MATIKAN (SEREBRAL)
Tubuh ini kini hanyalah kerangka
kekosongan, kau dengan begitu saja pergi membawa serta semua isinya. Aku bisa
apa? Kuasa yang menjulang-julang tinggi mencakar langit tak bisa lagi merengkuh
hatimu yang terbang bersama awan yang lebih tinggi. Membentuk pelangi, mewarnai
langit. Sementara lukisanku yang sebentar lagi selesai, kau tinggalkan dan kau
biarkan hitam kelam tanpa warna. Tanpa keindahan, yang sebelumnya dengan sangat
hati-hati kita warnai.
Dimana kau? Sejuta
jalan telah dengan sabarnya kutelusuri. Tak juga kutemui dirimu yang tengah
bersembunyi.
Dimana kau? Sejuta cara
telah kucoba untuk kembali membuka hatimu yang telah terkunci. Tak juga kau
biarkan aku masuk meski telah kuhabiskan semua anak kunci.
Langkah demi langkah telah dan terus
dikerah. Hingga kaki berlumur lebam, dan berselimut darah. Aku tak kuat lagi
berjalan dan terlalu lelah. Tak ada lagi yang memapah meski seumur hidup telah
diabdikan untuk memapah.
Dimana kau mataku? Aku
tak bisa lagi melihat meski mata elang telah diwariskan ibuku sebagai buah
kasih dengan bapakkku.
Dimana kau telingaku?
Aku tak bisa lagi mendengar meski telinga lumba-lumba dengan kekuatan mendengar
ultrasonic seperti diajarkan bapakku yang selalu peka mendengar gelisah ibuku.
Semua
indera kini telah mati. Mungkin akupun telah mati.
Ya, sebenarnya aku telah mati,
ketika kau putuskan untuk pergi dan tak kembali : nyawaku. Tapi kau harus
percaya, bawa yang tak akan mati dan akan terus hidup abadi adalah rinduku,
adalah cintaku. Dan jikalau itu semua pun harus mati, tak apa. Karena telah
kuputuskan bahwa hanya kau yang berhak membunuh cintaku, mematikan rinduku.
Biar rindu ini akan ku lunasi dengan
menunggumu dalam himpitan sesak tanah dimana aku telah menyatu dengan muasalku.
Diantara nisan yang bertulis namaku, nama yang sama seperti dulu orangtuaku
menuliskannya di akta kelahiranku. Semoga bisa terukir namaku dalam sebuah batu
keabadian, seperti ku pahat juga namamu di dinding jantung hati penuh haru, dan
rindu yang memburu.
Denyjoe
| Gudangkubus, 6 Maret 2015 | 12:49am




0 komentar:
Posting Komentar