruh raga..
Hingga terbasuh dalam satu niatan yang suci,,
Kepercayaan dikumpukan ,,
meraih konvidenitas level tertingi ..
Sampai kekuatan pun prima ,,
Menerjang aral melintang membabat bala,,

Inikah kesempatan perubahan ??
Serasa gurauan memelas realitas .
Titik temu mulai mengabur ,,
Perubahan mungkinkah teratur ku dapati,,
ku jalani,, kunikmati,,

Tapi lihat saja nanti…
Sebanyak sudut derajat lingkaran..
Sebanyak itu kemungkinan bisa terjadi menunggukan hasil..
Mengejar laju ,, tak putus dan berlanjut pencarian,,
Walau bukan dari situ..(denyjoe*)

Sabtu, 05 Februari 2011

ADA MEREKA


ADA MEREKA
(Denyjoe/2010)

Cemas…
Keadaan saat ini kenapa terjadi?
Mengangankan kemaenangan..
Bermimpi kejayaan..
Menutup mata akan sebuah kesempatan..
Berfikir logika ketika dogma hidup menghinggapi..

Beban..
Memang akan terasa berat..
Saat spekulasi kita tak mampu menanggungnya..
Tapi percayaku..
Ada mereka mendukungku..
Memapah..
Mengarahkan..
Mengalahkan..

Walau sejenak tak pernah tampak nyata meraka..
Tapi pancaran energinya begitu terasa..
Aku yakin..
Mereka tetap ada.. menyatukan semangatku..
Merendakan asa dibalik rajut kekosonganku..(denyjoe*)

Rabu, 02 Februari 2011

HARAPKU SEMANGATKU


HARAPKU SEMANGATKU
(Denyjoe/2009)

“Aku harap ini adalah jalan yang benar,
untuk bisa mengantarkanku kepada hari esok yang lebih baik”

Meski kadang ku meragu …
hari esok akan lebih baik dari hari ini ..
tapi langkah kakiku selalu menuntunku kepada sebuah keyakinan,
bahwa aku akan menemukan terang setelah kulewati gelap ini..

Setiap desah nafas menjadi doa ..
sepanjang pandangan mata kemuka membentangkan harapan..
takkan memudar selama bumi berotasi,
selama usia belum tertutup ..

Telapak kaki yang mengeras setelah jauh berjalan,
kulit dahi yang mengkerut seteleh lelah berpikir,
sebuah proses memang tak mudah ..
Menyulitkan bahkan menyakitkan ..
Tetapi karena kilau sebuah asa ,,
seluruh beban tak pernah terasa dan dirasa ..

Karna kau harapanku … menjelmalah semangatku! (denyjoe*)

Selasa, 01 Februari 2011

SAYA BISA TERBANG, TAPI SAYA TAK INGIN TERBANG!


SAYA BISA TERBANG, TAPI SAYA TAK INGIN TERBANG!
(Sebuah Cerpen Oleh: DENY JOE)

Tuuuuuuut….Tuuuuuut!!!!!

Saya melayang…!!! Saya bisa terbang...!!!!
Di balik punggung saya tumbuh sayap berbulu rapat teranyam. Badan saya terasa ringan, kapas randupun kini kalah ringannya. Burung bebaspun kini sejengkal lagi saya jangkau.
Awan jernih saya jilati seperti harumanis dipasar malam. Bintang-bintang saya tabraki dengan kepala, saya rangkaikan jadi mahkota.

Tuuuuuuut….Tuuuuuut!!!!!

Saya melayang… Saya bisa terbang... pasti orang-orang akan kagum jadinya.
Tapi, kenapa orang-orang meringis? Sebagian menjerit? Sebagian lagi Menagis haru? Ada juga sebagian yang kelihatan mual lalu muntah! Orang-orang makin berkerumun, perempan dengan tinggi badan yang tak tinggi mencoba melongok kebalik kerumunan, dari belakang kaki mungilnya menjinjit, anak kecil berkaos gombrang dengan robekan diketeknya terlihat merangkak mencoba melongok kebalik kerumunan diantara betis-betis yang berderet memagar, betis berbulu, betis mulus, betis kecil, betis besar,dan betis penuh bekas luka. Macam macam bentuk, macam-macam juga alas kakinya. Ada yang bersepatu sport, bersepatu lancip mirip aladin, bersepatu mengkilat, bersendal hak tinggi, bersendal tipis, bersendal jepit cap walet, bahkan ada juga yang tak beralas kaki. Tapi saya yakin banyak dari mereka yang memakai barang imitasi. Persetan! saya sudah tak membutuhkan alas kaki lagi, sekarang saya punya sayap, saya bisa terbang!

“Coba permisi..minggir sebentar ya”
Tiga orang petugas berpakaian seragam warna dongker membelah kerumunan.

“Yang didalam sudah lapor kepada yang berwajib?” Kata seorang petugas berpakaian seragam warna dongker yang berkepala botak kepada temanya.

“Sudah pak!” Yang ditanya menyahuti.

“Kalau begitu mari kita rapikan potongan-potongan yang tercecer ini, jangan sampai ada yang tertinggal, harus teliti! Bercakan merah taburi kopi supaya tak amis!”

Para petugas berpakaian seragam warna dongker mulai bergerak sesuai perintah, tanpa aba-aba terlihat beberapa orang murah hati dengan suka rela membantu para petugas berpakaian seragam warna dongker melakukan pekerjannya. Ada yang memang berhati nurani tinggi tanpa pamrih, ada yang mencuri kesempatan mencari sesuatu untuk bisa diamankan kemudian dimanfaatkan. Sifat mereka tak terlihat. Hanya bentuk saya yang bertengger fokus tanpa cacat di pelupuk mata berdiafragma lebar.


Tuuuuuuut….Tuuuuuut!!!!!

Saya melayang… Saya bisa terbang...tapi sebentar, dalam pandangan saya tiba-tiba dari arah tenggara muncul segerombol POLISI berpakaian seragam lengkap datang ke tempat yang tadi dikerumuni orang-orang, kali ini orang-orang sudah tak mengerumun lagi, tapi hitam bola mata mereka masih tertuju kearah titik kerumunan tadi. Satu , dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh dan semua orang mulai bercerita tentang empiris beberapa saat lalu ditambah berjuta persepsi dari sudut pandang mereka yang tak terukur. Beradu argumen teoritis, agamais, sosialis, merasa paling benar, merasa paling tenar.

“Tadi mata saya benar-benar dengan jelas melihatnya!”
“Tadi saya hanya mendengar kuping saya dengan jelas menangkap jeritannya, mata saya tak berani melihat!”

“Saya tidak melihat, saya juga tidak mendengar langsung, saya hanya bertanya kepada orang-orang, saya hanya menulisnya, dipadukan dengan gambar yang sedang diambil oleh fotografer yang sedang memotret lokasi, lalu memuatnya di Koran esok pagi.”

Rupanya Orang yang terakhir bercakap adalah wartawan pantas saja di lehernya menggantung ID-Card bertulisan PRESS sibuk mondar-mandir mengajukan beberapa pertanyaan kepada orang-orang, tukang asongan, pengumpul bekas air minum, peminta-minta, penjaga lintasan, para penumpang, petugas stasiun, dan yang dia anggap perlu keterangannya. Temannya juga sama tapi dia lebih disibukan dengan kamera besar ditangannya, potret sana, potret sini, semua angle dipotretnya yang padahal cuma butuh satu foto buat koran esok, karena spasi halaman yang terbatasi.

Tuuuuuuut….Tuuuuuut!!!!!

Saya melayang… Saya bisa terbang...
Sesaat sebelumnya terdengar sayup orang-orang berteriak, tapi saya tak hirau!. Sesaat juga terasa beberapa orang dibelakang saya mau meraih saya, mencoba menarik saya, menarik baju kantor saya, menarik tangan saya, menarik celana saya, menarik kaki saya, menarik sepatu saya, menarik tas saya, apapun yang bisa ditarik, tapi saya tetap juga tak mau hirau.

“Awassss…!!!!”
“Woooyyy…minggir!!!”
“Mau mati lu ya??”
“Wooooyyyy!!!!!!”

Saya sempat sadar ketika semprotan bunyi klakson berteriak kencang memekik, gemuruh roda besi yang beradu dengan rel terasa mendekat. Sesuatu yang sangat kencang merangkak kearah saya seakan mau menubruk. Ada getar seperti gempa gemeretak meluluhlantakkan. Tapi tetap saja saya tak menghiraukan teriakan orang-orang disekeliling. Padahal mereka semakin kencang berteriak, matanya sampai mau keluar, lidahnya seakan menjulur, suaranya menyerak kemudian mengelos mungkin pita suaranya pun rusak karena terlalu kencang berteriak, tapi tetap saja saya tak menghiraukannya.

Tuuuutttt…… Duuukkkk…. Craaasshhhhssss…… awwwwww……

Saya merasa baru saja ada kilat yang menyambar saya. Tubuh saya terguncang, mata saya silau tak berkesip, tangan dan kaki saya kaku membeku, aliran darah terhenti seiring jantung yang juga berhenti berdegup. Tapi badan saya jadi terasa sangat ringan, saya merasa dibelakang punggung saya mulai tumbuh sesuatu, saya rasa ini adalah sayap, saya mengetahuinya karena saya memang sangat suka makan ayam apalagi sayapnya. Baik di dirumah, warteg, angkringan, maupun tempat-tempat makan urban ala Amerika.

Tuuuuuuut….Tuuuuuut!!!!!

Saya melayang… Saya bisa terbang...
Saya menjadi bingung.. kenapa saya bisa terbang? Padahal tak pernah sedikitpun saya ingin terbang. saya merasa bingung menggunung seperti menggelung-gelung. Kenapa? istri saya menangis pilu tersedu sedan memeluk dua anak saya yang juga menangis sesegukan. Aliran air mata mereka membawa laju peahu kepedihan menyayat. Memekik sebentar, tertahan kertas tisu yang basah dan kembali meracau tak terarah.

“Suamiku….!”
“Ayahku…..!”

Para tetangga berkumpul disetiap sudut rumah saya, sebagian membaca ayat suci ktab agama saya, sebagian membuatkan sesuguhan, sebagian membawa cangkul kemudian membuat lahat, dan sebagian mengibarkan berdera kertas warna kuning bertuliskan nama saya. Bersenandung doa melancarkan pujian sampai terpejam berharap kekhusukan.

“Sesuguhan!! Ada acara apa ini? Ulang tahun? Lalu siapa yang ulang tahun? Anak saya yang pertama sudah dua bulan yang lalu, anak saya yang kedua tiga minggu sebelumnya, istri saya satu bulan sebelum anak saya yang kedua, saya? tidak mungkin! ulang tahun saya bulan depan tepat tanggal dua puluh tujuh…………
………
………
Bendera Kuning!! Inikah kematian saya? Inikah saatnya saya menembus alam ketiga setelah alam rahim dan dunia? Inikah akhir dari setiap tetes peluh perjuangan saya? Inikah saatnya orang-orang mewisuda saya, menambahkan gelar ALM. didepan nama saya? Menjuluki istri dan anak-anak saya dan memberikan sertifikasi kepada mereka dengan titel JANDA dan YATIM!!”

Saya melayang… Saya bisa terbang.. walaupun sebenarnya saya tidak ingin terbang…

Terbang meninggalkan semua baik buruk, hitam putih, gegap gempita kemilau dunia yang selama ini saya berusaha merengkuhnya. Sedikit banyak semua sudah pernah saya nikmati, ternyata benar kata orang-orang yang bicara kalau hal-hal duniawi tak akan abadi mengikat, dan ikut dengan kita. Apakah amal saya sudah bertumpuk? Apakah ilmu saya sudah bermanfaat? Dan apakah anak-anak saya akan menjadi anak yang saleh dan mendoakan saya?

Saya melayang… Saya bisa terbang.. walaupun sebenarnya saya tidak ingin terbang…
Tapi sejenak fikiran saya memberat, logika rasionalis tak berfungi, buat apalagi dialektik! Tapi saya rasa ini adalah babak baru perjalanan saya dan sayap saya. Walaupun saya meragu apakah ini benar jalan saya menuju surga atau jangan-jangan saya tersesat sebaliknya, dan mengarah ke neraka?
Dalam risau saya hanya bisa meracau :
“ Saya melayang… Saya bisa terbang.. walaupun sebenarnya saya tidak ingin terbang…”
******

*Denyjoe/ 2010 (Dedikasi buat korban yang ditabrak kereta api di Stasiun Kranji, Bekasi, Jawa Barat, Jumat (17/12/10) Pagi. Jasad korban terseret 100 meter dan ditemukan di selokan sisi rel. yang saya lihat dengan mata kepala saya sendiri waktu saya hendak berangkat ke kampus)


Data Publikasi :
Banjarharjo community
Pohon ditengah Gurun Pasir
Fikom UMT

Senin, 31 Januari 2011

TERKOYAK BAYANGAN


TERKOYAK BAYANGAN
(Denyjoe/2009)

Terlintas tanpa sadar beribu cacian memaki..
Menerawang..mengkasatkan pandangan..
Kaki yang menjulur mengejang kaku..
Tak mampu menumpu beban memangku..

Mencoba lepaskan.. Biarkan dan bebaskan..
Isi kepala yang terkoyak bayangan kelam..
Mengarat besi tak terlepas terus mengikat..
Mengikis keteguhan, hempaskan ketegaran..

Helaian perjalanan semakin mengusut..
Menuntut sebuah akhir dan ujung..
Dalam keindahan yang menggoda dapatkan segera!
Mengurai satu demi satu tujuan ..
Walau ditengah kusutan terjebak lelah..

Takkan menyerah.. haram mengaku kalah..
Teruskan melangkah.. memapah seraut wajah dalam tabah..

Sunat Perempuan: Mencubit "Titipan Setan"


Sunat Perempuan: Mencubit "Titipan Setan"
(sumber: Hmajalah Tempo, 22 Oktober 2006)


Departemen Kesehatan mengimbau kalangan medis untuk tidak menyunat perempuan. Banyak yang percaya perempuan wajib sunat.

Bunga bukan nama sebenarnya-masih dihantui trauma akibat kejadian 27 tahun lalu. Berdua dengan adik perempuannya, ia diantar ke seorang bidan. Kedua gadis kecil yang bermukim di Sawangan, Depok, Jawa Barat, ini rupanya disunat. Bunga masih 9 tahun waktu itu, adiknya 1,5 tahun.

Ayah Bunga membujuk. "Ini rasanya seperti dicolek saja. Lagi pula, bagus untuk kesehatan," ujar Bunga menirukan bujukan sang ayah.

Tibalah Bunga di ruang periksa. Ia disuruh duduk dan melihat ke langit-langit. Bidan memberi suntikan pengurang sakit. Toh, sayatan pisau pada klitorisnya tetap membuatnya menjerit. "Ibu saya juga menangis melihat saya kesakitan."

Perih bekas sayatan masih dirasakan Bunga sampai beberapa hari. Selama itu, dia sekuat tenaga menahan keinginan untuk buang air kecil. "Saya takut pipis karena sakit sekali," ceritanya.

Bunga dan adiknya merupakan dua dari banyak perempuan yang pernah disunat. Dua pekan lalu, sejumlah organisasi perempuan nasional dan internasional mengadakan penelitian tentang praktek sunat seperti yang dialami Dewi. Penelitian itu mendapat rekomendasi dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan dilakukan selama tiga tahun. Lokasinya di beberapa tempat, antara lain Padang, Serang, Sumenep, Kutai Kartanegara, Gorontalo, dan Ambon. Ternyata, diketahui hampir semua perempuan di Indonesia dikhitan.

Sunat dijalankan dengan cara berbeda-beda. Yang sama adalah obyeknya, klitoris. Yang mengagetkan, "Tujuh puluh dua persen dilakukan dengan cara-cara berbahaya dan 28 persen dilakukan secara simbolis," kata Sri Hermianti, Direktur Bina Kesehatan Ibu dan Anak, Departemen Kesehatan.

Tindakan berbahaya yang ia maksud antara lain melakukan sayatan, goresan, atau pemotongan secara insisi, yaitu tanpa ada jaringan yang terlepas, dan eksisi, yaitu memotong melepas jaringan. "Jika klitoris sudah rusak, berarti dia tidak punya kepekaan terhadap lawan jenisnya. Itu berarti merusak proses reproduksi seksualnya," ujar Sri.

Dalam jangka panjang, rusaknya klitoris bisa mengakibatkan gangguan menstruasi, infeksi saluran kemih kronis, radang panggul kronis, dan disfungsi seksual. Bahkan risiko tertular HIV/ AIDS pun menjadi lebih tinggi. Karena pertimbangan itulah Departemen Kesehatan mengimbau tenaga medis profesional, dokter dan bidan, tidak melakukan sunat pada perempuan.

Imbauan yang dikeluarkan Departemen Kesehatan segera memancing perdebatan. Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Ma'ruf Amien mengatakan imbauan itu tidak benar. Sunat, menurut dia, merupakan bagian ajaran Islam yang harus dilaksanakan, bukan malah dilarang.

Di masyarakat sendiri ada kepercayaan bahwa perempuan wajib disunat seperti halnya laki-laki. Masyarakat Goronta10, misalnya, percaya ada segumpal daging kecil sebesar butiran beras yang menempel pada klitoris. "Menurut para leluhur, yang menempel pada klitoris itu titipan setan dan harus dibersihkan," kata Farha Daulima, pemuka adat Gorontalo.

Dalam tradisi Gorontalo, bocah perempuan usia satu sampai dua tahun akan menjalani masa adat. Saat itu mereka harus mengikuti upacara mopolihu lo limu - mandi air ramuan limau purut dan mongubingo, khitan atau mencubit daging yang menempel pada klitoris. Secara turun-temurun mereka percaya, jika hal itu tidak dilakukan, maka anak yang dilahirkan tetap membawa barang haram

Secara agama, khitan pada lelaki maupun perempuan juga dianggap kewajiban bagi setiap muslim suku Gorontalo. Alasannya lain lagi. "Khitan akan membatasi nafsu perempuan," kata D.K. Usman, pemuka agama.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) sejauh ini belum mengambil sikap. "Belum ada pertanyaan yang langsung dari masyarakat, lembaga, atau pemerintah ke kami, sehingga belum dibahas secara profesional dalam Komisi Fatwa," kata Ketua MUI Amidhan.

Ia hanya menerangkan, menurut mazhab Maliki dan Hambali, khitan perempuan dianggap sebagai tindakan kemuliaan, asalkan tidak berlebihan. Sedangkan mazhab Syafi'i, yang dianut banyak ka­langan di sini, mewajibkan sunat pada perempuan.

Merujuk kepada keterangan itu, Amidhan berharap petugas medis tidak menolak untuk mengkhitan perempuan. "Lebih berisiko kalau masyarakat lari ke bidan kampung yang standar kesehatannya tidak terjamin," katanya.

Sudah waktunya juga kesehatan reproduksi perempuan jadi pertimbangan.

BERMAIN HUJAN


BERMAIN HUJAN
(Denyjoe / sore hari / 23 desember 2010)


Senyum payau menyungging merekah..
Dijatuhi buliran hujan yang membasah..
Anak-anak kecil itu tak berhenti berteriak..
Tak tahu lelah dalam sebuah akhir suara serak..

Mata kecil menyipit menghalau kilat..
Sesaat gemuruh langit menggelegar hebat..
Anak-anak kecil itu tak berhenti berlarian..
Tak tahu celah jari kakinya mengerut kemudian..

Lubang telingapun sesak tersumbat..
Tak hirau para tetua berdiri mengumpat..
Anak-anak kecil itu kini tak berhenti mengigau erang..
Tak tahu gigil gemetar tubuhnya mulai menyerang..

Tenggorokan mengering terkuras hebat..
Bersama butiranserbuk yang ternyata adalah obat..
Anak-anak kecil itu tak berhenti sesegukan..
Tak tahu kalau inilah akhir bermain hujan..(JOE*)

DALAM 3x3


DALAM 3x3
(Denyjoe/2009)

Selepas lelah kuharap akan datang cepat..
Setitik ketenangan diantara tenggorokan yang serak..
Dalam mata yang memucat sayu..
Dan kepala yang terus berputar 7 kali putaran..

Gumpalan pikir menerawang cakrawala..
Menembus dimensi rasio dan relitas..
Bermimpikan keagungan..
Sebagai penghibur saat kemelut hati gundah..
Dan kian membaur dengan gelisahnya…

Semua masih sama...
Masih dalam pengap sepetak ruang..
Dengan langit-langit yang membercak kecoklatan..
Dinding yang mulai rontok debukan kotori lantai..

Baling-baling dari kipas kecil masih terus berputar..
Lumayan tiupkan sejuk walau tak banyak..

Entah apa yang sedang terjadi…??
Satu sisi melakukan,
tapi sisi lainnya memungkiri perbuatan..

Kubasuh tenggorokan yang serak..
Dengan tetesan mineral sisa siang tadi..
Kubaluti dengan asap putih dari batang racikan tembakau..
Yang ujung penghisap busanya berwarna coklat..

Detak dari detik waktu tak terdengar..
Kemanakah?
Atau mungkin sudah berhentikah waktu menghitung perjalanan putaran dunia..
Yang terdengar hanya desingan rotasi dari 3 sudut baling-baling..
Yang sudah mulai kusam berdebu..
Dalam ruang 3x3..

NIKMATNYA KOPI TUMPAH


NIKMATNYA KOPI TUMPAH
(Denyjoe/2009)

Dalam sore ini…
Seharusnya senja memekat jingga..
Tapi mendung lingkari bentangan langit sejak pagi..
Tertumpah tetesan hujan membentuk gerimis..
Meresap kedalam pori tanah menyebar bau basah..

Aku pun bergerak dari kebekuan…
Panaskan secangkir air dalam ceret hingga membuih ..
Sebungkus kopi instant tertinggal .. Ku menyobeknya..
Larut bersama adukan plastic yang terlilit menyatu dengan panasnya air tadi..

Racikan istimewa memang .. mataku tersentak membuka penuh seketika ..
Aliran darah serasa terpompa normal mengisi setiap sudut urat syaraf..

Tak biasanya .. lintingan tembakau kalini berwarna putih .. tak seperti kemarin yang berujung coklat. Percikan bunga api disambut gas tertekan .. menyalalah korek apiku..
Membakar ujung batang rokok dibantu hisapan nafas dari ujung sebelahnya..

Koran kemarin kubuka kembali .. menelusuri rangkaian huruf yang belum sempat terbaca. Membolak balik dengan sibuknya .. tangankupun tak terkendali dan sesaat itu … DAMN ! cangkir kopiku tertabrak gerakan tanganku dan tertumpah …

Senin, 24 Januari 2011

KARENA AKU ADALAH SEEKOR LALAT



KARENA AKU ADALAH SEEKOR LALAT
(Sebuah CERPEN oleh : DENY JOE)

Ini adalah aku…
Aku yang banyak mendapat julukan dari orang-orang itu, mungkin kekaguman, kebencian, atau mungkin ungkapan perasaan jijik mereka. Mereka menyebutku penjahat, mereka menyebutku penjilat, mereka menyebutku kotor, mereka menyebutku menjijikan, dan aku tak hirau apalagi menangisi cemooh mereka tehadapku. Aku tak peduli karena aku adalah hanya seekor lalat.

“Biasakan hidup sehat, jaga kebersihan, ingat, jangan buang sampah sembarangan!” kata seorang perempuan anggun berkebaya ketat warna merah hati dengan berukat yang mengkilat, mengingatkan anak laki-lakinya yang berseragam merah putih, ini aku dengar ketika aku sedang berkeliaran bersama teman-temanku yang juga mendapatkan banyak julukan serupa denganku dari orang-orang itu.

“Iya bu… maafkan aku khilaf bu…” dengan segera anak laki-laki berseragam merah putih itu meremas bungkus eskrimnya dan memasukannya ke saku depan tas slempang bertuliskan Boy London yang penuh dengan buku itu.
Aku mengikuti mereka beberapa satuan jarak. Tapi, aku mulai kehilangan jejak mereka setelah masuk ke kawasan kumuh padat penduduk. pandanganku akan mereka mulai kabur diantara hiruk-pikuk orang-orang itu.

Aku masih bersama teman-temanku, masih menjilat, masih kotor, dan tetap menjijikan. Aku dan teman-temanku tak hirau akan semua julukan itu. karena perut kosong ini harus terisi, kerongkongan kering ini harus terbasuh, agar ketika malam mulai menjelma aku dan temn-temanku bisa leluasa bermimpi. Sama seperti mimpi seorang perempuan anggun berkebaya ketat warna merah hati dengan berukat mengkilat, yang memimpikan anak lakilakinya yang berseragam merah putih menjadi seorang yang bisa hidup dengan sehat, selalu menjaga kebersihan dan tidak membuang sampah sembarangan.

“Tahu apa kau? Sudahlah kau jangan sok mengaturku! Lagian kan ini cuma selembar kertas usang.. dan tak mungkin membuat banjir!kau juga harus tahu kalau kertas ujian ini aku bawa pulang kerumah, ibuku akan marah besar, lihatlah! Nilaiku sama seperti warna celanaku dan rokmu. Merah!” Anak laki-laki berseragam merah putih itu membentak teman perempuan yang juga berseragam merah putih, rambutnya di kucir kuda dengan pita juga warna merah.

Seperti biasanya aku dan teman-temanku berkeliaran di tempat kotor untuk menjilat sesuatu menjijikan.

“Hey lihat! Bukanya itu anak yang kemarin?”

“Yang mana?”

“Itu anak laki-laki yang berseragam merah putih!”

“Aku tak mengenalnya.. Memang kau kenal?”

“Tidak.. tapi kemarin aku melihat dia bersama seorang perempuan anggun berkebaya ketat warna merah hati dengan berukat mengkila, Ahhh Entahlaahhh...” Aku tak peduli karena aku adalah hanya seekor lalat.


Rumah tiga petak dalam kerumunan rumah serupa, Barantakan! Tak ada lukisan tergantung di dinding yang kumal hanya potret hitam putih 10R yang diujungnya membercak kotor yang tergantung, tak ada pas bunga apalagi guci keramik terpajang disudut petakan paling depan, hanya ada meja kecil penyangga televisi yang juga kecil, bertabung cembung.
“Kreeekkkk”
Pintu depan terbuka, anak kecil berseragam merah putih muncul dicelah pintu yang terbuka perlahan, membuka sepatu yang yang mulai berlubang dialasnya, keningnya mengeryit, matanya terbelabak, petakan ruang depan tampak berantakan, memang selalu berantakan! tapi kali ini lebih dari biasanya..

“Ada apa ini? Banyak sampah,kotor sekali? Kemanakah ibu?” Anak kecil berseragam merah putih itu membatin seketika.

Kemudian anak kecil berseragam merah putih itu memindikan kaki perlahan menuju petakan kedua, terdengar dengus nafas yang sengal dan erangan ibu seolah kesakitan, penasaran memenuhi kepalanya, dengan cepat ia melongok celah pintu kamar yang tak rapat.

“Sedang berbuat apakah ibuku? Siapa lelaki yang menindih ibuku wajahnya tak seperti ayah? Lagian sejak aku lahir tak pernah aku melihat ayah, aku hanya pernah melihatnya melalui potret kecil usang dalam kotak dalam lemari yang terkunci, dan teman-temanku kadang menyebutku anak haram, kotor, najis,dan menjijikan mungkin karena aku dilahirkan tanpa seorang ayah.Kenapa ibuku menjerit kesakitan? Orang jahatkah lelaki itu?” Anak kecil berseragam merah putih itu kembali membatin penuh tanya.

“ Eh ade udah pulang? Ko ga ngucapin salam?” kata seorang perempuan anggun yang kali ini tak berkebaya ketat warna merah hati dengan berukat yang mengkilat, tapi hanya berikat kain polos dengan peluh masih terlihat dikeningnya.

“KENTANG!!!” Gumam seorang lelaki berkumis setengah tua sambil membenarkan resleting celananya dan kembali mengenakan kaosnya.

“Ini aku kasih setengah saja! Untuk puncak yang belum tersentuh!” lelaki berkumis setengah tua itu memberikan uang lembaran warna merah jambu.

“ Dasar perempuan jalang, sampah, penjilat, kotor, menjijikan! Lalu kenapa aku menikmatinya? Ah persetan! Aku tak peduli, mungkin aku adalah seekor lalat! hahahahahah” lelaki berkumis setengah tua mengerutu sendiri didalam mobilnya sambil menyetir keluar dari kawasan kumuh padat penduduk. Melewati beberapa tempat tumpukan sampah yang menggunung.

__Lelaki itu ternyata baik, atau pura-pura baik, atau justru malah penjahat, penjahat kelamin? Anak kecil berseragam merah putih diselimuti Tanya yang tak terjawab___


Televisi kecil di ruang depan kali ini tengah menyala, tapi film kartun kesukaan anak kecil itu telah usai, berganti iklan dan sekilas berita.

“Tahan!! Coba lihat, bukannya itu lelaki berkumis setengah tua yang kemarin ada di kamar ibu? Sedang apa lelaki itu muncul di televisi? Bahasanya terlalu rumit untuk ku mengerti, mungkin nanti kalau aku sudah besar baru aku bisa mengerti, yang aku tahu hanya tulisan dibawah gambar lelaki berkumis setengah tua itu yang dapat kubaca: DIRUT PT. KELOLA SAMPAH JADI TERSANGKA KORUPSI, apa pula ini? Entahlaaahhh…” Anak kecil yang kali ini tak berseragam merah putih itu bergumam.

Gedung pajang membujur terpetak-petak seperti barak, terlihat banyak anak-anak berseragam merah putih lalu lalang disana, ada juga beberpa orang tua berseragam safari disana, ini yang disebut SEKOLAH DASAR. tepat disebelah kanan gedung itu agak menjorok kebelakang ada suatu tempat yang sengaja dibuat untuk menampung tumpukan sampah yang kotor. Anak-anak kecil berseragam merah putih yang melewati tempat itu akan dengan jelas membaca tulisan yang tertera didepan tempat tumpukan sampah itu: JAGALAH KEBERSIHAN, BUANGLAH SAMPAH PADA TEMPATNYA.
Aku bersama teman-temanku kali ini berada dalam tempat itu, masih menjilat, masih kotor, dan tetap menjijikan. Aku dan teman-temanku tak hirau akan semua julukan itu.

Entah datang darimana tiba-tiba rasa penasaran bergelayut dikepalaku, lalu aku mencoba mendekati suatu ruangan dimana anak kecil berseragam merah putih yang sering aku lihat ada didalamnya, dia sedang belajar, entah belajar apa aku tak tahu dan akupun juga tak mau tahu.
Tiba-tiba aku tersentak ketika anak kecil berseragam merah putih yang sering aku lihat itu mengacungkan tangannya dan bertanya kepada lelaki berseragam safari yang tengah berdiri di depan papan tulis.

“Pak guru!!! Saya mau tanya : apakah itu Korupsi??”

“ Korupsi? Mmm… apa ya? (ada-ada saja pertanyaan anak ini)”
Korupsi itu seperti penjahat, penjilat, kotor, menjijikan, seperti sampah yang harus kita bersihkan dan kita buang pada tempatnya!!!” Lelaki berseragam safari itu menjelaskan.

Aku yang memperhatikan dari balik jendela kelas itu kaget bukan kepalang. Ternyata ada lagi yang memiliki julukan yang sama dengan aku dan teman-temanku..
Perasaan senang atau perasaan sedih aku tak tahu, Senang karena ternyata julukan dari orang-orang itu tak hanya di lontarkan kepada aku dan teman-temanku. Sedih karena ternyata julukan dari orang-orang itu telah terbagi kepada orang lain. Tapi sekali lagi aku tegaskan aku tak peduli dengan semua itu karena aku adalah hanya seekor lalat.

Cinta kebersihan… Bersihkan sampah… Buang pada tempatnya…

*********