Senin, 09 Maret 2015

MATIKAN (SEREBRAL)

MATIKAN (SEREBRAL)



            Tubuh ini kini hanyalah kerangka kekosongan, kau dengan begitu saja pergi membawa serta semua isinya. Aku bisa apa? Kuasa yang menjulang-julang tinggi mencakar langit tak bisa lagi merengkuh hatimu yang terbang bersama awan yang lebih tinggi. Membentuk pelangi, mewarnai langit. Sementara lukisanku yang sebentar lagi selesai, kau tinggalkan dan kau biarkan hitam kelam tanpa warna. Tanpa keindahan, yang sebelumnya dengan sangat hati-hati kita warnai.
Dimana kau? Sejuta jalan telah dengan sabarnya kutelusuri. Tak juga kutemui dirimu yang tengah bersembunyi.
Dimana kau? Sejuta cara telah kucoba untuk kembali membuka hatimu yang telah terkunci. Tak juga kau biarkan aku masuk meski telah kuhabiskan semua anak kunci.
            Langkah demi langkah telah dan terus dikerah. Hingga kaki berlumur lebam, dan berselimut darah. Aku tak kuat lagi berjalan dan terlalu lelah. Tak ada lagi yang memapah meski seumur hidup telah diabdikan untuk memapah.
Dimana kau mataku? Aku tak bisa lagi melihat meski mata elang telah diwariskan ibuku sebagai buah kasih dengan bapakkku.
Dimana kau telingaku? Aku tak bisa lagi mendengar meski telinga lumba-lumba dengan kekuatan mendengar ultrasonic seperti diajarkan bapakku yang selalu peka mendengar gelisah ibuku.
            Semua indera kini telah mati. Mungkin akupun telah mati.
            Ya, sebenarnya aku telah mati, ketika kau putuskan untuk pergi dan tak kembali : nyawaku. Tapi kau harus percaya, bawa yang tak akan mati dan akan terus hidup abadi adalah rinduku, adalah cintaku. Dan jikalau itu semua pun harus mati, tak apa. Karena telah kuputuskan bahwa hanya kau yang berhak membunuh cintaku, mematikan rinduku.
            Biar rindu ini akan ku lunasi dengan menunggumu dalam himpitan sesak tanah dimana aku telah menyatu dengan muasalku. Diantara nisan yang bertulis namaku, nama yang sama seperti dulu orangtuaku menuliskannya di akta kelahiranku. Semoga bisa terukir namaku dalam sebuah batu keabadian, seperti ku pahat juga namamu di dinding jantung hati penuh haru, dan rindu yang memburu.

Denyjoe | Gudangkubus, 6 Maret 2015 | 12:49am

0 komentar: