CERITA OBOR
Sebuah cerita pendek oleh : Denyjoe
Yang
saya ingat, dia ingin menyalakan saya, dia ingin membakar saya.
Saya
terbuat dari bambu yang rapuh, minyak tak banyak, dan sumbu yang cepat sekali
menjadi abu. Saya belajar menjadikan apa yang ada dalam diri saya sebagai
sebuah kekuatan, kekuatan untuk membakar diri, kekuatan untuk memberikan cahaya
untuk dunia saya yang memang gelap dan penuh ketakutan.
Tak
begitu ingat, yang masih membekas dalam ingatan saya ada sepasang kekasih dalam
gemerlap dunianya ingin membuat pelita, apa daya tangan mereka hanya dapat
merengkuh bambu, memotongnya, memberi sumbu dan kemudian memberi minyak. Ya,
mereka hanya bisa menciptakan saya. Menciptakan obor. Tapi entah dengan alasan
apa beberapa waktu selanjutnya saya dipaksa mencari api sendiri, api yang
seharusnya diberikan oleh orang yang telah membuat saya. Saya tak bisa protes,
apalagi kompromi. Mereka pergi tanpa ada satu diantaranya yang peduli dengan
keberadaan saya, kenapa saya dibuat jika untuk diacuhkan, kenapa saya diadakan
jika hanya dihadiahi ketidakpedulian. Saya tak pernah diberi api, jangankan
api, kehangatanpun tidak. Saya membeku dalam lanjutannya kemudian.
“Apakah
saya ditakdirkan untuk tidak benderang?”
Saya
mencemooh diri yang dirasa tak sepatutnya pudar, ketika pameran cahaya terang
berkelip-kelip indah dari ujung kiraban api sebaya saya. Berontak tak kuasa,
menjerit payah tak juga tersuarakan meski resah. Saya benar-benar ingin
membelah bambu tubuh saya, merautnya tipis, menjadikannya hinis. Mengiris nadi
dilengan kiri tanpa miris. Dapatkah saya melakukanya? Sementara buliran air
yang mengalir melalui tangis dengan leluasa memadamkan bara saya. Saya tak
pernah meminta untuk menjadi pelita, pun tak pernah meminta untuk menjadi
jelita. Ya, saya ada karena perbuatan mereka yang percaya bahwa pelita hadir
sebagai balasan setimpal dari para pecinta. Percaya saja, yang justru ada tanpa
diminta dari cinta adalah derita.
Saya
masih ingat, dia ingin menyalakan saya, dia ingin membakar saya.
Menyusuri
setapak tak berjalur, berliku tak terukur. Memapah langkah yang lemah bertudung
amarah. Tanpa henti saya mencermati bagaimana jadinya jika sumbu saya tersulut
api? Menyalakah? Terangkah? Atau tak bereaksi ketika sumbu saya memang teramat
basah, bukan dengan minyak tapi air mata yang kerap membuncah. Bagaimanapun,
tentu saja saya mengandung minyak, bahkan dengan tambahan energi yang banyak
bisa saja saya meledak. Itu saya
tak ingin, saya cuma mau saya disulut api yang tepat, menyala tanpa terhambat,
dan menerangi dengan penuh rasa hormat sampai riwayat benar-benar tamat.
Saya masih mencoba belajar memaknai banyaknya pilihan
api. Adakah diantaranya yang akan membebaskan saya dari kengerian sepi, adakah
yang akan menghadiahi saya bahagia tak bertepi, adakah yang akan memberikan
saya keikhlasan tanpa tapi. Satu persatu perlahan mengurut jenisnya, mencoba
mengenali , meski pada akhirnya tangan saya seakan terbakar seringkali. Panas
sekali.
“Hey..
Saya adalah api yang pantas berkibar dalam mahkotamu!”
“Hey..
Saya adalah api yang dengan benar akan membuatmu bersinar!”
Sungguh tak pandainya saya memilih api. Lihatlah,
beberapa bagian tubuh menghitam oleh buruknya perlakuan saya terhadap beberapa
api yang mencoba menawarkan dirinya sebagai peredam dendam. Tak jarang juga
saya benar benar terbakar, dalam balutan janji-janji api yang masih saja
mengandung ingkar.
Akan
selalu saya ingat, dia ingin menyalakan saya, dia ingin membakar saya.
Adalah
api dengan sabarnya mencairkan kebekuan saya, dengan tekunnya menghangatkan
kedinginan saya, dengan tulusnya mengajarkan saya makna cahaya. Benarlah api,
meski dengan begitu sabarnya Ia, ternyata saya sudah tenggelam dalam kebekuan,
meski dengan tekunnya Ia, saya masih bertanya seberapa pentingnya cahaya.
Terlalu bebal tubuh saya membangun kepekaan, mungkin saya butuh tumbal hingga
rongga-rongga tubuh saya yang terbakar bisa benar-benar rapat tertambal.
Adalah
api yang dengan sepengetahuan saya bukan berasal dari matahari, tapi kemilaunya
benar-benar mampu menembus jantung saya bagai ribuan panah berduri. Maka dengan
sadarnya saya kemudian berkeinginan menghampiri, berkeinginan memahami,
berkeingginan menguasai, berkeinginan memiliki. Saya memang ingin semua bagian
dalam diri saya terisi dengan sebuah makna yang pasti, dengan sebuah kegunaan
yang bisa diandalkan. Mungkin dengannyalah saya bisa dengan sebenar-benarnya
menjadi diri saya, menjadi obor yang berkibar penuh gagah memancarkan cahaya.
Menjadi pelita.
“Ini
semua karena kau! Saya tak pernah bisa membayangkan bagaimana jadinya saya jika
tak pernah ada jumpa dengan kau, Api”
“Kini
kau telah menjadi dirimu, saya tak merasa berjasa karena saya hanya melakukan
apa yang seharusnya saya lakukan. Maka kubiarkan kau menjadi dirimu.”
Lihatlah,
ujung sumbu saya menyala berkobar-kobar mengandung ribuan cahaya yang
bertebaran, pandangan mata menjadi semakin panjang meski waktu semakin karam
dalam malam. Saya tak menyangka bahwa akan ada api yang benar-benar bisa pas
dengan karakter minyak dan sumbu saya. Api ini tak hanya memberikan terang bagi
jalan saya, tapi juga memberi tenang dengan hangatnya. Saya telah menyala. Saya
telah bahagia.
Dia
tidak ingin menyalakan saya, dia hanya ingin membakar saya.
Dasar
bambu dan sumbu yang mudah sekali menjadi abu, dasar minyak yang mudah sekali
hilang, habis dan tak lagi tampak. Perlahan saya membatasi tubuh saya dari apa
yang sebenarnya dulu saya impikan. Saya tak lagi hirau dengan cahaya yang saya
ciptakan bersamanya. Saya tak lagi peduli dengan semua kehangatan yang saya
juga ciptakan bersamanya.
“Kita
ini obor, tak akan ada gunanya api jika tanpa kita, mereka hanya akan berubah
menjadi bencana.”
Ya,
saya mulai tergerus dengan egoisme saya bahwa sayalah yang paling berperan
menciptakan cahaya. Sayalah yang membuat api benar-benar bertahan menyala. Jadi
cahaya itu milik saya, kehangatan itu punya saya.
Tak akan saya sesali, dia telah menyalakan saya, dan
saya telah menjadi cahaya.
___________denyjoe 2015










