WEALTH

When wealth is lost, nothing is lost; when health is lost, something is lost; when character is lost, all is lost.

SEEKING

The real voyage of discovery consists not in seeking new landscapes, but in having new eyes.

SMOKE

One may have a blazing hearth in one's soul and yet no one ever came to sit by it. Passers-by see only a wisp of smoke from the chimney and continue on their way.

WEAPON

The most valuable possession you can own is an open heart. The most powerful weapon you can be is an instrument of peace.

SORENESS

Holding on to anger, resentment and hurt only gives you tense muscles, a headache and a sore jaw from clenching your teeth. Forgiveness gives you back the laughter and the lightness in your life.

Kamis, 12 Maret 2015

HUJANLAH AWAN


HUJANLAH AWAN

Sebuah Cerita Pendek Oleh Denyjoe

Langit dengan giatnya mengumpulkan rayuan tanpa lelah, meski matahari tidak memberi celah kepada lautan untuk menguap. Tapi dengan gigihnya langit mengumpulkan sedikit demi sedikit kelemahan hingga akhirnya tak sadar air telah menjadi uap, menjadikannya awan. meracuninya dengan amarah, membumbuinya dengan benci.
“Kau tahu, kita adalah pemenang! Kita adalah yang tertinggi!”. Begitulah langit mencoba memenangkan hati awan.
“Kau sengaja dipisahkan Tuhan dari lautan, lautan tak memberimu apa-apa kecuali gelisah berkepanjangan. Disesatkan arus dalam dunia yang sempit, mengitari pulau yang tak begitu luas. Lihat, dari atas sini bumi begitu kecil bukan? Lihat dengan jelas!”. Tambah langit.
            Awan masih belum bisa banyak bicara, Dia bertanya dalam hati, apakah benar bahwa kini dia telah menjadi awan? Awan masih ada dalam ketidaksadarannya, ketidak tahuannya, dan dalam kebingungannya. Awan masih belum terbiasa dengan wujudnya sebagai awan. Meski semenjak dulu dia ingin sekali menjadi awan. Ingin sekali terbang tinggi, ingin sekali melayang mengangkasa, membentangi cakrawala.
            “Apa yang sedang kau pikirkan Awan?” Tanya Langit.
“Apa benar aku sudah menjadi awan? Dan aku adalah Awan?” Awan balik bertanya.
“Ya.. lihatlah.. disekelilingmu bertaburan bintang, kakimu sudah tak lagi menapak. Kini kau telah berada diatas. Kini kau adalah pemenang, kau adalah pemenangnya!”.
Tiba-tiba mata awan berbinar, sepertinya sekarang dia telah meyakini bahwa dirinya adalah awan. Seolah semua yang dulu hanya sekedar menjadi mimpi dan angan-angan kini benar-benar ada didepan matanya. Kini benar-benar ada dalam genggamannya. Setiap waktu bisa dengan leluasa menatap kemanapun, melihat apapun.
Mengawang-awanglah awan, seperti tertuntaskan semua dendam. Merasa puas atas apa yang ada dalam genggaman saat ini. Bagaimana tidak, bintang yang dulu hanya bisa digantungkan dilangit-langit kamar rumahnya yang sekarang bukan rumahnya saat ini langsung bersentuhan dengan kepalanya.
“Bagaimana? Disini indah bukan?”
“Inilah yang aku cari selama ini.”
Langit memang pandai sekali menyusup, belum lama awan menjadi awan langit langsung membuatkan tempat yang indah penuh keleluasaan dan kebebasan. Penuh dengan semua atribut pemuas ketidakpuasannya dulu.
“Disinilah tempatmu.”
“Terimakasih telah membawaku kesini, ketempat ini.”
“Sebentar, aku juga punya sesuatu untukmu.”
“Apalagi yang akan kau berikan padaku.”
“Ini adalah pita pelangi. Dia akan mengindahkanmu.”
“Pelangi? Kenapa hanya berwarna ungu? Bukankah pelangi terdiri dari tujuh warna seperti yang guru ilmu alam ajarkan? Atau minimal tiga warna seperti yang guru kesenian ajarkan, dalam nyanyiannya?.”

*****

Pria telah membenci hujan, sebelum dia kenal bahwa ketika langit gelap dan menurunkan air itu adalah hujan.

Kali ini dia merasa bahwa hujan memang pantas untuk dibenci, dimusuhi, dan diperangi. Bagaimana tidak, sekitar dua jam dari sekarang Pria dan kekasihnya : Gadis namanya ; akan segera bertemu sesuai dengan perjanjian. Setelah sekian lamanya Pria menunggu waktu, menghitung detik demi detik pertemuan dengan gadis yang sudah sebulan ini menghilang tanpa kabar. Pria cuma ingin tahu apa yang membuat Gadis tak berkabar. Pria cuma ingin menerima hukuman setimpal kalau memang Gadis pergi akibat dari semua kesalahan-kesalahan Pria. Pria ingin sekali kembali menawarkan mimpi memeluk gunung, mencubit bintang, menjilat matahari, meminum samudra.
            “Kenapa mesti hujan, aku lebih memilih kemarau yang panas penuh gairah!”
            Sejak kapan alam bisa diajak kompromi? Alam telah punya ketentuanya sendiri. Kita yang harusnya bisa berkompromi dengan diri kita, dengan sesama kita. Agar kita bisa bersinergi secara elok dengan alam.
“Mana ada kompromi untuk sekarang? Aku akan melawanmu!”
Bergegas Pria memacu motornya, kencang tak seperti biasanya. Dia telah menerobos hujan yang menghalangi niatnya. Pria melawan hujan. Yang ada dikepalanya hanyalah Gadis, ingin sekali Pria segera sampai kedepan gadis, dan mengucapkan salam. Mencium keningnya yang lebar, menggenggam tangannya yang lembut. Dingin yang dibuat hujan tak lagi terasa, hangat cinta gadis seolah telah membuat badan Pria menjadi tahan air, tahan dingin.
Butiran hujan masih terus merajam tubuh Pria, terus menerus tak berhenti seperti senapan mesin yang sedang mengeksekusi terhukum mati. Pria tak hirau, beberapa kali pria mengusap kaca helmnya yang mengembun.
            “Jangankan hujan air, hujan batupun akan aku retas. Asal rinduku yang segunung bisa terbebas dan tuntas.”

*****

Setelah terdiam beberapa saat, dan langit belum menjawab pertanyaan awan. Awan berkata : “Tunggu sebantar, bukankah pelangi baru ada setelah hujan? Sementara hujan akan menjatuhkanku! Aku tak ingin pelangi Langit! Aku tak ingin kembali jatuh!”

*****

            Ponsel dikantong celana Pria tiba-tiba bergetar, mungkin juga bordering tapi tertutup oleh suara hujan yang kendaraan besar yang bising di belakang motor Pria. Tak berhenti, dan terus menerus bergetar. Pria meyakini bahwa panggilan itu datang dari Gadis, Gadis yang sedang menunggu kedatangannya.

*****

“Untuk apa kau membawaku kesini, dan memberikan semua ini kalau kau akan membiarkanku jatuh?.”
Perlahan tubuh awan mulai memberat dan mulai menghitam. Langit tak bisa berbuat banyak, dia hanya memandangi awan yang sekarat. Senyum manis langit berubah menjadi bengis, sementara awan terus meronta minta diselamatkan.
“Langit! Tolong aku! Aku tak mau menjadi hujan, aku tak mau jatuh!”
Langit hanya bisa terdiam, sesaat kemudian langit tertawa terbahak berbentuk petir, matanya menyala memancarkan kilat.

*****

Pria kaget bukan kepalang, getaran dari ponselnya beradu kuat dengan petir yang menyambar-nyambar. Hujan makin menutupi pandangannya, dan Pria masih melaju dengan kencang.

*****

Awan tak kuasa menahan berat tubuhnya yang telah menghitam. Perlahan badan awan menjadi basah, Seketika awan mencair menjadi hujan yang lebat dan jatuh dari tempat yang lebih tinggi. Jauh lebih tinggi daripada dulu dia pernah dibuat jatuh saat menjadi air laut.

*****

Pria tak bisa mengendalikan motornya, dia terpeleset licinnya jalan yang disebabkan oleh begitu lebatnya hujan. Pria terjatuh. Kendaraan besar beroda banyak dibelakang tak mampu menghindari pria. Lalu sesaat kemudian terdengar suara benturan keras, teriakan, lolongan, gemuruh hujan, dan gelegar petir.


gudangkubus, 26 Februari 2015 | 11:32 PM


Senin, 09 Maret 2015

MATIKAN (SEREBRAL)

MATIKAN (SEREBRAL)



            Tubuh ini kini hanyalah kerangka kekosongan, kau dengan begitu saja pergi membawa serta semua isinya. Aku bisa apa? Kuasa yang menjulang-julang tinggi mencakar langit tak bisa lagi merengkuh hatimu yang terbang bersama awan yang lebih tinggi. Membentuk pelangi, mewarnai langit. Sementara lukisanku yang sebentar lagi selesai, kau tinggalkan dan kau biarkan hitam kelam tanpa warna. Tanpa keindahan, yang sebelumnya dengan sangat hati-hati kita warnai.
Dimana kau? Sejuta jalan telah dengan sabarnya kutelusuri. Tak juga kutemui dirimu yang tengah bersembunyi.
Dimana kau? Sejuta cara telah kucoba untuk kembali membuka hatimu yang telah terkunci. Tak juga kau biarkan aku masuk meski telah kuhabiskan semua anak kunci.
            Langkah demi langkah telah dan terus dikerah. Hingga kaki berlumur lebam, dan berselimut darah. Aku tak kuat lagi berjalan dan terlalu lelah. Tak ada lagi yang memapah meski seumur hidup telah diabdikan untuk memapah.
Dimana kau mataku? Aku tak bisa lagi melihat meski mata elang telah diwariskan ibuku sebagai buah kasih dengan bapakkku.
Dimana kau telingaku? Aku tak bisa lagi mendengar meski telinga lumba-lumba dengan kekuatan mendengar ultrasonic seperti diajarkan bapakku yang selalu peka mendengar gelisah ibuku.
            Semua indera kini telah mati. Mungkin akupun telah mati.
            Ya, sebenarnya aku telah mati, ketika kau putuskan untuk pergi dan tak kembali : nyawaku. Tapi kau harus percaya, bawa yang tak akan mati dan akan terus hidup abadi adalah rinduku, adalah cintaku. Dan jikalau itu semua pun harus mati, tak apa. Karena telah kuputuskan bahwa hanya kau yang berhak membunuh cintaku, mematikan rinduku.
            Biar rindu ini akan ku lunasi dengan menunggumu dalam himpitan sesak tanah dimana aku telah menyatu dengan muasalku. Diantara nisan yang bertulis namaku, nama yang sama seperti dulu orangtuaku menuliskannya di akta kelahiranku. Semoga bisa terukir namaku dalam sebuah batu keabadian, seperti ku pahat juga namamu di dinding jantung hati penuh haru, dan rindu yang memburu.

Denyjoe | Gudangkubus, 6 Maret 2015 | 12:49am