KARAT BELATI : MENIKAMMU MEMBUNUHKU.
Secoretan
celoteh, kolaborasi Shally Kabelen dan Deny Joe
Aku ingin membunuhmu, melibaskan ujung kesakitanku tepat
dihatimu. Deru deru pelurumu mengoyakku, Telah jatuh tersungkur aku disana
sembari menatap kekejianmu yang terus menghunus lukaku. Aku telah menyiapkan
belati di balik gaunku, dan menggenggamnya tanpa gemetar. Gaun yang aku pakai
saat kita berlutut di bawah atlar, dalam janji suci yang terdengar menggelegar.
Aku tak tahu, kalau ternyata kepedihan dan luka yang kau antar. Aku menghadapimu
tanpa gentar, berharap suatu ketika ada sejuntai bahagia terhampar.
Sayang, ini adalah
belati yang selalu aku pakai untuk mengupas buah apel kesukaanmu. Kini akan aku
gunakan juga untuk mengupas kulit kepalamu, membelah tengkorak kepalamu, mengeluarkan
otakmu, kemudian ku hujamkan disela dadamu tanpa henti hingga jemu.
Perempuan kuat dan tak terkalahkan, adalah perempuan yang
menyimpan dendam. Itu aku, dan kini kamu berhadapan denganku. Ah, seandainya
aku bisa menjadi aku yang seperti itu, aku yang berani menghapus jiwamu dalam
kecintaanku akan kamu. Belatiku hanya bisa kuacungkan pada segelintir ingatanku
tentangmu, tapi tahukah kamu, membinasakan senyummu dari ingatanku saja aku tak
mampu. Aku terlalu membiarkan kamu melenggang dalam pikirku.
Beri aku waktu sebanyak kamu memberi
dirimu waktu untuk menggores tangisku. Yang terberani memporak porandakan isi
kepalamu dengan belatiku. Yang paling terdendam dengan eksistensimu.
Dalam rongga kepala yang kini menyempit. Ingatanku atas
lakumu masih saja mengapit. Sementara tangisku yang mengaing seperti anjing
yang terjepit, telah berubah menjadi lolongan serigala purnama yang menjerit.
Hembus nafas pedulimu kini semakin semu. Aku semakin ingin mematikanmu. Kamu,
dengan kejimu telah membuat riwayat hidupku menjadi gawat. Kini, kubiarkan
belati di balik gaunku diselimuti karat. Agar perih saat aku perlahan-lahan
menyayat, membawamu musnah dengan perih yang sama sampai ke akhirat.
Sebenarnya ada dimana letakku, mencintaimu atau
membencimu? Keduanya sama sama merajaiku dalam satu waktu. Aku ingin membunuhmu
sekaligus aku ingin mengecupmu dengan gemerlap kerancuan rasaku.
Berdiri disitu! Diam disitu! Dan
berpura pura tetap mencintaiku sampai kebencian berhasil menentukan pilihan
untuk membunuh atau menikmatimu.
__________
Jogjakarta-Bekasi,
Agustus 2016








