WEALTH

When wealth is lost, nothing is lost; when health is lost, something is lost; when character is lost, all is lost.

SEEKING

The real voyage of discovery consists not in seeking new landscapes, but in having new eyes.

SMOKE

One may have a blazing hearth in one's soul and yet no one ever came to sit by it. Passers-by see only a wisp of smoke from the chimney and continue on their way.

WEAPON

The most valuable possession you can own is an open heart. The most powerful weapon you can be is an instrument of peace.

SORENESS

Holding on to anger, resentment and hurt only gives you tense muscles, a headache and a sore jaw from clenching your teeth. Forgiveness gives you back the laughter and the lightness in your life.

Kamis, 11 Juli 2013

MENCINTAIMU

MENCINTAIMU
            Di tengah ratusan kenangan, diterpa luka yang tak kunjung tiba dalam kesembuhan. Merambat, menjulur-julur api menyerupai lidah yang bercabang. Dimana kebenaran dan kesalahan telah buram, kesakitan dan kesenangan saling mencumbu.
            "Lalu, bagaimana bisa aku tak mencumbui kedalamanmu, sementara telah enam musim ku gelindingkan hati, yang disakralkan! Tetap tidak kutemukan perempuan, yang ingin kujadikan ibu bagi anak-anakku, kecuali perempuan yang kucintai saat ini: karena itu kucintai kau, Dear!.”
            Raut muka yang layu, seakan tak jera mengukur dan menata kerut dahi. Dimana kecantikan itu? Aku melihatnya meski mata berhalang kabut. Meski retina tampak jelas bila berkaca. Bias sinar yang menembus celah kecil pupil, membawa hangat pencair kelu, pemusnah gelisah.
            Menggigil dalam tiap kedinginan, membutakan mata pada setiap tatapan. Merentangkan tali, memapah jejak yang buta, kemudian tercekik pada tali itu sendiri.
            ''Kerinduan yang berlumur duri, beterbangan bak siulan rajawali, bercipratan macam loreng macan kumbang, mengaum dan terbahak mencabik daging dalam bahagia, duri yang bahagia, rajawali yang bahagia, macan yang bahagia, tak berbanding dengan aku yang bahagia mencintaimu."
                                                                                    Denyjoe | 110713 | 10:19 | APR-KG

Rabu, 17 April 2013

SIAPA?

SIAPA?
(Sebuah Cerita Pendek Oleh : Deny Joe)


            “Siapakah dia? Sepertinya raut wajah itu tak asing buat saya. Lalu kenapa dia ada disini?”

****

            Dia masih terlihat tampan seperti kemarin, cuma kali ini dia agak sedikit urakan. Matanya juga agak merah,  Kenapa dengan matanya? Mungkin dia kebanyakan tidur, seharian tadi sebelum kita bertemu disini setiap kali saya tanya kegiatanya pasti dia bilang : “Nggak ngapa-ngapain, lagi tiduran aja!” atau mungkin akibat hawa panas dapur restoran ini yang menguap terbawa aliran angin dari Air Conditioner ke matanya? Mungkin juga karena pantulan cahaya yang mengenai jaketnya yang juga berwarna merah ? Atau mungkin karena saya?
            Dia masih memainkan jarinya,  dengan cara mematah-matahkan ruasnya. Saya pikir benar-benar patah karena beberapa kali saya mendengar bunyi “JTAK!” yang cukup kencang. Saya tak berani bicara. Matanya melirik kesana-kemari tapi dengan posisi kepala dan muka yang tidak bergerak sama sekali, yang terlihat hanya kerutan alisnya sesekali. Sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu. Mungkin sesuatu yang ada didalam pikirannya yang membuat matanya menjadi merah. Tapi apa? Mungkinkah saya?
            “Ini pesenan makanannya mbak.” Tiba-tiba seorang pelayan datang membawakan makanan yang saya pesan beberapa menit yang lalu.
            “Iya mbak terimakasih ya..” Jawab saya.
            Pelayan itu cuma menganggukkan wajahnya. Tapi sebelum berbalik pelayan sempat menoleh ke arah dia, dan dia cuma menyunggingkan senyumnya. Wah manis sekali senyuman itu. Sepertinya saya memang ingin sekali memiliki senyuman itu secara utuh. Agar setiap waktu bisa saya ciumi manis senyumnya.
            “Beneran kamu ga mau makan?” Sekali lagi saya menawarkan makan kepada dia. Jangan sampai nanti pertanyaan saya tentang matanya yang merah mendapat jawaban : Matanya merah karena dia berusaha menahan lapar.
            “Bener, kamu aja. Saya udah makan. minum saja!” dia menjawab pertanyaan saya singkat.
            “Yasudah.. Saya makan ya…”
            Kemudian saya mendekatkan piring makan saya dan mulai memakannya. Terlihat dia mengeluarkan sebungkus rokok dan mengambilnya satu batang, lalu menyulutnya. Dia tersenyum kepada saya. Kepalanya pun saya lihat bergerak manggut-manggut tak kencang mengikuti alunan lagu yang dibawakan oleh Home band yang penyanyinya berambut gondrong dengan setelan hitam berompi yang tentu saja saya kenal.

****

            “Siapakah dia? Sepertinya raut wajah itu tak asing buat saya. Lalu kenapa dia ada disini?”

****

            Saya dan dia bediri mematung didepan restoran yang masih ramai dengan pengunjung meski waktu sudah hinggap pada jam malam. Waktu serasa berhenti tak ada kata yang lagi terucap. Yang ada hanyalah bingung yang menyeruak masuk kedalam rongga dada saya. Saya dan dia tak berdaya. Lumayan lama kami terjebak dalam diam seribu bahasa. Terjebak dalam percakapan buntu. Yang ada hanyalah bisu.
            Saya terus diam menunggu mulutnya mengeluarkan suara. Menunggu dia bicara. Namun sesaat saya lihat kembali dia mengambil rokok dari saku kemejanya. Matanya masih tetap merah, tapi tangan dan bibirnya yang sedari tadi terlihat gemetar berangsur meledar. Ketika sesaat dia menghisap rokoknya dalam-dalam dan menghembuskan asapnya. Dia pun sedikit terlihat tenang.
            “Kamu saya antar pulang ya?” Gelondongan kebekuan seketika pecah dan mencair oleh pertanyaannya.
            Saya hanya tersenyum simpul menjawab pertanyaannya. Demi apapun sebenarnya saya tidak ingin pulang. Saya ingin tetap disini menatap matanya yang merah, menatap senyumnya yang manis, walaupun kuping saya kurang begitu puas dengan sikap dia yang dingin dan sedikit bicara. Tapi sesaat kemudian indera pendengar saya terasa kembali bekerja ketika dia mengulangi pertanyaannya.
            “Kamu saya antar pulang ya!!??” kali ini dengan suara agak lebih keras.
            “Tidak usah, saya pulang sendiri saja, lagian rumah saya tidak jauh kok dari sini.”
            “Udah ga usah nolak! Pokoknya kamu saya antar pulang ya!”
            Kembali saya tak bisa menjawab pertanyaannya, semoga senyuman saya bisa menjelaskan semuanya bahwa sebenarnya saya sangat ingin dia mengantar saya pulang sampai kerumah.
            “TAKSI!!!!!!!!!!!!!!”
****
            “Siapakah dia? Sepertinya raut wajah itu tak asing buat saya. Lalu kenapa dia ada disini?”

****

            Siapa dia sebenarnya. Kenapa walaupun saya baru saja bertemu dengan dia, tetapi seperti saya sudah lama mengenalnya. Yang paling aneh adalah kenapa sejenak baru saja dia pergi tiba-tiba saya merasa rindu? Kenapa saya merasa merasakan nyaman ketika saya ada didekatnya? Semoga ini bukan karena matanya yang merah.
            Saat-saat seperti ini sepertinya harus saya bungkus dengan mengucap beribu syukur. Meski seharian tadi saya merasa sangat tersiksa dengan rutinitas saya. Kuliah dan bekerja dibelakang meja dan mesin kasir yang seolah akan menelan saya. Saya juga berterima kasih kepada penyanyi berambut gondong direstoran tadi yang telah mengenalkan saya dengan dia. Rindu yang berubah resah semoga sampai kepadanya melalui angin malam ini yang membuat saya menggigil dingin. Dan semoga tempat tidur tua yang telah saya tiduri sejak kecil ini bisa membawa saya ke alam mimpi yang akan mempertemukan kembali saya dengan dia.
            Tapi sesaat ketika saya hendak memejamkan mata saya tiba-tiba terdengar ada yang mengetuk pintu kamar saya.
            “Iya bu….” Segera saja saya membukakan pintu kamar saya dan ternyata memang benar ibu saya telah berdiri di balik pintu.
            “Iya bu… ada apa?”
            “Siapa laki-laki yang mengantar kamu pulang tadi?”
            “Teman bu.”
            “Teman siapa?”
            “Teman saya bu.”
            “Kok ibu ga pernah lihat dia sebelumnya?”
            “Baru ketemu tadi bu!”
            “Ooohh… tapi kok ibu ngerasa ada yang aneh ya?” 
            “Maksud ibu?”
            “Iyaa.. maksudnya ibu kok seperti tidak asing dengan laki-laki itu.”
            “Tidak asing bagaimana? Memangnya ibu memperhatikan dia tadi?”
            “Iya.. ibu memperhatikannya. Siapa dia sebenarnya?”
            “Waah.. saya ga tau bu… sudah ya bu, saya ngantuk. Saya mau tidur dulu.”
            “Ya sudaaahh….!!!”

****

            “Siapakah dia? Sepertinya raut wajah itu tak asing buat saya. Lalu kenapa dia ada disini?”

****

            Saya duduk berhadap-hadapan dan menatap matanya dalam. Saya melihat ada masa lalu yang kelam. Saya melihat ada rangkaian cerita yang tersulam. saya merasa sebentar lagi saya akan dihantam oleh dendam yang sudah lama terpendam.
            “Kamu inget ga? Dua belas tahun lalu ketika kamu berumur delapan tahun, ibu menikah dengan orang yang sekarang menjadi papa kamu?” Setelah menelan roti yang ada didalam mulutnya dan meminum kopi yang sudah tidak mengepulkan uap, ibu mulai angkat bicara.
            “Iya bu, saya ingat! internal memori saya cukup mempuyai ruang untuk menyimpan itu.”
            “Kamu ingat siapa nama ayah kandung kamu?”
            “Saya sudah melupakannya bu. Bahkan saya sudah tidak ingin lagi mengingat lelaki keparat itu.”
            “Coba kamu ingat-ingat lagi.”
            “Untuk apa bu, saya tidak mau mengingat orang yang sudah menerlantarkan kita. Apa ibu lupa, dengan seenaknya dia mengencani ibu, menghamili ibu, dan karena takut sama istrinya dia lalu membuang kita! Tidak akan pernah sudi saya memanggil ayah kepada bajingan macam dia! Kenapa kita harus mengingatnya bu? Kita sudah bahagia sekarang. Papah walaupun bukan ayah kandung saya, dia baik sama saya seperti anaknya sendiri. Coba ibu bayangkan jika papah tidak ada? Ibu akan punya anak tanpa suami dan saya akan lahir tanpa ayah! Lelaki bajingan!!!! BANGSAT!!!!”
            Saya melihat mata ibu memerah. Tapi tidak sama dengan mata dia yang juga berwarna merah. Saya melihat ada luka lama disana, ada kelabu di mata ibu.
            “Kamu tidak tahu kan, kalau ayah kandungmu itu punya anak lelaki dari istrinya??”
            “Tidak tahu, kenapa memangnya? Lagi pula, untuk apa saya tahu?”
            “Dulu waktu ibu masih berhubungan dengan ayah kandungmu, ibu pernah bertemu dengan anaknya.”
            “Lalu….???”
            “Anaknya bernama Deni..”
            “Deni??”
            “Iya Deni Priatna!!”
****

            “Siapakah dia? Sepertinya raut wajah itu tak asing buat saya. Lalu kenapa dia ada disini?”

****

            “Heeiii bang.. maaf  ya telat, ini buku pesanannya..” Dengan segera saya meminta maaf kepada teman saya yang seorang penyanyi berambut gondrong dengan setelan hitam berompi.
            “Oh iya gapapa…wooww… mantaapp… berapa nih harus gue bayar?”
            “Ah.. elu bang,, santai aja… belum mulai bang acaranya??”
            “Belum bentar lagi mungkin, Oia lupa kenalin, ini temen gue Deni!”
            Dengan segera saya menyodorkan tangan saya kearah temannya yang tidak saya sadari sudah ada disana sejak tadi. Dia menyambut tangan saya dengan dengan jabatan tangan yang mantap.
            “Hallo gue Arien!”
            “Hey.. gue Deni, Deni Priatna. Nice to meet you!”
           
            (denyjoe at gudangkubus 25 Mei 2012, 3:09:13 am)

Senin, 21 Januari 2013

MENCECAR RINDU


Mencecar Rindu

Hari ini mungkin bukan hari biasanya..
Gunung yang menjulang dibelakang bayangan,
dalam kabut serupa rinduku yg semakin menjulang..

Tertanam bak kecambah yg merambat,
mengikat kelu yg membeku bersama dinginnya awan rendah..

"Aku cinta kamu dear" dalam gemetar bibir yg tak kuasa menahan dingin cuma itu menjalar dalam pita suara yg bergetar..

 Tak ada gitar yg mendentingkan canda terdengar..
Yang ada hanya bingar serangga yg menggambar rindu mencecar..
Dalam nafas sesak terkapar terus berkoar: "Aku rindu kamu dear"

(Denyjoe at Cipajang ; Agustus 2012)

Kamis, 10 Januari 2013

GOOD MORNING, I LOVE YOU.

GOOD MORNING, I LOVE YOU.

Masih terbaring lemas.. meski telah delapan jam aku mencumbu mimpi..
Kelopak mata seperti tertimbun embun dengan hawa yang menyeruak dingin..
Benar saja, entah dalam rangka apa air berjatuhan dengan liarnya..
kata ibuku "sudah sedari dini hari tadi, dan hujan tak tahu diri, sudah siang masih saja menari!"
Bagaimana aku bisa membangunkanmu istana yang teramat megah ketika aku mendogmakan mimpi kepadamu.. sementara untuk membukakan mata saja aku enggan, mendongakkan kepala saja aku segan, membangkitkan tubuh aku tak mau!

Ya.. aku telah terbiasa terjaga dengan ciumanmu..
Ya.. aku telah terbiasa terjaga dengan bisik cintamu..
Ya.. aku telah terbiasa terjaga dengan aroma kafein seduhanmu..

Dimana kamu sekarang? sudah waktunya kamu membangunkanku!
Demi apapun aku tak akan kuat jika harus melewati detik yang berlalu melewati masa ketika waktunya kau menciumku..
Deru suara bising bercampur gemercik yang semakin nyaring!
Sakitnya mata yang baru saja aku paksa membuka, seketika melihatmu kuyup menggigil..
"Apa yang harus aku lakukan?"

Aku akan mengunyah serbuk teh tanpa air, membiarkan sarinya bercampur dengan liurku, mengumpulkannya persekian mililiter..
Lihatlah.. bibirnya bergetar! sudah dapat kutebak gigi didalam mulutnya gemeretak!
Sini sayang.. aku akan menciummu, memberikan sari teh yang telah terkumpul dimulutku..
Mari kita nikmati seduhan teh dalam dua mulut yang menyatu, biarkan hangatnya kita yang ciptakan sendiri!
"SELAMAT PAGI DEAR, AKU MENCINTAIMU!"
(Denyjoe | APR-KG 100113)

Jumat, 04 Januari 2013

KE(TI)ADAAN




KE(TI)ADAAN

Maafkan…
Jika mata yang terlalu sering kau puja, pun terkadang buta.
Tak bisa melihat riak yang memanggil..
membiaskan gelisah yang hendak diutarakan.
Tak bisa memandang gesitnya pedang yang menghadang,
Mengaburkan cahaya, menghentikanmu berdendang.

Maafkan…
Jika telinga yang kau jadikan tumpuan berkeluh-kesah, pun terkadang tuli.
Tak bisa mendengar desau pilu..
Tercocok pasak ego yang meraung tak jua urung.
Tak bisa menangkap gelombang resah yang membuncah,
Memekak dalam rindu yang kering, tak satu kata pun akhirnya yang tersaring.

Maafkan…
Jika hati yang selalu kau peluk mesra, pun terkadang tak merasa.
Tak bisa peka, meski gerakmu kau tunjukan tepat dibulatnya retina.
Tak bisa refleks, meski sekuat tenaga kau berteriak, mendorong suara dan telinga agar saling bergesek.

Maafkan…
Maafkan aku…
Maafkan aku Dear!

(Denyjoe at Gudangkubus 23:21 / 030113)

Kamis, 03 Januari 2013

GERBANG PENDOSA

GERBANG PENDOSA

Diawal gerbang ketika jalan menuju neraka kembali terbuka..
Aku juga kau masih berhimpitan saling menghangatkan..
Nanti saja kita buka mata kita saat kita sudah mulai lupa apa itu dosa..
Diam mematung menelanjangi mata yang sedari tadi enggan berkata..
Sesaat kau menjelma menjadi kelembutan, biarkan lidahku menjilatimu tak berhenti!

Diawal gerbang ketika dunia ini kembali membentuk usia..
Biarkan aku lupa, biarkan aku buta, biarkan aku menjadi lakhnat!
Karena aku tak mau mengingat dimana kita saat ini berada,
walau aku tahu ini adalah wangi neraka..
Karena aku tak mau melihat seperti apa muka kita yang tertumpuk cela,
walau aku tahu banyak bopeng tak bermaaf..
Karena yang aku tahu bersamamu adalah nikmat!

Diawal gerbang perjalanan ketika langkah kita tak lagi menemukan arah..
Biarkan kita lemas dan meleleh saat panas neraka ini mulai memanggang..
Tak bisa ku beri surga meski dalam setiap kata yang kusuarakan telah menjanjikannya..
Taman tempat kita merebahkan diri dalam ketelanjangan telah menjadi rimba..
Maka jangan halangi kami yang ingin terus menjadi besar,
meski dalam jalannya kami akan bertindak liar..

Selamat Tahun Baru.

(Denyjoe | Januari 2013)