WEALTH

When wealth is lost, nothing is lost; when health is lost, something is lost; when character is lost, all is lost.

SEEKING

The real voyage of discovery consists not in seeking new landscapes, but in having new eyes.

SMOKE

One may have a blazing hearth in one's soul and yet no one ever came to sit by it. Passers-by see only a wisp of smoke from the chimney and continue on their way.

WEAPON

The most valuable possession you can own is an open heart. The most powerful weapon you can be is an instrument of peace.

SORENESS

Holding on to anger, resentment and hurt only gives you tense muscles, a headache and a sore jaw from clenching your teeth. Forgiveness gives you back the laughter and the lightness in your life.

Jumat, 14 Desember 2012

INIMASANYA


INIMASANYA
(Sebuah cerita pendek oleh : DENYJOE)

Tangan Kanya mengepal gemetar garang, terlihat mengejang sampai ke tulang rahang. Luapan emosi telah membakar hatinya hingga menjadi arang. Tak tahu entah sampai kapan Kanya bisa menahan berang, mungkin sekarang.
****
Sebenarnya tak ada yang istimewa dibalik tangan Juno. Baik itu bentuknya apalagi ototnya. Juno memang tak pernah menyukai olah raga, untuk sekedar push-up atau mengangkat barbel. Tapi tak tahu kenapa ketika Juno bertanya kepada teman-temannya tentang bagian tubuh nya yang paling menarik, semua teman-temannya menjawab tangannya.
“Tangan kamu itu seksi”; “Aku suka sama tangan kamu”; “Tangan kamu itu ajaib” ; “Tangan kamu kreatif”; “Tangan kamu Unyu-unyu”.
Lebih dari dua jam Juno membolak balik kedua tangannya, meneliti setiap garis dari mulai pangkal lengan sampai ujung jarinya. Juno tak menemukan apa-apa kecuali bekas luka di dekat sikut tangan sebelah kanan. “Ini bekas luka waktu aku jatuh pas main basket di SMA dulu” tak ada lagi Juno menemukan hal yang menarik dari tangannya. Kecuali benda yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Jam tangan hitam hadiah dari Kanya; Pacarnya. Jam tangan itu selalu melingkar di tangan Juno setiap harinya, sampai waktu tidur juga Juno pasti memakainya. Kecuali pada saat Juno mandi. Pernah suatu ketika Juno mandi dan lupa melepasnya, jam tangan hitam itu basah dan berhenti berputar. Untung setelah kering bisa kembali berputar, karena itu Juno sebisa mungkin tak lagi-lagi memakainya ketika mandi.
Jam tangan hitam itu biasa saja, sama seperti tangan Juno yang juga tak istimewa. Cuma ada jarum kecil bernama detik yang bergerak paling cepat bersama denyut-denyut nadi Juno, tak lelah berkeliling dengan durasi satu menit setiap putarannya. Ada jarum lebih panjang bernama menit yang berputar terus tak pernah lelah mengikuti detik dengan durasi satu jam setiap satu putaran. Kemudian ada juga jarum terpendek sebagai penunjuk jam yang berputar dengan durasi 12 jam setiap satu putaran. Cuma itu saja!! Yang membedakan selain itu adalah jam tangan hitam itu hadiah dari pacarnya: Kanya. Juno merasa kalau dia menjadi gagah kalau mengenakannya. “Mungkin semua teman-temanku menyukai tanganku karena pengaruh dari jam tangan ini? Tapi masa iya sih?” Juno mulai berfikir tentang kehebatan jam tangan itu yang bisa mempengaruhi penampilannya. Yang padahal jam tangannya cuma jam tangan biasa.
Sebelumnya Juno tidak pernah tertarik tentang jam tangan. Karenanya dia bisa dikatakan terlambat mengenakan jam tangan. Tidak seperti temannya yang sejak kelas dua sekolah dasar sudah memakai jam tangan. “ Ah ini kan Cuma masalah zaman dan kesempatan saja. Waktu kecil saya hidup di kampung, dan jam tangan tidaklah terlalu diperlukan. Rotasi kehidupan cenderung dibiarkan begitu saja. Berjalan alami. Waktu tidak terlalu mengekang kehidupan. Karenanya, orang tidak terlalu butuh jam tangan. Tidak tertekan karena waktu. Juga kesempatan, karena orangtua saya tidak pernah sekalipun terpikir untuk membelikan anaknya.”
Baru kemudian setelah Juno memakai jam tangan hitam pemberian dari Kanya itu, dia mulai memperhatikan jam tangan dan orang-orang yang mengenakannya, Ada berbagai merek dan model yang Juno lihat, cara memakainya pun berbeda, ada yang digelangkan di tangan kanan, ada juga yang digelangkan di tangan sebelah kiri. Tapi Juno tak menemukan tangan seperti tangannya yang sangat cocok dengan jam tangannya. Di kereta, di bis, di angkot, di pasar, di mall, di bioskop, di warnet, di warteg, di toilet. “Hah toilet?? Hey!! Hati-hati kalau pakai jam jangan ketoilet, kena air bisa mati tau!!” Kalimat itu muncul dengan refleks setiap kali Juno melihat siapapun mengenakan jam tangan ke toilet.
“Hah? Masa sih? Makasih ya pak”
“Jam tangan saya anti air jadi ga masalah kalaupun kena air!”
“Jam tangan saya jam tangan mahal, mana mungkin mati kena air!”
“Jam tangan saya belinya dari luar negeri mas, emangnya jam tangan mas yang belinya dari emperan!”
Buat sebagian orang jam tangan kerap dijadikan sebagai simbol dari status sosial, maka tak heran jika mereka berlomba-lomba dalam membeli jam tangan, semakin mahal dan semakin terkenal merek jam tangan yang digunakan maka semakin tinggilah nilai dan peringkat status sosialnya. Sebenarnya Juno risih dengan paradigma masyarakat yang seperti itu, tapi Juno tak bisa berbuat apa-apa. “Biarkan sajalah… itu hak mereka, toh yang dipakai buat membeli jam tangan mahal dan bermerek itu uang mereka, asal jangan uang hasil korupsi saja!” hanya itu yang bisa diucapkan oleh Juno untuk menetralisir perasaan ironisnya.
Juno memang tak mampu untuk bisa seperti mereka, jangankan seperti mereka, jam tangan hitam yang sekarang dia pakai juga dia tidak mampu beli, mungkin kalau dia tak pernah mendapat hadiah jam tangan dari Kanya, sampai saat ini juga Juno tidak akan pernah memiliki jam tangan.
“Yang penting adalah fungsi bukan gengsi!”
“Alaahh… itu kan cuma alasan ketidak mampuan elu aja Jun!”
Juno tersenyum ketika dia mendapatkan kenyataan bahwa dewasa ini, seringkali gengsi lebih diutamakan daripada fungsi. “Dunia ini memang aneh! Yang penting aku jangan ikut-ikutan aneh juga, memang benar tidak mampu seperti mereka. Tapi kan, yang terpenting aku masih bisa melihat dan mengetahui pergerakan waktu, setiap jamnya, setiap menitnya, juga setiap detiknya. Aku rasa itu sudah cukup!”
Seperti setiap pagi Juno bangun tidur, Juno selalu melihat jam tangannya yang menunjukan pukul 05:30, dengan ditandai oleh jarum panjang yang berada pada titik angka enam, dan jarum pendek berada pada posisi ditengah antara titik angka lima dan angka enam.
Seperti setiap hari senin sampai hari jumat masuk kelas kuliah, Juno selalu melihat jam tangannya yang menunjukan pukul 08:00, dengan ditandai oleh jarum panjang yang berada pada titik angka duabelas dan jarum pendek berada pada titik angka delapan.
Seperti setiap malam hari hendak tidur, Juno selalu melihat jam tangannya yang menunjukan pukul 23:00, dengan ditandai oleh jarum panjang yang berada pada titik angka duabelas dan jarum pendek berada pada titik angka sebelas.
“Hey!! Kenapa aku malah selalu memperhatikan jarum-jarum itu, jarum-jarum yang selalu berputar seperti baling baling helikopter. Membuat aku pusing! Apalagi ketika setelah pukul duabelas siang, aku makin bingung saja. Bagaimana tidak bingung, banyak orang mengatakan setelah pukul duabelas siang itu adalah pukul tiga belas dan seterusnya sampai pukul duapuluh empat. Sementara angka di jam tanganku cuma sampai angka duabelas, bagaimana ini? Aaahhh Persetan!!!! Sepertinya aku lebih suka jam tangan dengan model digital seperti punya kawan sekelasku!” Tapi sesaat Juno pun teringat ketika pertama kali Kanya meraih tangannya dan melilitkan jam tangan hitam itu ke tangannya : ‘Yangku.. sekarang punya jam tangan, aku harap yangku bisa mengukur waktu kapan harus bangun pagi, kapan saya harus berangkat kuliah, kapan saya harus menunggu kereta, dan yang terpenting yangku tahu jam berapa janjian ketemuan sama aku. Sekarang tidak ada lagi alasan untuk telat!’
“Ya Ampunnn!!!!! Hari ini aku ada janji ketemu dengan Kanya! Mampus!!”
****
Jam telah berlalu, menit telah pergi, dan detik sudah tak trlihat lagi. Kanya masih duduk di sudut cafe tempat biasa dia menghabiskan waktu bersama Juno. Berkali-kali Kanya melirik jam tangannya, lalu dahinya berkerut dan air mukanya berubah semakin gelisah. Tapi sesaat kemudian mukanya memerah, gelisah itu tiba-tiba berubah menjadi marah.
“Maaf yangku aku telat!” Dengan terpogoh-pogoh Juno mendekati dan meminta maaf kepada Kanya. Keringatnya mengucur pertanda dia sangat lelah berkejaran dengan waktu.
“Jam berapa ini? Kan sudah gue bilang jangan telat! Tapi tetap saja ga mau berubah! Ga usah tanya berapa lama gue nunggu disini!” Akhirnya tabungan kekesalan Kanya pun meledak berbuah kemarahan.
“Kok ngomongnya gue-elu? Maaf yang! Tadi aku…..”
“Pokoknya ga ada alasan!!!” Kanya memotong perkataan Juno
“Tapi yang…”
“Tidak ada tapi!! Gue ga nerima alasan apapun. Dari kemarin kita buat janji gue sudah bilang jangan telat, kan? Taik! Pantas saja mantan-mantanmu ninggalin kamu! Gue rasa dulu mereka juga di perlakukan sama seperti ini!”
“Hah apa?? TAIK?? Lu yang Taik!! Kenapa malah bawa-bawa mantan?”
“Taik! Emang benerkan begitu! Udahlah Taik kucing semuanya! ”
“Elu yang taik!”
“Elu yang taik! Elu yang taik!”
Tangan Juno mengepal gemetar garang, terlihat mengejang sampai ke tulang rahang. Luapan emosi telah membakar hatinya hingga menjadi arang. Tanpa sadar tangan Juno telah mendarat di pipi Kanya dengan gampang, dan membuat Kanya terjengkang.
‘PLAK!’
“Elu emang bangsat ya Jun!!! Gue bener-bener ga nyangka lu kaya gini!!”
“Maaf yangku… aku ga sengaja…”
“TAIK!! GUE TELAT!! PUAS LU??”
“Maksudnya apa?? Hamil?”
“TAIK!! BANGSAT!!” Dengan muka yang semakin merah, pipi yang menjadi basah karena air mata yang tumpah. Sekelebat tangan Kanya mengayun mengambil tasnya, Berputar arah kemudian pergi.
Juno mencoba meraih tangan Kanya dan menahannya pergi, tapi sepertinya Kanya sudah terlanjur kesal dan marah sehingga tak ada kuasa apapun yang bisa menghalanginya pergi. Sementara Juno masih tak percaya dengan apa yang di lihat dan didengarnya. Kaki Juno terasa lemas, Juno merasa berada di alam tak sadar. “Ada apa ini? Apa maksud dari semua ini? Kenapa kejadian ini cepat sekali?”
Juno menatap tangannya yang tadi telah dipakainya untuk menampar Kanya kekasihnya. “ Kenapa aku? Apakah ini karena jam tangan ini? Iya!! Ini karena jam tangan!! Bukan!! Ini Cuma masalah waktu!! Kenapa waktu berjalan sepertinya cepat sekali padahal putaran jam tangan ini masih normal seperti biasanya! ARGHT BANGSAT!!!!”
Juno sangat menyesal dengan semua yang terjadi, “Ini semua memang gara-gara waktu, coba kalau waktu itu tidak ada, pasti kata telat juga tidak akan pernah ada. Ya!! tidak ada waktu berarti sama dengan tidak ada kata telat; telat masuk kuliah, telat janjian, dan telat dating bulan!! Tapi apakah saya harus membenci waktu, kendati pada waktunya nanti… waktu jualah yang akan merenggut hidup saya. Jalannya hidup bisa berhenti, sementara waktu tidak akan pernah berhenti berjalan.”
Perlahan Juno pun sadar, betapa seringnya dalam kesehariannya diatur-atur oleh waktu, oleh jam tangan. Tidak pernah dia bisa membantah kehendak waktu yang berjalan, dan tidak pernah mampu meminta waktu berhenti, apalagi meminta waktu berjalan mundur. Juno tidak kuasa. Juno dikuasai waktu. Hidupnya dikuasai jam tangan yang tetap melekat pada pergelangan tangannya. Juno pun benci atas dominasinya, tapi tidak pernah membenci jam tangan pemberian Kanya, apalagi sampai mencampakkannya. Juno tetap membiarkan jam tangan menemaninya.
“Waktu begitu mendominasi kehidupan saya. Jam tangan, meski hanya sebuah benda mati, tetap seperti makhluk bernyawa yang kerap tersenyum puas saat saya tunduk pada kuasanya. Sekarang… saya harus lebih bisa menghargai waktu, selagi waktu masih memberi saya kesempatan! Tak akan lagi saya menghambur-hamburkan waktu untuk kesenangan semu semata, untuk ambisi pribadi semata, tanpa bisa berbagi waktu sedikit untuk keperluan sesama, apalagi menghabiskan waktu untuk dendam dan menyakiti orang.”
****
Tangan Kanya mengepal gemetar garang, terlihat mengejang sampai ke tulang rahang. Luapan emosi telah membakar hatinya hingga menjadi arang. Tak tahu entah sampai kapan Kanya bisa menahan berang, mungkinkah sekarang?
Tiba-tiba terdengar suara dering nada pesan ponsel Kanya, dengan perlahan Kanya membuka pesan itu dan membacanya; ‘SEPENUHNYA AKU AKAN BERTANGGUNG JAWAB ATAS SEMUA YANG TERJADI PADAKU, JUGA PADAMU YANGKU! KARENA AKU YAKIN INI ADALAH CERMINAN KITA DARI WAKTU KITA, DAN SEKARANGLAH WAKTUNYA KITA UNTUK MEMPELAJARINYA, AGAR NANTI KITA BISA LULUS PADA WAKTU UJIAN SELANJUTNYA! YA SEKARANG!!! INI WAKTUNYA UNTUK KITA BELAJAR DARI WAKTU, KARENA INI MASANYA!! Dari : LOVELY JUNO’

(denyjoe at gudangkubus 26 April 2012, 03:22:06 AM)

Minggu, 06 Mei 2012

BELENGGU

BELENGGU
(Sebuah cerita pendek oleh : DENYJOE)

Mungkinkah Pria harus menyerah, lalu kemudian pergi tanpa ekspresi gundah, juga tanpa amarah. Menanggalkan luka yang terbuka tanpa merasa berduka. Melepaskan belenggu yang mengganggu tanpa rasa ragu. Menghapuskan cinta yang hanya memberi derita.
****
“Dia punya apa? Pekerjaan apa? Pangkat apa?” Renjani di brondong dengan pertanyaan laiknya senapan api otomatis oleh ibunya.
“ Tapi aku cinta sama dia, Bu!”
“CINTA? Renjani! Segala sesuatu dalam hidup itu harus direncanakan dengan baik agar berjalan lancar! Punya rumah, mobil, kedudukan, anak-anak yang lucu, lingkungan yang menyenangkan, pekerjan yang punya posisi, uang yang berkecukupan, berlibur keluar negeri dan masa depan yang bagus! Itu tidak akan bisa kamu dapatkan jika kamu menikah dengan Pria! Ibu tetap tidak setuju!”
“Tapi bu…”
“Pokoknya sampai kapanpun Ibu tidak setuju kamu berhubungan dengan dia! Kamu cantik, dia tidak pantas untuk kamu! jelek dan miskin!”
“Ibu tidak sepantasnya bicara seperti itu!” Dengan terbata dan mata yang mulai gamang Renjani mencoba menghalau omongan ibunya.
“Ibumu benar Renjani, Aku tidak pantas untukmu! sebaiknya kamu cari yang lebih baik dari aku! Yang lebih tampan, yang lebih mapan! Aku Pulang!”
****
Tubuh Pria lunglai terhempas tak bertahta, diantara tembok berbentuk bangun kubus tak istimewa, dikatakan tak istimewa karena tembok itu hanyalah tumpukan bata yang disusun meninggi dan diplester tak rata. Beberapa bagian dicat dan berapa bagianya tidak. Pria merebahkan badannya yang lemah. Meluruskan kakinya yang pegal menahan beban ketidakberdayaan. Memejamkan matanya yang jemu melihak kecongkakan juga keangkuhan yang ditujukan padanya. Wajah pria tidak terlihat tenang walau beberapa kali sunggingkan senyum.
Diantara sadar dan tidak sadar yang gersang, seketika wajah tak tenang pria berubah menjadi semakin tegang. Tubuhnya tiba-tiba tak bisa digerakkan seperti kejang, seperti dirajang. Dengan susah payah Pria memcoba menembus alam abu-abu ini untuk kembali ke alam yang nyata. Sekuat tenaga Pria berontak, menggerakan seluruh tenaga sampai akhirnya dia sadar dan tersentak.
Pria bingung, ditangannya tergenggam gergaji besi dengan mata yang sudah mulai menumpul. Nafasnya pun mulai terengah, tiada bunyi terdengr kecuali hanya lenguh pertanda lelah. Matanya yang bulat terus bergeser meneliti sesudut ruangan, terus memutar hingga kemudian pandangannya membentur kakinya yang terbelenggu. Pria memfokuskan pandangannya dan terus menatap kedua kakinya yang ternyata benar telah terbelenggu.
“SETAN!! Siapa yang telah berbuat ini padaku?” Pria berteriak dengan kencang, tapi entah kenapa dia sendiripun tak bisa mendengar apa yang dia teriakakkan.
“ANJINGGGGGG!!!!!” Pria mencoba kembali berteriak. Tapi tetap saja masih tidak terdengar oleh Pria.
Berulang-ulang kali Pria berteriak, melolong seperti srigala purnama. Semakin kencang Pria berteriak, belenggu di kaki Pria semakin mengencang rasanya. Bukan saja semakin kencang, tapi juga semakin bertambah berat. Bola besi yang terantai pada belenggu kakinya pun terlihat semakin membesar, entah berapa bobotnya saat ini? Yang jelas untuk merangsek dan bergeser saja Pria sudah tidak sanggup. Ada aus bekas goresan dibelenggu kakinya, juga ada luka di kulit kakinya. Mungkin karena terjepit belenggu yang kian erat, atau mungkin juga karena tergesek oleh gergaji besi secara tidak sengaja ketika Pria berusaha melepaskan belenggu dari kakinya dengan gergaji besi. Pria bingung dan tak bisa mengingatnya.
Dengan sisa tenaga yang ada, Pria mengayunkan tangannya yang tetap menggenggam gergaji besi itu untuk berusaha memutuskan belenggu yang erat mencengkram kakinya. Dengan payah Pria menggesekkan sisa mata gergaji yang mulai halus maju mundur dengan satu harapan; dapat memutuskan belenggu itu dari kakinya. Tapi dasarnya memang konsentrasi Pria yang mulai kabur, juga seiring tenaga yang terus mengempis, akhirnya tangan Pria tak terkendalikan.
Gesekan demi gesekan gergaji yang semula beradu dngan besi belenggu yang mencengkram kakinya, perlahan bergeser dan menggesek kulit kakinya. Mata Pria sempat memicing, karena kaget dan rasa sakit yang mengecap kulitnya akibat goresan dari gergaji besi. Sayangnya itu cuma sebentar dan tak bertahan lama, karena detik berikutnya Pria merasakan sensasi yang luar biasa, ada rasa ngilu dikakinya, ada perih, ada gatal, ada darah, ada nikmat! Seperti seorang gadis yang pertama kali bercumbu dan disetubuhi oleh pacar yang sangat dicintainya, Yang ada hanyalah bayangan syurga yang indah, tak hirau ada sakit, tak hirau ada darah, tak hirau kehilangan keperawanan, tak hirau bahwa biasanya akan ada penyesalan di episode berikutnya.
Dengan setengah sadar Pria terus menggesekan gergaji besi pada kakinya, terlihat tangannya semakin kencang menggerakan tangannya maju mundur. Tak peduli walau tenaga semakin mengendur. Pria seperti sedang berada di arena tempur, dan tak mau kehilangan sedetik waktu untuk menggempur, sampai akhirnya lawan perlahan mundur. Sementara darah segar dan merah pekat mulai menetes membebas aliran. Pelan dan perlahan kulit kaki pria sudah robek, terlihat dangingnya yang merah mulai tebuka. Pria berfikir, mungkin inilah visualisasi hilangnya keperawanan gadis tadi, ditandai dengan robek selaput daranya.
Seperti tidak peduli dengan kakinya, Pria malah terus menggesek-gesekan gergaji besinya dengan semangat. Ada perasaan nikmat yang tak bisa di gambarkan, sampai akhirnya gerakan gergajinya pun terhenti. Pria merasakan ada benda keras tersentuh oleh mata gergajinya, dalam genangan darah dan bukaan daging kakinya sepintas terlihat benda keras berwarna putih seperti tulang. Ya! ternyata memang benar, itu adalah tulang kaki Pria.
“Ya ampun Yangku!!! Apa yang kamu lakuin?” Tiba-tiba Pria dikejutkan oleh suara perempuan yang tentunya Pria sudah sangat hafal itu suara siapa.
“Renjani? Sejak kapan kamu ada disitu?” Tanya Pria dengan tatapan mata yang aneh.
Tanpa menghiraukan pertanyaan Pria, dengan sigap Renjani mengeluarkan sapu tangannya kemudian langsung ditutupnya luka dikaki Pria. Tapi lukanya terus saja mengeluarkan darah tak mau berhenti, sampai sapu tangannya pun tak mampu menahan aliran darah dari luka di kaki Pria. Tanpa aba-aba Renjani langsung membuka Cardigan berwarna merah muda yang dipakainya kemudian dengan terampil Renjani membungkus luka di kaki Pria berusaha untuk menghentikan pendarahan. Tangtop warna putih yang dikenakan renjani pun berlumur darah, juga tangannya yang sudah berganti warna, kulit tangan renjani yang putih halus kini berwarna merah.
“Dari tadi aku berusaha menghubungimu, ponselmu tidak aktif! Aku khawatir, makanya aku langsung datang kesini! Sesampainya disini kamar kostmu terkunci, aku teriak-teriak memanggil kamu ga denger juga, sampai akhirnya inisiatif untuk mendobrak pintu kamarmu!”
“Untuk apa lagi kau datang kesini?”
“Lihat, apa yang terjadi pada dirimu sekarang! Kita bisa bicara baik-baik kan? Tolong jangan gegabah.. Aku Cinta Kamu!”
“Cinta? Cinta kita hanya akan menimbulkan derita Renjani! Cintaku selalu saja dikecewakan. Tak ada yang menyenangkan dalam rikuh kehidupanku. Cinta yang menurut sebagian besar orang membawa kebahagiaan tapi berbanding terbalik dengan apa yang aku rasakan saat ini. Mungkin juga akan kau rasakan nanti! Cintalah yang membelenggu kita, ketika dulu kita selalu berfikir dan bermimpi menemukan cita dari cinta kita bersama. Tapia pa? Ternyata kecewalah yang menjalar membentuk ornamen membelit tangan, kaki, pikiran juga hati kita. Dikerdilkan oleh realitas ketidakberdayaan dan kemiskinanku.”
“Kau ternyata pria lemah!! Tidak seperti Pria yang aku kenal diawal!”
Renjani menunduk lemah, dia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika dia harus hidup tanpa Pria, seorang pria yang sangat dicintainya. Tapi, dia juga tidak bisa memaksakan kehendak untuk tetap bersama kalau pada akhirnya tidak akan berbuah bahagia. Dan tiba-tiba Renjani bangkit, tangannya yang berlumur darah dengan secepat kilat merampas gergaji besi dari tangan pria.
“Renjani!! Apa yang kamu lakukan??”
Tanpa sempat menjawab Renjani langsung mengarahkan gergaji yang dirampas dari Pria ke lehernya. Renjani terus menggesek-gesekan gergaji itu hingga perlahan pipa tenggorokannya terputus. Darah segar menyembur seperti kran air yang jebol. Berceceran, menyemprot kesana kemari, Dinding yang belum dicat pun kini telah pekat merah oleh semburan darah Renjani.
“Renjani!!! Hentikan Renjani!!!”
Pria berteriak sekencang-kencangnya, suaranya seakan menembus dinding yang mengkotaki mereka, melesat kencang seakan sampai ke angkasa. Ke angkasa? Mengkin benar sampai ke angkasa, karena setelah itu tiba-tiba sinar putih datang memenuhi bangun kubus tak istimewa itu. Pria tak dapat melihat apa-apa, semuanya menjadi putih. Tak ada gambar. Tak ada suara.
Tapi tidak lama kemudian sinar putih itu mulai hilang seperti menguap. Pandangan Pria pun mulai pulih. Tapi, Pria tak menemukan Renjani disana, jangankan Renjani, bayangannya pun tidak! Tapi Pria benar-benar dikagetkan ketika meneliti ruangan yang sudah berubah menjadi kubus merah, dan yang lebih mengejutkan lagi, matanya menanggap gambar gergaji yang tergeletak di dekat kakinya. Gerjaji yang aku gunakan untuk menggerjaji kakiku, dan juga digunakanoleh Renjani untuk menggorok lehernya. Didekat gergaji itu terlihat ada tulisan yang ditulis dengan menggunakan darah:
‘Pria maaf aku telah pergi… mungkin tak akan pernah bisa kembali.. Gergaji ini adalah kunci, untuk melepaskanmu dari belenggu kakimu.’
“RENJANI!!!!!!!!!!”
****
Pria pun menyerah, kemudian memotong kakinya tanpa ekspresi gundah, juga tanpa amarah. Menanggalkan luka yang terbuka tanpa merasa berduka. Melepaskan belenggu yang mengganggu tanpa rasa ragu. Menghapuskan cinta yang hanya memberi derita! Tanpa pernah mau tahu apakah dia akan bisa bangkit, berdiri, kemudian lari, setelah ia tak lagi punya kaki!
(denyjoe at gudangkubus 15 April 2012, 02:07AM)