Kamis, 11 Juli 2013

MENCINTAIMU

MENCINTAIMU
            Di tengah ratusan kenangan, diterpa luka yang tak kunjung tiba dalam kesembuhan. Merambat, menjulur-julur api menyerupai lidah yang bercabang. Dimana kebenaran dan kesalahan telah buram, kesakitan dan kesenangan saling mencumbu.
            "Lalu, bagaimana bisa aku tak mencumbui kedalamanmu, sementara telah enam musim ku gelindingkan hati, yang disakralkan! Tetap tidak kutemukan perempuan, yang ingin kujadikan ibu bagi anak-anakku, kecuali perempuan yang kucintai saat ini: karena itu kucintai kau, Dear!.”
            Raut muka yang layu, seakan tak jera mengukur dan menata kerut dahi. Dimana kecantikan itu? Aku melihatnya meski mata berhalang kabut. Meski retina tampak jelas bila berkaca. Bias sinar yang menembus celah kecil pupil, membawa hangat pencair kelu, pemusnah gelisah.
            Menggigil dalam tiap kedinginan, membutakan mata pada setiap tatapan. Merentangkan tali, memapah jejak yang buta, kemudian tercekik pada tali itu sendiri.
            ''Kerinduan yang berlumur duri, beterbangan bak siulan rajawali, bercipratan macam loreng macan kumbang, mengaum dan terbahak mencabik daging dalam bahagia, duri yang bahagia, rajawali yang bahagia, macan yang bahagia, tak berbanding dengan aku yang bahagia mencintaimu."
                                                                                    Denyjoe | 110713 | 10:19 | APR-KG