WEALTH

When wealth is lost, nothing is lost; when health is lost, something is lost; when character is lost, all is lost.

SEEKING

The real voyage of discovery consists not in seeking new landscapes, but in having new eyes.

SMOKE

One may have a blazing hearth in one's soul and yet no one ever came to sit by it. Passers-by see only a wisp of smoke from the chimney and continue on their way.

WEAPON

The most valuable possession you can own is an open heart. The most powerful weapon you can be is an instrument of peace.

SORENESS

Holding on to anger, resentment and hurt only gives you tense muscles, a headache and a sore jaw from clenching your teeth. Forgiveness gives you back the laughter and the lightness in your life.

Sabtu, 05 Februari 2011

ADA MEREKA


ADA MEREKA
(Denyjoe/2010)

Cemas…
Keadaan saat ini kenapa terjadi?
Mengangankan kemaenangan..
Bermimpi kejayaan..
Menutup mata akan sebuah kesempatan..
Berfikir logika ketika dogma hidup menghinggapi..

Beban..
Memang akan terasa berat..
Saat spekulasi kita tak mampu menanggungnya..
Tapi percayaku..
Ada mereka mendukungku..
Memapah..
Mengarahkan..
Mengalahkan..

Walau sejenak tak pernah tampak nyata meraka..
Tapi pancaran energinya begitu terasa..
Aku yakin..
Mereka tetap ada.. menyatukan semangatku..
Merendakan asa dibalik rajut kekosonganku..(denyjoe*)

Rabu, 02 Februari 2011

HARAPKU SEMANGATKU


HARAPKU SEMANGATKU
(Denyjoe/2009)

“Aku harap ini adalah jalan yang benar,
untuk bisa mengantarkanku kepada hari esok yang lebih baik”

Meski kadang ku meragu …
hari esok akan lebih baik dari hari ini ..
tapi langkah kakiku selalu menuntunku kepada sebuah keyakinan,
bahwa aku akan menemukan terang setelah kulewati gelap ini..

Setiap desah nafas menjadi doa ..
sepanjang pandangan mata kemuka membentangkan harapan..
takkan memudar selama bumi berotasi,
selama usia belum tertutup ..

Telapak kaki yang mengeras setelah jauh berjalan,
kulit dahi yang mengkerut seteleh lelah berpikir,
sebuah proses memang tak mudah ..
Menyulitkan bahkan menyakitkan ..
Tetapi karena kilau sebuah asa ,,
seluruh beban tak pernah terasa dan dirasa ..

Karna kau harapanku … menjelmalah semangatku! (denyjoe*)

Selasa, 01 Februari 2011

SAYA BISA TERBANG, TAPI SAYA TAK INGIN TERBANG!


SAYA BISA TERBANG, TAPI SAYA TAK INGIN TERBANG!
(Sebuah Cerpen Oleh: DENY JOE)

Tuuuuuuut….Tuuuuuut!!!!!

Saya melayang…!!! Saya bisa terbang...!!!!
Di balik punggung saya tumbuh sayap berbulu rapat teranyam. Badan saya terasa ringan, kapas randupun kini kalah ringannya. Burung bebaspun kini sejengkal lagi saya jangkau.
Awan jernih saya jilati seperti harumanis dipasar malam. Bintang-bintang saya tabraki dengan kepala, saya rangkaikan jadi mahkota.

Tuuuuuuut….Tuuuuuut!!!!!

Saya melayang… Saya bisa terbang... pasti orang-orang akan kagum jadinya.
Tapi, kenapa orang-orang meringis? Sebagian menjerit? Sebagian lagi Menagis haru? Ada juga sebagian yang kelihatan mual lalu muntah! Orang-orang makin berkerumun, perempan dengan tinggi badan yang tak tinggi mencoba melongok kebalik kerumunan, dari belakang kaki mungilnya menjinjit, anak kecil berkaos gombrang dengan robekan diketeknya terlihat merangkak mencoba melongok kebalik kerumunan diantara betis-betis yang berderet memagar, betis berbulu, betis mulus, betis kecil, betis besar,dan betis penuh bekas luka. Macam macam bentuk, macam-macam juga alas kakinya. Ada yang bersepatu sport, bersepatu lancip mirip aladin, bersepatu mengkilat, bersendal hak tinggi, bersendal tipis, bersendal jepit cap walet, bahkan ada juga yang tak beralas kaki. Tapi saya yakin banyak dari mereka yang memakai barang imitasi. Persetan! saya sudah tak membutuhkan alas kaki lagi, sekarang saya punya sayap, saya bisa terbang!

“Coba permisi..minggir sebentar ya”
Tiga orang petugas berpakaian seragam warna dongker membelah kerumunan.

“Yang didalam sudah lapor kepada yang berwajib?” Kata seorang petugas berpakaian seragam warna dongker yang berkepala botak kepada temanya.

“Sudah pak!” Yang ditanya menyahuti.

“Kalau begitu mari kita rapikan potongan-potongan yang tercecer ini, jangan sampai ada yang tertinggal, harus teliti! Bercakan merah taburi kopi supaya tak amis!”

Para petugas berpakaian seragam warna dongker mulai bergerak sesuai perintah, tanpa aba-aba terlihat beberapa orang murah hati dengan suka rela membantu para petugas berpakaian seragam warna dongker melakukan pekerjannya. Ada yang memang berhati nurani tinggi tanpa pamrih, ada yang mencuri kesempatan mencari sesuatu untuk bisa diamankan kemudian dimanfaatkan. Sifat mereka tak terlihat. Hanya bentuk saya yang bertengger fokus tanpa cacat di pelupuk mata berdiafragma lebar.


Tuuuuuuut….Tuuuuuut!!!!!

Saya melayang… Saya bisa terbang...tapi sebentar, dalam pandangan saya tiba-tiba dari arah tenggara muncul segerombol POLISI berpakaian seragam lengkap datang ke tempat yang tadi dikerumuni orang-orang, kali ini orang-orang sudah tak mengerumun lagi, tapi hitam bola mata mereka masih tertuju kearah titik kerumunan tadi. Satu , dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh dan semua orang mulai bercerita tentang empiris beberapa saat lalu ditambah berjuta persepsi dari sudut pandang mereka yang tak terukur. Beradu argumen teoritis, agamais, sosialis, merasa paling benar, merasa paling tenar.

“Tadi mata saya benar-benar dengan jelas melihatnya!”
“Tadi saya hanya mendengar kuping saya dengan jelas menangkap jeritannya, mata saya tak berani melihat!”

“Saya tidak melihat, saya juga tidak mendengar langsung, saya hanya bertanya kepada orang-orang, saya hanya menulisnya, dipadukan dengan gambar yang sedang diambil oleh fotografer yang sedang memotret lokasi, lalu memuatnya di Koran esok pagi.”

Rupanya Orang yang terakhir bercakap adalah wartawan pantas saja di lehernya menggantung ID-Card bertulisan PRESS sibuk mondar-mandir mengajukan beberapa pertanyaan kepada orang-orang, tukang asongan, pengumpul bekas air minum, peminta-minta, penjaga lintasan, para penumpang, petugas stasiun, dan yang dia anggap perlu keterangannya. Temannya juga sama tapi dia lebih disibukan dengan kamera besar ditangannya, potret sana, potret sini, semua angle dipotretnya yang padahal cuma butuh satu foto buat koran esok, karena spasi halaman yang terbatasi.

Tuuuuuuut….Tuuuuuut!!!!!

Saya melayang… Saya bisa terbang...
Sesaat sebelumnya terdengar sayup orang-orang berteriak, tapi saya tak hirau!. Sesaat juga terasa beberapa orang dibelakang saya mau meraih saya, mencoba menarik saya, menarik baju kantor saya, menarik tangan saya, menarik celana saya, menarik kaki saya, menarik sepatu saya, menarik tas saya, apapun yang bisa ditarik, tapi saya tetap juga tak mau hirau.

“Awassss…!!!!”
“Woooyyy…minggir!!!”
“Mau mati lu ya??”
“Wooooyyyy!!!!!!”

Saya sempat sadar ketika semprotan bunyi klakson berteriak kencang memekik, gemuruh roda besi yang beradu dengan rel terasa mendekat. Sesuatu yang sangat kencang merangkak kearah saya seakan mau menubruk. Ada getar seperti gempa gemeretak meluluhlantakkan. Tapi tetap saja saya tak menghiraukan teriakan orang-orang disekeliling. Padahal mereka semakin kencang berteriak, matanya sampai mau keluar, lidahnya seakan menjulur, suaranya menyerak kemudian mengelos mungkin pita suaranya pun rusak karena terlalu kencang berteriak, tapi tetap saja saya tak menghiraukannya.

Tuuuutttt…… Duuukkkk…. Craaasshhhhssss…… awwwwww……

Saya merasa baru saja ada kilat yang menyambar saya. Tubuh saya terguncang, mata saya silau tak berkesip, tangan dan kaki saya kaku membeku, aliran darah terhenti seiring jantung yang juga berhenti berdegup. Tapi badan saya jadi terasa sangat ringan, saya merasa dibelakang punggung saya mulai tumbuh sesuatu, saya rasa ini adalah sayap, saya mengetahuinya karena saya memang sangat suka makan ayam apalagi sayapnya. Baik di dirumah, warteg, angkringan, maupun tempat-tempat makan urban ala Amerika.

Tuuuuuuut….Tuuuuuut!!!!!

Saya melayang… Saya bisa terbang...
Saya menjadi bingung.. kenapa saya bisa terbang? Padahal tak pernah sedikitpun saya ingin terbang. saya merasa bingung menggunung seperti menggelung-gelung. Kenapa? istri saya menangis pilu tersedu sedan memeluk dua anak saya yang juga menangis sesegukan. Aliran air mata mereka membawa laju peahu kepedihan menyayat. Memekik sebentar, tertahan kertas tisu yang basah dan kembali meracau tak terarah.

“Suamiku….!”
“Ayahku…..!”

Para tetangga berkumpul disetiap sudut rumah saya, sebagian membaca ayat suci ktab agama saya, sebagian membuatkan sesuguhan, sebagian membawa cangkul kemudian membuat lahat, dan sebagian mengibarkan berdera kertas warna kuning bertuliskan nama saya. Bersenandung doa melancarkan pujian sampai terpejam berharap kekhusukan.

“Sesuguhan!! Ada acara apa ini? Ulang tahun? Lalu siapa yang ulang tahun? Anak saya yang pertama sudah dua bulan yang lalu, anak saya yang kedua tiga minggu sebelumnya, istri saya satu bulan sebelum anak saya yang kedua, saya? tidak mungkin! ulang tahun saya bulan depan tepat tanggal dua puluh tujuh…………
………
………
Bendera Kuning!! Inikah kematian saya? Inikah saatnya saya menembus alam ketiga setelah alam rahim dan dunia? Inikah akhir dari setiap tetes peluh perjuangan saya? Inikah saatnya orang-orang mewisuda saya, menambahkan gelar ALM. didepan nama saya? Menjuluki istri dan anak-anak saya dan memberikan sertifikasi kepada mereka dengan titel JANDA dan YATIM!!”

Saya melayang… Saya bisa terbang.. walaupun sebenarnya saya tidak ingin terbang…

Terbang meninggalkan semua baik buruk, hitam putih, gegap gempita kemilau dunia yang selama ini saya berusaha merengkuhnya. Sedikit banyak semua sudah pernah saya nikmati, ternyata benar kata orang-orang yang bicara kalau hal-hal duniawi tak akan abadi mengikat, dan ikut dengan kita. Apakah amal saya sudah bertumpuk? Apakah ilmu saya sudah bermanfaat? Dan apakah anak-anak saya akan menjadi anak yang saleh dan mendoakan saya?

Saya melayang… Saya bisa terbang.. walaupun sebenarnya saya tidak ingin terbang…
Tapi sejenak fikiran saya memberat, logika rasionalis tak berfungi, buat apalagi dialektik! Tapi saya rasa ini adalah babak baru perjalanan saya dan sayap saya. Walaupun saya meragu apakah ini benar jalan saya menuju surga atau jangan-jangan saya tersesat sebaliknya, dan mengarah ke neraka?
Dalam risau saya hanya bisa meracau :
“ Saya melayang… Saya bisa terbang.. walaupun sebenarnya saya tidak ingin terbang…”
******

*Denyjoe/ 2010 (Dedikasi buat korban yang ditabrak kereta api di Stasiun Kranji, Bekasi, Jawa Barat, Jumat (17/12/10) Pagi. Jasad korban terseret 100 meter dan ditemukan di selokan sisi rel. yang saya lihat dengan mata kepala saya sendiri waktu saya hendak berangkat ke kampus)


Data Publikasi :
Banjarharjo community
Pohon ditengah Gurun Pasir
Fikom UMT

Senin, 31 Januari 2011

TERKOYAK BAYANGAN


TERKOYAK BAYANGAN
(Denyjoe/2009)

Terlintas tanpa sadar beribu cacian memaki..
Menerawang..mengkasatkan pandangan..
Kaki yang menjulur mengejang kaku..
Tak mampu menumpu beban memangku..

Mencoba lepaskan.. Biarkan dan bebaskan..
Isi kepala yang terkoyak bayangan kelam..
Mengarat besi tak terlepas terus mengikat..
Mengikis keteguhan, hempaskan ketegaran..

Helaian perjalanan semakin mengusut..
Menuntut sebuah akhir dan ujung..
Dalam keindahan yang menggoda dapatkan segera!
Mengurai satu demi satu tujuan ..
Walau ditengah kusutan terjebak lelah..

Takkan menyerah.. haram mengaku kalah..
Teruskan melangkah.. memapah seraut wajah dalam tabah..

Sunat Perempuan: Mencubit "Titipan Setan"


Sunat Perempuan: Mencubit "Titipan Setan"
(sumber: Hmajalah Tempo, 22 Oktober 2006)


Departemen Kesehatan mengimbau kalangan medis untuk tidak menyunat perempuan. Banyak yang percaya perempuan wajib sunat.

Bunga bukan nama sebenarnya-masih dihantui trauma akibat kejadian 27 tahun lalu. Berdua dengan adik perempuannya, ia diantar ke seorang bidan. Kedua gadis kecil yang bermukim di Sawangan, Depok, Jawa Barat, ini rupanya disunat. Bunga masih 9 tahun waktu itu, adiknya 1,5 tahun.

Ayah Bunga membujuk. "Ini rasanya seperti dicolek saja. Lagi pula, bagus untuk kesehatan," ujar Bunga menirukan bujukan sang ayah.

Tibalah Bunga di ruang periksa. Ia disuruh duduk dan melihat ke langit-langit. Bidan memberi suntikan pengurang sakit. Toh, sayatan pisau pada klitorisnya tetap membuatnya menjerit. "Ibu saya juga menangis melihat saya kesakitan."

Perih bekas sayatan masih dirasakan Bunga sampai beberapa hari. Selama itu, dia sekuat tenaga menahan keinginan untuk buang air kecil. "Saya takut pipis karena sakit sekali," ceritanya.

Bunga dan adiknya merupakan dua dari banyak perempuan yang pernah disunat. Dua pekan lalu, sejumlah organisasi perempuan nasional dan internasional mengadakan penelitian tentang praktek sunat seperti yang dialami Dewi. Penelitian itu mendapat rekomendasi dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan dilakukan selama tiga tahun. Lokasinya di beberapa tempat, antara lain Padang, Serang, Sumenep, Kutai Kartanegara, Gorontalo, dan Ambon. Ternyata, diketahui hampir semua perempuan di Indonesia dikhitan.

Sunat dijalankan dengan cara berbeda-beda. Yang sama adalah obyeknya, klitoris. Yang mengagetkan, "Tujuh puluh dua persen dilakukan dengan cara-cara berbahaya dan 28 persen dilakukan secara simbolis," kata Sri Hermianti, Direktur Bina Kesehatan Ibu dan Anak, Departemen Kesehatan.

Tindakan berbahaya yang ia maksud antara lain melakukan sayatan, goresan, atau pemotongan secara insisi, yaitu tanpa ada jaringan yang terlepas, dan eksisi, yaitu memotong melepas jaringan. "Jika klitoris sudah rusak, berarti dia tidak punya kepekaan terhadap lawan jenisnya. Itu berarti merusak proses reproduksi seksualnya," ujar Sri.

Dalam jangka panjang, rusaknya klitoris bisa mengakibatkan gangguan menstruasi, infeksi saluran kemih kronis, radang panggul kronis, dan disfungsi seksual. Bahkan risiko tertular HIV/ AIDS pun menjadi lebih tinggi. Karena pertimbangan itulah Departemen Kesehatan mengimbau tenaga medis profesional, dokter dan bidan, tidak melakukan sunat pada perempuan.

Imbauan yang dikeluarkan Departemen Kesehatan segera memancing perdebatan. Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Ma'ruf Amien mengatakan imbauan itu tidak benar. Sunat, menurut dia, merupakan bagian ajaran Islam yang harus dilaksanakan, bukan malah dilarang.

Di masyarakat sendiri ada kepercayaan bahwa perempuan wajib disunat seperti halnya laki-laki. Masyarakat Goronta10, misalnya, percaya ada segumpal daging kecil sebesar butiran beras yang menempel pada klitoris. "Menurut para leluhur, yang menempel pada klitoris itu titipan setan dan harus dibersihkan," kata Farha Daulima, pemuka adat Gorontalo.

Dalam tradisi Gorontalo, bocah perempuan usia satu sampai dua tahun akan menjalani masa adat. Saat itu mereka harus mengikuti upacara mopolihu lo limu - mandi air ramuan limau purut dan mongubingo, khitan atau mencubit daging yang menempel pada klitoris. Secara turun-temurun mereka percaya, jika hal itu tidak dilakukan, maka anak yang dilahirkan tetap membawa barang haram

Secara agama, khitan pada lelaki maupun perempuan juga dianggap kewajiban bagi setiap muslim suku Gorontalo. Alasannya lain lagi. "Khitan akan membatasi nafsu perempuan," kata D.K. Usman, pemuka agama.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) sejauh ini belum mengambil sikap. "Belum ada pertanyaan yang langsung dari masyarakat, lembaga, atau pemerintah ke kami, sehingga belum dibahas secara profesional dalam Komisi Fatwa," kata Ketua MUI Amidhan.

Ia hanya menerangkan, menurut mazhab Maliki dan Hambali, khitan perempuan dianggap sebagai tindakan kemuliaan, asalkan tidak berlebihan. Sedangkan mazhab Syafi'i, yang dianut banyak ka­langan di sini, mewajibkan sunat pada perempuan.

Merujuk kepada keterangan itu, Amidhan berharap petugas medis tidak menolak untuk mengkhitan perempuan. "Lebih berisiko kalau masyarakat lari ke bidan kampung yang standar kesehatannya tidak terjamin," katanya.

Sudah waktunya juga kesehatan reproduksi perempuan jadi pertimbangan.

BERMAIN HUJAN


BERMAIN HUJAN
(Denyjoe / sore hari / 23 desember 2010)


Senyum payau menyungging merekah..
Dijatuhi buliran hujan yang membasah..
Anak-anak kecil itu tak berhenti berteriak..
Tak tahu lelah dalam sebuah akhir suara serak..

Mata kecil menyipit menghalau kilat..
Sesaat gemuruh langit menggelegar hebat..
Anak-anak kecil itu tak berhenti berlarian..
Tak tahu celah jari kakinya mengerut kemudian..

Lubang telingapun sesak tersumbat..
Tak hirau para tetua berdiri mengumpat..
Anak-anak kecil itu kini tak berhenti mengigau erang..
Tak tahu gigil gemetar tubuhnya mulai menyerang..

Tenggorokan mengering terkuras hebat..
Bersama butiranserbuk yang ternyata adalah obat..
Anak-anak kecil itu tak berhenti sesegukan..
Tak tahu kalau inilah akhir bermain hujan..(JOE*)

DALAM 3x3


DALAM 3x3
(Denyjoe/2009)

Selepas lelah kuharap akan datang cepat..
Setitik ketenangan diantara tenggorokan yang serak..
Dalam mata yang memucat sayu..
Dan kepala yang terus berputar 7 kali putaran..

Gumpalan pikir menerawang cakrawala..
Menembus dimensi rasio dan relitas..
Bermimpikan keagungan..
Sebagai penghibur saat kemelut hati gundah..
Dan kian membaur dengan gelisahnya…

Semua masih sama...
Masih dalam pengap sepetak ruang..
Dengan langit-langit yang membercak kecoklatan..
Dinding yang mulai rontok debukan kotori lantai..

Baling-baling dari kipas kecil masih terus berputar..
Lumayan tiupkan sejuk walau tak banyak..

Entah apa yang sedang terjadi…??
Satu sisi melakukan,
tapi sisi lainnya memungkiri perbuatan..

Kubasuh tenggorokan yang serak..
Dengan tetesan mineral sisa siang tadi..
Kubaluti dengan asap putih dari batang racikan tembakau..
Yang ujung penghisap busanya berwarna coklat..

Detak dari detik waktu tak terdengar..
Kemanakah?
Atau mungkin sudah berhentikah waktu menghitung perjalanan putaran dunia..
Yang terdengar hanya desingan rotasi dari 3 sudut baling-baling..
Yang sudah mulai kusam berdebu..
Dalam ruang 3x3..

NIKMATNYA KOPI TUMPAH


NIKMATNYA KOPI TUMPAH
(Denyjoe/2009)

Dalam sore ini…
Seharusnya senja memekat jingga..
Tapi mendung lingkari bentangan langit sejak pagi..
Tertumpah tetesan hujan membentuk gerimis..
Meresap kedalam pori tanah menyebar bau basah..

Aku pun bergerak dari kebekuan…
Panaskan secangkir air dalam ceret hingga membuih ..
Sebungkus kopi instant tertinggal .. Ku menyobeknya..
Larut bersama adukan plastic yang terlilit menyatu dengan panasnya air tadi..

Racikan istimewa memang .. mataku tersentak membuka penuh seketika ..
Aliran darah serasa terpompa normal mengisi setiap sudut urat syaraf..

Tak biasanya .. lintingan tembakau kalini berwarna putih .. tak seperti kemarin yang berujung coklat. Percikan bunga api disambut gas tertekan .. menyalalah korek apiku..
Membakar ujung batang rokok dibantu hisapan nafas dari ujung sebelahnya..

Koran kemarin kubuka kembali .. menelusuri rangkaian huruf yang belum sempat terbaca. Membolak balik dengan sibuknya .. tangankupun tak terkendali dan sesaat itu … DAMN ! cangkir kopiku tertabrak gerakan tanganku dan tertumpah …