Jumat, 05 Agustus 2016

KARAT BELATI : MENIKAMMU MEMBUNUHKU



KARAT BELATI : MENIKAMMU MEMBUNUHKU.
Secoretan celoteh, kolaborasi Shally Kabelen dan Deny Joe

            Aku ingin membunuhmu, melibaskan ujung kesakitanku tepat dihatimu. Deru deru pelurumu mengoyakku, Telah jatuh tersungkur aku disana sembari menatap kekejianmu yang terus menghunus lukaku. Aku telah menyiapkan belati di balik gaunku, dan menggenggamnya tanpa gemetar. Gaun yang aku pakai saat kita berlutut di bawah atlar, dalam janji suci yang terdengar menggelegar. Aku tak tahu, kalau ternyata kepedihan dan luka yang kau antar. Aku menghadapimu tanpa gentar, berharap suatu ketika ada sejuntai bahagia terhampar.
            Sayang, ini adalah belati yang selalu aku pakai untuk mengupas buah apel kesukaanmu. Kini akan aku gunakan juga untuk mengupas kulit kepalamu, membelah tengkorak kepalamu, mengeluarkan otakmu, kemudian ku hujamkan disela dadamu tanpa henti hingga jemu.
            Perempuan kuat dan tak terkalahkan, adalah perempuan yang menyimpan dendam. Itu aku, dan kini kamu berhadapan denganku. Ah, seandainya aku bisa menjadi aku yang seperti itu, aku yang berani menghapus jiwamu dalam kecintaanku akan kamu. Belatiku hanya bisa kuacungkan pada segelintir ingatanku tentangmu, tapi tahukah kamu, membinasakan senyummu dari ingatanku saja aku tak mampu. Aku terlalu membiarkan kamu melenggang dalam pikirku.
            Beri aku waktu sebanyak kamu memberi dirimu waktu untuk menggores tangisku. Yang terberani memporak porandakan isi kepalamu dengan belatiku. Yang paling terdendam dengan eksistensimu.
            Dalam rongga kepala yang kini menyempit. Ingatanku atas lakumu masih saja mengapit. Sementara tangisku yang mengaing seperti anjing yang terjepit, telah berubah menjadi lolongan serigala purnama yang menjerit. Hembus nafas pedulimu kini semakin semu. Aku semakin ingin mematikanmu. Kamu, dengan kejimu telah membuat riwayat hidupku menjadi gawat. Kini, kubiarkan belati di balik gaunku diselimuti karat. Agar perih saat aku perlahan-lahan menyayat, membawamu musnah dengan perih yang sama sampai ke akhirat.
            Sebenarnya ada dimana letakku, mencintaimu atau membencimu? Keduanya sama sama merajaiku dalam satu waktu. Aku ingin membunuhmu sekaligus aku ingin mengecupmu dengan gemerlap kerancuan rasaku.
            Berdiri disitu! Diam disitu! Dan berpura pura tetap mencintaiku sampai kebencian berhasil menentukan pilihan untuk membunuh atau menikmatimu.
 __________
Jogjakarta-Bekasi, Agustus 2016

0 komentar: