WEALTH

When wealth is lost, nothing is lost; when health is lost, something is lost; when character is lost, all is lost.

SEEKING

The real voyage of discovery consists not in seeking new landscapes, but in having new eyes.

SMOKE

One may have a blazing hearth in one's soul and yet no one ever came to sit by it. Passers-by see only a wisp of smoke from the chimney and continue on their way.

WEAPON

The most valuable possession you can own is an open heart. The most powerful weapon you can be is an instrument of peace.

SORENESS

Holding on to anger, resentment and hurt only gives you tense muscles, a headache and a sore jaw from clenching your teeth. Forgiveness gives you back the laughter and the lightness in your life.

Jumat, 18 Desember 2015

CERITA OBOR





CERITA OBOR
Sebuah cerita pendek oleh : Denyjoe

            Yang saya ingat, dia ingin menyalakan saya, dia ingin membakar saya.

            Saya terbuat dari bambu yang rapuh, minyak tak banyak, dan sumbu yang cepat sekali menjadi abu. Saya belajar menjadikan apa yang ada dalam diri saya sebagai sebuah kekuatan, kekuatan untuk membakar diri, kekuatan untuk memberikan cahaya untuk dunia saya yang memang gelap dan penuh ketakutan.
            Tak begitu ingat, yang masih membekas dalam ingatan saya ada sepasang kekasih dalam gemerlap dunianya ingin membuat pelita, apa daya tangan mereka hanya dapat merengkuh bambu, memotongnya, memberi sumbu dan kemudian memberi minyak. Ya, mereka hanya bisa menciptakan saya. Menciptakan obor. Tapi entah dengan alasan apa beberapa waktu selanjutnya saya dipaksa mencari api sendiri, api yang seharusnya diberikan oleh orang yang telah membuat saya. Saya tak bisa protes, apalagi kompromi. Mereka pergi tanpa ada satu diantaranya yang peduli dengan keberadaan saya, kenapa saya dibuat jika untuk diacuhkan, kenapa saya diadakan jika hanya dihadiahi ketidakpedulian. Saya tak pernah diberi api, jangankan api, kehangatanpun tidak. Saya membeku dalam lanjutannya kemudian.
            “Apakah saya ditakdirkan untuk tidak benderang?”
            Saya mencemooh diri yang dirasa tak sepatutnya pudar, ketika pameran cahaya terang berkelip-kelip indah dari ujung kiraban api sebaya saya. Berontak tak kuasa, menjerit payah tak juga tersuarakan meski resah. Saya benar-benar ingin membelah bambu tubuh saya, merautnya tipis, menjadikannya hinis. Mengiris nadi dilengan kiri tanpa miris. Dapatkah saya melakukanya? Sementara buliran air yang mengalir melalui tangis dengan leluasa memadamkan bara saya. Saya tak pernah meminta untuk menjadi pelita, pun tak pernah meminta untuk menjadi jelita. Ya, saya ada karena perbuatan mereka yang percaya bahwa pelita hadir sebagai balasan setimpal dari para pecinta. Percaya saja, yang justru ada tanpa diminta dari cinta adalah derita.

            Saya masih ingat, dia ingin menyalakan saya, dia ingin membakar saya.

            Menyusuri setapak tak berjalur, berliku tak terukur. Memapah langkah yang lemah bertudung amarah. Tanpa henti saya mencermati bagaimana jadinya jika sumbu saya tersulut api? Menyalakah? Terangkah? Atau tak bereaksi ketika sumbu saya memang teramat basah, bukan dengan minyak tapi air mata yang kerap membuncah. Bagaimanapun, tentu saja saya mengandung minyak, bahkan dengan tambahan energi yang banyak bisa saja saya meledak. Itu saya tak ingin, saya cuma mau saya disulut api yang tepat, menyala tanpa terhambat, dan menerangi dengan penuh rasa hormat sampai riwayat benar-benar tamat.
Saya masih mencoba belajar memaknai banyaknya pilihan api. Adakah diantaranya yang akan membebaskan saya dari kengerian sepi, adakah yang akan menghadiahi saya bahagia tak bertepi, adakah yang akan memberikan saya keikhlasan tanpa tapi. Satu persatu perlahan mengurut jenisnya, mencoba mengenali , meski pada akhirnya tangan saya seakan terbakar seringkali. Panas sekali.
            “Hey.. Saya adalah api yang pantas berkibar dalam mahkotamu!”
            “Hey.. Saya adalah api yang dengan benar akan membuatmu bersinar!”
Sungguh tak pandainya saya memilih api. Lihatlah, beberapa bagian tubuh menghitam oleh buruknya perlakuan saya terhadap beberapa api yang mencoba menawarkan dirinya sebagai peredam dendam. Tak jarang juga saya benar benar terbakar, dalam balutan janji-janji api yang masih saja mengandung ingkar.

            Akan selalu saya ingat, dia ingin menyalakan saya, dia ingin membakar saya.

            Adalah api dengan sabarnya mencairkan kebekuan saya, dengan tekunnya menghangatkan kedinginan saya, dengan tulusnya mengajarkan saya makna cahaya. Benarlah api, meski dengan begitu sabarnya Ia, ternyata saya sudah tenggelam dalam kebekuan, meski dengan tekunnya Ia, saya masih bertanya seberapa pentingnya cahaya. Terlalu bebal tubuh saya membangun kepekaan, mungkin saya butuh tumbal hingga rongga-rongga tubuh saya yang terbakar bisa benar-benar rapat tertambal.
            Adalah api yang dengan sepengetahuan saya bukan berasal dari matahari, tapi kemilaunya benar-benar mampu menembus jantung saya bagai ribuan panah berduri. Maka dengan sadarnya saya kemudian berkeinginan menghampiri, berkeinginan memahami, berkeingginan menguasai, berkeinginan memiliki. Saya memang ingin semua bagian dalam diri saya terisi dengan sebuah makna yang pasti, dengan sebuah kegunaan yang bisa diandalkan. Mungkin dengannyalah saya bisa dengan sebenar-benarnya menjadi diri saya, menjadi obor yang berkibar penuh gagah memancarkan cahaya. Menjadi pelita.
            “Ini semua karena kau! Saya tak pernah bisa membayangkan bagaimana jadinya saya jika tak pernah ada jumpa dengan kau, Api”
            “Kini kau telah menjadi dirimu, saya tak merasa berjasa karena saya hanya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan. Maka kubiarkan kau menjadi dirimu.”
            Lihatlah, ujung sumbu saya menyala berkobar-kobar mengandung ribuan cahaya yang bertebaran, pandangan mata menjadi semakin panjang meski waktu semakin karam dalam malam. Saya tak menyangka bahwa akan ada api yang benar-benar bisa pas dengan karakter minyak dan sumbu saya. Api ini tak hanya memberikan terang bagi jalan saya, tapi juga memberi tenang dengan hangatnya. Saya telah menyala. Saya telah bahagia.

            Dia tidak ingin menyalakan saya, dia hanya ingin membakar saya.

            Dasar bambu dan sumbu yang mudah sekali menjadi abu, dasar minyak yang mudah sekali hilang, habis dan tak lagi tampak. Perlahan saya membatasi tubuh saya dari apa yang sebenarnya dulu saya impikan. Saya tak lagi hirau dengan cahaya yang saya ciptakan bersamanya. Saya tak lagi peduli dengan semua kehangatan yang saya juga ciptakan bersamanya.
            “Kita ini obor, tak akan ada gunanya api jika tanpa kita, mereka hanya akan berubah menjadi bencana.”
            Ya, saya mulai tergerus dengan egoisme saya bahwa sayalah yang paling berperan menciptakan cahaya. Sayalah yang membuat api benar-benar bertahan menyala. Jadi cahaya itu milik saya, kehangatan itu punya saya.

Tak akan saya sesali, dia telah menyalakan saya, dan saya telah menjadi cahaya.

___________denyjoe 2015